Punya Uang, Tapi Takut Belanja: Ini yang Terjadi pada Konsumen Indonesia

suara.com
8 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Daya beli masyarakat Indonesia tumbuh, namun perilaku konsumsi tertahan karena meningkatnya tekanan biaya hidup dan ketidakpastian.
  • Pertumbuhan konsumsi rumah tangga agregat stabil antara 2023-2025, menunjukkan permintaan domestik masih menopang ekonomi nasional.
  • Upah riil pekerja terkontraksi pada paruh kedua 2025 karena inflasi melampaui kenaikan nominal upah.

Suara.com - Daya beli masyarakat Indonesia dinilai masih tumbuh dan terjaga, namun perilaku konsumsi justru semakin tertahan. Masyarakat kini cenderung menahan belanja bukan karena kekurangan uang, melainkan akibat meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta sikap kehati-hatian pascapandemi.

Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, mengatakan kondisi ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang lebih defensif dalam mengelola keuangan rumah tangga.

"Dari hasil riset yang kami lakukan, daya beli memang ada dan tumbuh, tapi masyarakat kini lebih memilih bersikap defensive. Mereka menahan konsumsi bukan karena tidak punya uang, melainkan lebih memprioritaskan keamanan finansial karena ketidakpastian ekonomi di masa depan,” ujar Sandy dalam keterangannya ditulis Senin (9/2/2026).

Konsumsi rumah tangga secara agregat dinilai memang masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Pada periode 2023–2024, pertumbuhan konsumsi tercatat berada di kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen (year on year/yoy), dan bertahan di level 4,98 persen sepanjang 2025.

Menurut Sandy, angka tersebut menandakan bahwa ekonomi domestik belum mengalami pelemahan signifikan dan permintaan dalam negeri masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun demikian, tekanan mulai terlihat dari sisi pendapatan masyarakat. Pada paruh kedua 2025, upah riil pekerja mulai terkontraksi seiring kenaikan upah yang tidak lagi mampu mengimbangi inflasi.

Data Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi yang mencapai 2,31 persen (yoy).

“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar -0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” ungkap Sandy.

Tekanan serupa juga tercermin dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang dirilis Bank Indonesia. Meskipun masih berada di atas level 100, indeks tersebut melemah cukup tajam pada paruh kedua 2025 sebelum mengalami pemulihan terbatas di akhir tahun.

Baca Juga: POV: Jadi Member ShopeeVIP

“Hal ini mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup,” jelasnya.

Sandy menegaskan, tantangan utama ke depan bukan sekadar menjaga konsumsi tetap berjalan, melainkan memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih kuat dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Intip Profil Lengkap Eca Aura, Anak Sultan Malang yang Heboh Diduga Simpan Tabung Pink
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Prabowo Puji Peran Sejarah NU Jaga Kedaulatan Negara
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PHEV Wuling Eksion Cocok untuk Perjalanan Jauh? Ini Alasannya
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
SAR UNM Terima Penghargaan Pemprov Sulsel atas Dedikasi dalam Operasi Kemanusiaan
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Menteri Investasi Buka Suara Soal Peralihan Tambang Emas Martabe ke Perminas
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.