Penulis: Fityan
TVRINews-Hongkong
Pendiri Apple Daily Resmi Dijatuhi Hukuman Berat di Bawah UU Keamanan Nasional Beijing; Simbol Runtuhnya Kebebasan Pers di Hong Kong.
Senin 9 Februari 2026, ruang sidang di Hong Kong menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah era. Jimmy Lai, taipan media berusia 78 tahun, resmi divonis bersalah atas pelanggaran keamanan nasional.
Kabar ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan lonceng kematian bagi gerakan pro-demokrasi yang sempat membara di kota tersebut.
Lai, pendiri surat kabar Apple Daily, dinyatakan bersalah atas konspirasi penerbitan publikasi hasutan dan kolusi dengan kekuatan asing.
Bagi Beijing, ia adalah pengkhianat dan "arsitek" kerusuhan. Namun bagi pendukungnya, Lai adalah martir yang nasibnya mencerminkan pasang surut kebebasan di Hong Kong.
Dari Buruh Anak Menjadi "Rupert Murdoch dari Asia"
Perjalanan hidup Jimmy Lai adalah perwujudan sempurna dari Hong Kong Dream. Ia bukan lahir dengan sendok perak.
• Pelarian dari Mao: Di usia 12 tahun, Lai melarikan diri dari Tiongkok daratan yang saat itu dipimpin Mao Zedong.
• Buruh Pabrik: Ia tiba di Hong Kong sebagai imigran gelap dan bekerja sebagai buruh kasar di pabrik tekstil.
• Imperium Bisnis: Dari nol, ia membangun merek pakaian global Giordano sebelum akhirnya merambah dunia media melalui Next Magazine dan Apple Daily.
Kekayaannya yang mencapai $1,2 miliar (sekitar Rp19 triliun) menjadikannya sosok elit yang langka.
Di saat konglomerat lain memilih bermain aman dengan Beijing demi kelancaran bisnis, Lai justru menggunakan pundi-pundi uangnya untuk mendanai aktivisme.
Titik Balik Tiananmen dan Lahirnya Media Perlawanan
Awalnya, motivasi bisnis Lai hanyalah ambisi dan rasa bosan. Namun, tragedi berdarah di Lapangan Tiananmen tahun 1989 mengubah segalanya.
Lai mengalami radikalisasi politik. Ia menyadari bahwa tanpa demokrasi, kebebasan individu dan pasar tidak akan bertahan lama.
Apple Daily didirikan tepat sebelum penyerahan Hong Kong dari Inggris ke Tiongkok pada 1997. Surat kabar ini unik: campuran antara gosip selebriti yang panas dengan investigasi korupsi yang tak kenal takut.
"Media miliknya menjaga kejujuran Hong Kong sebagai pusat keuangan internasional karena menjamin aliran informasi yang bebas," ujar Kevin Yam, pengacara pro-demokrasi.
Garis Waktu Perlawanan Jimmy Lai:
• 1994: Menghina Perdana Menteri Tiongkok Li Peng dengan sebutan "bastard dengan IQ nol".
• 2003: Menggerakkan massa melawan undang-undang keamanan nasional pertama.
• 2014: Mendukung gerakan Occupy Central dan berkemah bersama demonstran.
• 2019: Menjadi wajah internasional dalam protes besar-besaran melawan UU Ekstradisi.
"Gigi" Hukum yang Akhirnya Menggigit
Selama bertahun-tahun, Lai merasa kebal. Ia menolak melarikan diri ke Inggris meskipun memiliki kewarganegaraan sana. "Saya tidak akan meninggalkan kota yang telah memberikan saya segalanya," katanya suatu saat.
Namun, Undang-Undang Keamanan Nasional (NSL) yang diberlakukan Beijing pada 2020 mengubah aturan main. Ratusan polisi menggerebek kantor Apple Daily, membekukan asetnya, dan menyeret Lai ke jeruji besi. Sejak itu, ia mendekam di sel isolasi.
Dalam persidangan, jaksa menunjukkan presentasi PowerPoint yang menyebut hubungan Lai dengan tokoh AS seperti Donald Trump dan Nancy Pelosi sebagai bukti kolusi. Bagi pengadilan, Lai adalah sosok yang "menyimpan kebencian terhadap Tiongkok selama bertahun-tahun."
Nasib di Ujung Diplomasi Global
Kini, nasib Lai berada di persimpangan jalan politik internasional. Putranya, Sebastien Lai, terus melobi pemerintahan dunia, termasuk beralih kepada Donald Trump yang baru saja kembali menjabat.
Sebastien berharap ayahnya bisa menjadi "kartu tawar-menawar" dalam perang dagang AS-Tiongkok.
Di sisi lain, Inggris dikritik karena dianggap lebih memprioritaskan nilai perdagangan sebesar £27,2 miliar dengan Hong Kong ketimbang membebaskan warga negaranya sendiri yang sedang sekarat di penjara.
Refleksi: Kebebasan Pers dan Hari Pers Nasional
Kisah Jimmy Lai bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang bagaimana sebuah ekosistem informasi bisa runtuh dalam sekejap ketika kekuasaan absolut masuk.
Di Indonesia, kita baru saja memperingati Hari Pers Nasional. Narasi Jimmy Lai menjadi pengingat yang tajam: bahwa kebebasan pers adalah oksigen bagi demokrasi.
Lai mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, namun sejarah akan mencatatnya sebagai orang yang rela menukarkan seluruh kekayaannya demi satu hal yang tak ternilai: suara rakyat.
Hong Kong telah berubah, dan bersamaan dengan vonis Lai, lentera demokrasi di "Mutiara dari Timur" itu kini redup, menunggu waktu untuk kembali dinyalakan
Editor: Redaktur TVRINews


