Pengawas Gizi sampai Aslap SPPG Wajib Tahu Bahan Baku Sebelum Dimasak & Peralatan Layak

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - PACITAN - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan para pengawas gizi, pengawas keuangan, dan asisten lapangan (aslap) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi melakukan pemeriksaan bersama atas bahan baku makanan yang tiba.

Menurut pimpinan BGN yang membidangi investigasi dan komunikasi publik itu, pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan seluruh bahan makanan yang akan dimasak di dapur SPPG dalam kondisi layak dan aman.

BACA JUGA: Pemda Belum Tahu Sumber Gaji SPPG yang Diangkat jadi PPPK

Berbicara pada Koordinasi dan Evaluasi bagi Ahli Gizi, Akuntan, dan Chef se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek akhir pekan lalu, Nanik menyatakan ketelitian ekstra perlu dilakukan sejak awal untuk mencegah terjadinya insiden keamanan pangan.

“Jika sejak awal sudah terlihat tanda-tanda bahan tidak layak, seperti ayam yang tidak sehat, sayuran yang tidak segar, atau tahu yang kualitasnya buruk, segera kembalikan kepada mitra,” ujarnya di acara yang digelar di Pacitan, Jawa Timur, itu.

BACA JUGA: Bukan Hanya PNS & PPPK, SPPG juga Wajib Belanja di Pasar

Mantan jurnalis itu mewanti-wanti para pengawas gizi dan pengawas keuangan menolak segala bentuk intervensi dari mitra SPPG terhadap operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Nanik menegaskan intervensi atas perubahan menu yang yelah disusun oleh pengawas gizi haris ditolak.

Menurut Nanik, campur tangan itu kerap dilakukan dengan dalih karena para ahli gizi masih junior, kurang berpengalaman, dan tidak memahami harga pangan. Oleh karena itu, dia mendorong para ahli gizi yang diintervensi segera melapor kepadanya.

BACA JUGA: BGN: Mitra SPPG Harus Memberdayakan Kantin di Sekolah Penerima MBG

“Laporkan kepada saya. Jika ada intervensi, dapurnya akan langsung saya tutup. Penyusunan menu tidak ada urusannya dengan mitra, apalagi sampai mengubah menu yang sudah disusun oleh Ahli Gizi. Jika ada yang berani mengubah, akan saya suspend,” imbuh Nanik.

Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu menegaskan anggapan bahwa pengelola dapur MBG masih junior dan tidak memahami harga pangan hanyalah dalih. Nanik menilai intervensi itu berpotensi mendorong penggunaan bahan baku berkualitas rendah demi keuntungan yang lebih besar.

“Ini yang menjadi awal terjadinya keracunan, karena pemilihan bahan baku yang tidak sesuai,” ujarnya.

Selain itu, Nanik juga meminta para pengawas gizi dan chef di SPPG memahami cara penanganan bahan makanan serta petunjuk teknis penggunaan peralatan dapur. Sebab, hal itu penting untuk mencegah insiden keamanan pangan akibat kesalahan penanganan bahan atau penggunaan alat yang tidak sesuai standar.

Nanik mencontohkan saat ayam bahan baku MBG tiba, kualitasnya harus diperiksa. Selanjutnya, ahli gizi di SPPG harus mampu menentukan apakah bahan tersebut perlu segera direbus atau disimpan di dalam chiller (lemari pendingin) dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius.

Lebih lanjut Nanik membeber insiden yang menyebabkan ratusan penerima MBG di Kota Magelang, Jawa Tengah, keracunan. Ternyata, hal itu disebabkan ayam bahan baku MBG disimpan dalam chiller bersuhu 19 derajat Celsius sehingga kondisi itu memungkinkan bakteri salmonela berkembang.

Keracunan karena chiller yang tidak layak juga terjadi di Boyolali, Jawa Tengah. Ada mitra SPPG yang menggunakan chiller atau kulkas tidak layak.

Oleh karena itu, Nanik meminta para chef yang lebih memahami kondisi peralatan segera melaporkan kepada kepala SPPG agar meminta penggantian alat kepada mitra. Sebab, mitra SPPG bertanggung jawab menyediakan peralatan dapur yang baru dan berkualitas sesuai petunjuk teknis.

“Jika peralatan rusak atau tidak layak pakai, jangan dipaksakan. Sampaikan kepada Kepala SPPG untuk meminta penggantian.

Nanik menambahkan mitra yang tidak memenuhi kewajiban tersebut akan dikenai sanksi penangguhan kerja hingga kewajiban dipenuhi. Sebab, SPPG menyewa alat ke mitra.

“Jadi, jika alat rusak, mitra wajib mengganti dengan peralatan yang sesuai standar dan juknis yang ada. Jangan sampai seperti di Boyolali, semua peralatan dalam kondisi bekas dan bermasalah,” ujar Nanik. (*/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pecah Telur Gol Saat Lawan PSBS, Begini Kata Winger PSM Makassar Rizky Eka Pratama
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Ribut-ribut Usai Persija vs Arema, Mauricio Souza Tak Terima Sikap Eks Anak Asuh
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Videonya Joget Diduga di Klub Malam Viral, Insanul Fahmi Mengaku Kaget, Sebut Hal Wajar: Biasalah
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Kepuasan Publik terhadap Prabowo Tembus 79,9, Kinerja Kejagung Jadi Faktor Penentu
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Bocah Perempuan Penjual Tisu Tewas Tertabrak Alat Berat di Kendari | SAPA PAGI
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.