Jakarta, VIVA – Video yang menarasikan dugaan penyekapan terhadap lima pegawai jasa ekspedisi di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, mendadak viral dan memicu kegaduhan di media sosial.
Polisi pun turun tangan membuka tabir peristiwa yang disebut-sebut berkaitan dengan dugaan penggelapan barang bernilai ratusan juta rupiah. Dalam video yang beredar luas, lima pegawai disebut menjadi korban penyekapan setelah dituding terlibat penggelapan barang milik konsumen.
Narasi video menyebut, peristiwa bermula saat para pegawai itu dijebak oleh seorang sopir ketika tengah memuat barang. Mereka kemudian diminta bertanggung jawab secara finansial.
“Jadi sama orang berlima ini nurut lah, orang disuruh masa gamau. Jadi dipindahin, enggak tahunya itu barang digelapkan sama sopirnya sudah berkali-kaki senilai Rp300 juta. Nah akhirnya ketahuan sama perusahaan orang berlima ini suruh ikut bayar Rp30 juta satu orang, jadi kalo gak bayar katanya dipenjara,” kata perekam dikutip dari video tersebut, Senin, 9 Februari 2026.
Sementara itu, Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Tanjung Priok, Ajun Komisaris Polisi Handam Samudro, membenarkan adanya peristiwa yang melibatkan sejumlah pegawai jasa ekspedisi.
Namun, ia menegaskan duduk perkara kasus ini bermula dari dugaan penggelapan barang oleh oknum sopir yang diduga tidak bekerja sendiri.
“Kronologis awalnya ini terkait dengan dugaan penggelapan barang konsumen oleh oknum sopir yang diduga bekerja sama dengan karyawan gudang J&T tersebut. Dikarenakan pihak J&T mengganti kerugian kepada konsumen, maka pihak J&T meminta pertanggung jawaban kepada karyawan-karyawan nya ini,” kata Handam.
Situasi tersebut kemudian diketahui oleh keluarga salah satu pegawai. Merasa ada kejanggalan, pihak keluarga menghubungi kantor hukum dan melaporkan kejadian tersebut melalui call center Polri 110.
Mendapat laporan itu, petugas kepolisian langsung mendatangi lokasi kejadian. Di tempat tersebut, polisi mendapati kelima pegawai berada di dalam satu ruangan bersama pihak manajemen dan petugas keamanan perusahaan.
“Mereka berada di ruang kerja bersama pihak manajemen dan sekuriti. Posisi ruangan juga tidak terkunci,” ucap Handam.




