Ratusan warga Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kota Yogyakarta, menggelar kirab budaya bertajuk “Ruwahan: Ngapem Bareng Lintas Agama”, Minggu (8/2).
Kirab ini diikuti warga dari berbagai latar belakang agama dan digelar sebagai bagian dari tradisi Ruwahan menjelang bulan suci Ramadan, sekaligus sebagai upaya merawat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di tingkat kampung.
Ketua Kampung Miliran, Tri Harum Murti, menyebut tradisi tahunan ini menjadi sarana refleksi bersama sebelum memasuki Ramadan.
“Melalui filosofi kue Apem yang berasal dari kata Afwon atau ampunan, kami mengajak warga memasuki Ramadan dengan hati yang bersih dan rukun dengan tetangga,” ujarnya kepada awak media, Minggu (8/2).
Ia menambahkan, keterlibatan warga asli dan pendatang dalam kegiatan ini menjadikan Kampung Miliran sebagai gambaran keberagaman yang hidup berdampingan.
Tokoh masyarakat Miliran, Julianto Andri, mengatakan bahwa tradisi Ruwahan memiliki nilai kebangsaan dan menjadi ruang perjumpaan lintas agama yang perlu terus dijaga.
“Ruwahan ini diadakan sebulan sebelum Ramadan dimulai. Meskipun berakar dari budaya Islam, ini sudah jadi tradisi nasional yang dijalankan bersama lintas agama di Muja Muju agar kita tidak lupa sejarah. Kemarin kami sudah mulai dengan reresik makam sebagai persiapan fisik dan batin,” tegas Andri.
Kirab menampilkan gunungan apem berukuran besar yang dikawal Bregada Rakyat. Rute kirab dimulai dari Yayasan SMA II dan berakhir di kawasan Laudato-Si Land.
Ketua Panitia Kirab Ruwahan, Hery Santoso Wibowo, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara dibiayai secara swadaya melalui jimpitan warga serta dukungan donatur sukarela.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas praktik keberagaman yang berlangsung di Kampung Miliran.
Ia berharap kegiatan “Ngapem Bareng” dapat dikoordinasikan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui dinas terkait agar ke depan masuk dalam agenda wisata tahunan resmi.
Rangkaian acara juga diisi doa lintas iman yang dipimpin enam pemuka agama, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, untuk keselamatan bangsa serta kelancaran ibadah Ramadan.
Kegiatan ditutup dengan pembagian kue apem dari gunungan kepada warga dan pengunjung sebagai bagian dari tradisi berbagi dalam Ruwahan.



