Penulis: Riki Ilham Rafles
TVRINews - Amerika Serikat
Penampilan Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026 diharap mampu menaikkan pamor sepak bola.
Timnas Amerika Serikat mengemban beban berat di Piala Dunia 2026. Sebagai tuan rumah, skuat asuhan Mauricio Pochettino diharap mampu memberikan hasil terbaik, sehingga popularitas sepak bola di dalam negeri ikut terangkat.
Sepak bola Amerika Serikat masih kalah populer dibanding basket, bisbol, atau American Football. Karena itulah Piala Dunia diharapkan mampu menjadi alat menggaet penggemar baru.
Mantan pemain Timnas Amerika Serikat, Cobi Jones memahami betul tugas berat yang disandang oleh Christian Pulisic dan kawan-kawan. Mereka tak boleh cuma sekadar jadi peserta Piala Dunia 2026, tapi wajib berprestasi agar mendapat perhatian.
"Kami bisa memahami apa yang dialami tim terkait tekanan di tahun 2026 karena ingin meraih kesuksesan di depan penggemar sendiri," kata Cobi Jones, dikutip dari Sports Illustrated.
"Mereka tahu bahwa jika menjadikan ini sebagai Piala Dunia yang sukses, itu memungkinkan sepak bola mengalami pertumbuhan eksponensial di Amerika Serikat," imbuhnya.
Amerika Serikat pertama kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994. Ketika itu, tim berjuluk The Yanks melangkah sampai ke babak gugur.
Dalam enam edisi berikutnya, Amerika Serikat cuma sekali gagal lolos. Bisa dibilang mereka adalah salah satu kekuatan utama sepak bola di kawasan Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF). Namun, konsistensi itu belum mampu membuat sepak bola berada di tingkat atas olahraga terpopuler.
Upaya Menaikkan Pamor
Los Angeles Galaxy berani mendatangkan David Beckham pada 2007. Tujuannya saat itu adalah mengalihkan perhatian publik ke Liga Amerika Serikat (MLS).
Beckham memiliki daya tarik luar biasa karena dianggap bukan cuma pesepak bola dengan segudang prestasi, tapi juga pesohor. Dia banyak dapat kepercayaan menjadi model iklan jenama-jenama besar.
Kedatangan Beckham tentunya disertai dengan iming-iming keistimewaan. LA Galaxy tak sekadar memberi gaji sebesar 6,5 juta dolar AS (Rp109 miliar) per tahun, tapi turut membagi keuntungan yang diperoleh dari penjualan tiket, sponsor, dan lainnya.
Meski pada awal kehadirannya di MLS tidak mulus, karena cedera yang mengharuskan lebih sering duduk di bangku cadangan, namun ada dampak positif berupa kenaikan jumlah penonton dan nilai hak siar.
Setelah Beckham, beberapa nama pesepak bola ternama lainnya didatangkan ke MLS, seperti Thierry Henry, Wayne Rooney, hingga Zlatan Ibrahimovic. Akan tetapi, itu masih belum cukup untuk bersaing dalam hal popularitas dengan NBA dan NFL.
Kehadiran Lionel Messi
Sepak bola Amerika Serikat menghebohkan dunia pada Juli 2023. Inter Miami, klub milik David Beckham mendatangkan Lionel Messi.
Usia Messi memang sudah tidak muda lagi. Namun, magisnya di atas lapangan hijau masih tetap sama.
Setahun sebelum hijrah ke Negeri Paman Sam, Messi menjuarai Piala Dunia bersama Timnas Argentina. Gelar yang menyempurnakan prestasi selama karier profesionalnya.
Sebanyak 72 ribu orang hadir saat Inter Miami melawat ke markas Sporting Kansas City pada 2024, dan itu jadi jumlah tertinggi dalam sejarah kompetisi.
Jumlah kehadiran penonton pertandingan MLS di stadion terus meningkat setelahnya. Pada 2024 rata-rata kehadiran penonton mencapai 23.234 per pertandingan.
Angka itu menjadikan MLS menjadi salah satu dari tiga kompetisi dengan jumlah rata-rata penonton tertinggi di dunia. Mereka cuma kalah dari Liga Primer Inggris dan Liga Jerman.
Setelah berbagai upaya dilakukan, kini giliran Piala Dunia 2026 yang dinanti dampak positifnya untuk meningkatkan popularitas sepak bola di Amerika Serikat.
Editor: Riki Ilham Rafles




