Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai anjloknya porsi konsumsi masyarakat pada awal 2026 menjadi sinyal bahwa rumah tangga Indonesia tengah melakukan konsolidasi finansial.
Adapun, data Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Januari 2026 yang menunjukkan rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi merosot ke level 72,3%. Angka ini merupakan titik terendah dalam enam tahun terakhir atau sejak Desember 2020.
Sebaliknya, alokasi untuk tabungan menebal dari 14,9% menjadi 16,5%, dan porsi pembayaran cicilan utang naik dari 10,8% menjadi 11,2%.
"Pada dasarnya rumah tangga sedang mengubah prioritas arus kasnya, di mana belanja harian ditekan, cadangan likuid diperbesar, dan beban pembayaran utang mengambil porsi yang sedikit lebih besar," ujar Josua kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).
Menariknya, fenomena tersebut terjadi di tengah paradoks data keyakinan konsumen. Survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI mencatat peningkatan optimisme 3,5 poin, dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026.
Menurut Josua, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap ekonomi membaik, namun perilaku keuangannya tetap defensif atau hati-hati.
Baca Juga
- Kelas Menengah Susut, Begini Potret Ketimpangan Ekonomi RI
- Jumlah Kelas Menengah Susut, Purbaya Tak Beri Insentif Khusus
- Laporan Mandiri Institute: 1,2 Juta Kelas Menengah RI Turun Kasta sepanjang 2025
"Perilaku ini biasanya muncul ketika rumah tangga merasa perlu memperkuat bantalan dana dan merapikan kewajiban, misalnya setelah periode belanja tinggi, saat ketidakpastian meningkat, atau ketika sebagian biaya hidup dan kewajiban rutin terasa lebih menekan," jelasnya.
Pedang Bermata DuaJosua mengingatkan fenomena ini memiliki dampak ganda bagi perekonomian. Di satu sisi, kenaikan porsi tabungan adalah kabar baik bagi ketahanan rumah tangga terhadap guncangan dan dapat memperkuat basis dana pihak ketiga (DPK) perbankan untuk penyaluran kredit produktif.
Di sisi lain, jika pola penahan belanja ini bertahan lama maka mesin pertumbuhan ekonomi berisiko melambat. Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung utama Produk Domestik Bruto (PDB) RI dengan kontribusi sekitar 53,88% pada 2025.
"Bila pola ini bertahan lama, konsumsi berpotensi melemah karena porsi belanja yang menyusut berarti permintaan barang dan jasa lebih mudah melambat," kata Josua.
Selain itu, dia memberikan catatan khusus pada kenaikan porsi cicilan ke level 11,2%. Jika kenaikan ini disebabkan oleh bertambahnya utang atau bunga efektif yang makin terasa maka daya beli akan semakin tergerus karena pendapatan terkunci untuk kewajiban rutin.
"Ini bisa menambah kerentanan kualitas kredit. Jadi, fenomena ini cenderung kurang baik bagi pertumbuhan jangka pendek bila didorong oleh kehati-hatian berlebihan atau tekanan daya beli," tutupnya.



