[Liputan Terlarang] Hampir Separuh Perusahaan Tercatat di Tiongkok Merugi, Vanke Jadi “Raja Rugi” Saham A

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, seluruh perusahaan tercatat di pasar saham A Tiongkok (A-share) telah merampungkan pengungkapan prakiraan kinerja tahunan mereka. Data menunjukkan bahwa dari hampir 3.000 perusahaan tercatat, hampir separuh diperkirakan mengalami kerugian. Sektor properti menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan Vanke mencatat kerugian terbesar dan menjadi “raja rugi” di pasar saham A. Para ekonom menilai kondisi ini bukan sekadar persoalan manajemen perusahaan, melainkan cerminan dari perlambatan ekonomi Tiongkok dan menumpuknya persoalan struktural.

EtIndonesia. Hingga 6 Februari, sebanyak 2.957 perusahaan A-share telah merilis laporan prakiraan kinerja tahunan. Dari jumlah tersebut, 1.442 perusahaan diperkirakan merugi, atau sekitar 49 persen. Jika digabungkan dengan perusahaan yang memprediksi penurunan laba, total perusahaan dengan kinerja menurun atau merugi mencapai 1.863, atau sekitar 63 persen.

Dilihat dari distribusi sektoral, industri properti, layanan TI, dan pengembangan perangkat lunak menjadi sektor dengan konsentrasi kerugian tertinggi. 

Berdasarkan data penyedia layanan keuangan Wind, jumlah perusahaan yang diperkirakan merugi di sektor layanan TI dan pengembangan perangkat lunak masing-masing mencapai 60 perusahaan; sektor properti 54 perusahaan; dan sektor semikonduktor 50 perusahaan.

Profesor Xie Tian dari Darla Moore School of Business, University of South Carolina, Amerika Serikat, mengatakan bahwa kerugian ini terutama disebabkan oleh resesi ekonomi Tiongkok yang serius, bahkan berpotensi menuju depresi besar.

 “Dalam kondisi resesi dan depresi yang berkelanjutan seperti ini, buruknya kinerja perusahaan hingga terjadinya kerugian atau kebangkrutan merupakan fenomena yang sangat umum,” ujarnya.

Di antara seluruh sektor yang merugi, properti menjadi yang paling parah, dengan nilai kerugian masuk lima besar tertinggi di antara perusahaan tercatat. Vanke diperkirakan merugi sekitar 820 miliar yuan, menempati posisi pertama. Sementara itu, China Fortune Land Development dan Greenland Holdings berada di posisi kedua dan ketiga, dengan estimasi kerugian masing-masing sekitar 160–240 miliar yuan dan 160–190 miliar yuan.

Para akademisi menilai, kerugian besar-besaran pada perusahaan tercatat mencerminkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang bersamaan dengan memburuknya persoalan struktural.

Profesor Sun Guoxiang dari Departemen Urusan Internasional dan Bisnis, Universitas Nanhua, Taiwan, menyatakan bahwa hampir separuh perusahaan tercatat diperkirakan merugi pada 2025, menunjukkan penurunan kemampuan laba secara menyeluruh.

 “Ini bukan hanya akibat lemahnya permintaan makro, tetapi juga dampak struktural dari deleveraging sektor properti, pembersihan kapasitas di sektor manufaktur, serta tertundanya imbal hasil investasi teknologi,” jelasnya.

Sun Guoxiang menambahkan bahwa sifat kerugian berbeda antar industri.

 “Kerugian terkonsentrasi di sektor properti, layanan TI, semikonduktor, dan farmasi kimia. Properti menghadapi tantangan struktural jangka panjang, sementara sektor teknologi merupakan campuran antara penyesuaian siklus dan transformasi struktural,” katanya. 

“Penjualan properti telah anjlok selama bertahun-tahun, dan investasi turun hampir 20 persen. Perusahaan besar seperti Vanke yang merugi ratusan miliar yuan pada dasarnya mencerminkan runtuhnya model bisnis berbasis utang tinggi,” tambahnya.

Ia juga menilai bahwa perubahan struktur demografi Tiongkok serta kebijakan “perumahan untuk dihuni, bukan untuk spekulasi” telah menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga sektor properti sulit kembali ke pertumbuhan tinggi dan hanya dapat bergerak menuju konsolidasi serta transformasi fungsional.

Sebaliknya, menurut Sun, sektor layanan TI, semikonduktor, dan farmasi kimia menghadapi masalah akibat ekspansi berlebihan pada fase awal substitusi impor yang didorong modal, sementara permintaan aktual tidak sesuai harapan, ditambah sanksi luar negeri dan tekanan harga dari kebijakan pengadaan terpusat.

 “Dalam jangka pendek, ini merupakan pembersihan siklus. Dalam jangka panjang, sektor ini masih mendapat dukungan kebijakan, namun model keuntungan harus beralih dari pertumbuhan kasar ke pengelolaan yang lebih presisi. Perbedaannya, sektor properti menghadapi puncak permintaan, sedangkan sektor teknologi menghadapi kelebihan pasokan serta tantangan peningkatan teknologi,” katanya.

Vanke, sebagai salah satu perusahaan properti terbesar di Tiongkok, dinilai oleh kalangan industri sebagai contoh paling representatif dari fase penyesuaian mendalam sektor properti. Kerugian besar Vanke dianggap sebagai simbol runtuhnya model lama industri properti.

Xie Tian menjelaskan bahwa kerugian di sektor properti terjadi karena anjloknya penjualan rumah.

“Ketika tidak ada orang yang membeli rumah, harga properti pun turun, dan keuntungan perusahaan properti ikut merosot. Kerugian di sektor teknologi, baik teknologi tinggi maupun rendah, pada akhirnya juga terkait dengan permintaan konsumen. Jika konsumen tidak membeli, seluruh rantai pasok akan menghadapi kerugian,” ujarnya.

Para pakar menilai bahwa kerugian besar-besaran perusahaan tercatat merupakan dampak dari resesi ekonomi Tiongkok secara menyeluruh, sehingga hampir semua perusahaan terdampak.

Xie Tian menambahkan,  “Faktor kuncinya adalah penurunan jumlah penduduk dan melemahnya permintaan, ditambah memburuknya lingkungan ekonomi dan perdagangan global. Karena itu, kerugian besar-besaran pada perusahaan Tiongkok kemungkinan masih akan berlanjut untuk beberapa waktu.”

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus melemah. Arus modal domestik keluar dan penarikan investasi asing telah menjadi tren, disertai gelombang penutupan perusahaan yang terus berulang. Pada paruh pertama tahun lalu saja, lebih dari 6.000 perusahaan semikonduktor dilaporkan tutup.

Analisis menyebutkan bahwa rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga, menurunnya efektivitas marjinal investasi, lemahnya permintaan domestik, serta melemahnya permintaan eksternal telah mengguncang fondasi ekonomi Tiongkok, sehingga prospeknya dinilai suram.

Editor/Wawancara: Li Yun, Pascaproduksi: Tony


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Yessy Gusman Beri Pandangan dan Dukungan bagi Generasi Muda di Era Modern
• 2 menit lalugrid.id
thumb
Survei Indikator: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Prabowo Capai 79,9 Persen
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Valencia akan Beri Ujian Berat untuk Madrid
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Warga Vietnam sampai Tak Percaya, Timnas Futsal Indonesia Bikin Iran Kelabakan di Final Piala Asia 2026: Sangat Berani
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Gelar Rapat Evaluasi Kinerja TNI Polri di Istana Kepresidenan
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.