Viral di media sosial seorang pria yang diduga oknum fotografer melarang wisatawan mengambil foto di luar rombongannya di kawasan Parangtritis.
Menanggapi hal ini, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dispar Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan Pemkab Bantul tidak pernah melarang siapa pun mengambil foto di destinasi wisata untuk kepentingan pribadi dan rombongan.
"Dengan media apa pun, ponsel, kamera, drone, itu tidak masalah (mengambil foto). Asal tidak untuk komersial," kata Ipung sapaan akrab Markus melalui sambungan telepon, Senin (9/2).
Jika untuk komersial, masing-masing destinasi biasanya memiliki perlakukan khusus yang dikelola oleh pengelola destinasi. Misalnya untuk pre-wedding, biasanya ada biaya yang ditetapkan masing-masing pengelola dalam hal ini yang mengelola pedukuhan.
Berkaitan kejadian viral itu, Ipung mengatakan informasi Karang Taruna Parangtritis, orang yang ada di video adalah warga setempat yang menjadi anggota kelompok jasa foto langsung jadi.
"Info dari Karang Taruna Parangtritis, betul bapak tersebut warga di situ menjadi anggota kelompok jasa foto langsung jadi," jelasnya.
"Kejadiannya seperti apa, kondisi seperti tidak terungkap. Kalau dari pembicaraan yang ada di video dalam tanda petik bapak itu mengira mbak yang ada di situ menjual jasa foto. Tetapi sebetulnya mbaknya itu dari biro perjalanan yang mendokumentasikan rombongannya," katanya.
Soal kenapa oknum di video tersebut sampai bicara demikian, Ipung tidak tahu penyebabnya.
"Apakah kondisinya dia capek, atau cuaca panas, kadang emosional tidak terkendali," bebernya.
Namun, informasi yang diterima Ipung, siang itu oknum tersebut telah menyampaikan permintaan maaf kepada wisatawan. Saat ini Karang Taruna juga tengah menghubungi wisatawan tersebut.
"Artinya akan menyampaikan permintaan maaf secara langsung tidak hanya lewat media," katanya.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata Bantul menurut Ipung telah sering menggelar pendampingan ke paguyuban di pantai selatan (Pansela) baik jip, ATV, dokar, payung, asongan, foto, dan sebagainya.
"Di situ saling sharing lah. Dari dinas pasti akan bicaranya misalnya menghadapi liburan tidak boleh ada nuthuk harus terbuka dan sebagainya," katanya.
Harapannya komunikasi pelaku wisata ke wisatawan bisa semakin lebih baik lagi.
"Bahwa destinasi itu hidup karena ada pengunjung. Dan pengunjung itu adalah tamu, raja. Yang mau tidak mau harus mendapatkan pelayanan yang baik. Tidak mengecewakan dan sebagainya," katanya.
Dia pun meminta jasa apapun di destinasi harus menyertakan harga dengan jelas dan tidak membingungkan wisatawan.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F10%2F20%2F0bee63a6-0dd8-451d-8a76-174ee7b93179.jpg)

