Mengupas Kepemimpinan Pergerakan Ala Bung Hatta

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Ma’Refat Institute bersama Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH) serta Book Club Alumni SPBH-1, kembali menggelar program “Membaca Kembali Bung Hatta” seri ke-15 pada Minggu, 8 Februari 2026.

Diskusi yang mengangkat topik “Kepemimpinan Pergerakan” ini berlangsung di Kantor LINGKAR–Ma’REFAT, Kota Makassar, sejak pukul 13.30 Wita.

Dua pemantik serta pembaca buku dihadirkan dalam pertemuan kali ini: Erwin, S.Ak, Penata Layanan Operasional Kelurahan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, yang juga pernah menjadi Koordinator Lingkar Donor Darah Makassar (LDDM) pada 2018–2020; serta Ahmad Hasan AK, S.Tr.Ak, Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Sulawesi Selatan sekaligus aktivis LDDM.

Selaku pemantik pertama, Erwin menyoroti gagasan Bung Hatta tentang kepemimpinan pergerakan yang menekankan kolektivitas sistemik. Menurut Hatta, kepemimpinan tidak boleh bertumpu pada satu figur, melainkan kepemimpinan kolektif yang membangun kesadaran politik rakyat dan anggota organisasi.

Dalam pemaparannya, Erwin menjelaskan empat tulisan bung Hatta: Otonomi dan Sentralisasi dalam Partai, Tanggung Jawab dalam Pergerakan, Sikap Pemimpin, serta Pemimpin dan Penghidupannya, yang dimuat pada 1933 di Majalah Daulat Rakyat milik Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PPNI).

Erwin menekankan kritik Hatta terhadap sentralisme partai. Menurutnya, model organisasi semacam ini hanya menggantungkan perintah pada pusat, sehingga membuat partai menjadi rapuh. Jika pemimpin ditangkap, organisasi dapat lumpuh karena kader tidak dibiasakan berpikir mandiri. Namun, Hatta tetap menilai sentralisasi diperlukan dalam hal ideologi dan asas perjuangan.

Dalam tulisan tentang tanggung jawab pergerakan, Hatta menegaskan bahwa ukuran pemimpin bukan pada kerasnya suara di mimbar, melainkan kesediaannya menanggung risiko perjuangan. Penjara, pembuangan, hingga tekanan politik adalah konsekuensi yang harus siap diterima.

Sementara itu, Ahmad Hasan menghadirkan refleksi personal atas ketegasan Bung Hatta. “Kesempatan membaca kembali tulisan-tulisan Bung Hatta menghadirkan perasaan syukur sekaligus kegelisahan,” kata Hasan.

Ia menekankan bahwa Bung Hatta tidak menekankan banyaknya orang dalam pergerakan, melainkan menitikberatkan gerakan pada kualitas orang-orang di dalamnya. Anggota adalah titik utama pergerakan, dengan kewajiban iuran hingga batas maksimal pengorbanan. Prinsip itu, menurutnya, “nyaris tanpa ruang kompromi.”

Hasan juga menjelaskan konteks sejarah tulisan-tulisan tersebut, yang lahir pada masa represi kolonial setelah pembubaran PNI. Bung Hatta menyebut periode itu sebagai masa kegelapan pergerakan. Dalam situasi ini, pidato terbuka tidak lagi mungkin, sehingga media perjuangan berpindah ke majalah, kelas kecil, dan kursus yang dijalankan secara senyap.

Ahmad Hasan menegaskan peran majalah sebagai pengganti podium. Bung Hatta menolak menurunkan kualitas majalah meski dianggap sulit dipahami. “Menurutnya, bukan kualitas media yang harus diturunkan, melainkan kapasitas pembaca yang harus dinaikkan,” bebernya. Fungsi majalah bukan agitasi instan, tetapi mendidik dan membentuk kesadaran ideologis.

Ia juga mengutip perumpamaan Bung Hatta tentang pemimpin dan rakyat. Pemimpin bukan penyebab rakyat bergerak, melainkan berbicara karena ada kehendak rakyat yang belum tersalurkan. Bung Hatta mengibaratkan, ayam berkokok bukan penyebab datangnya siang, melainkan berkokok karena hari telah siang.

Dalam sesi tanggapan, peserta menyoroti relevansi pemikiran Bung Hatta dengan kondisi politik hari ini. Salah satu tanggapan menyebut bahwa partai politik pada masa awal kemerdekaan adalah instrumen perjuangan bangsa. Namun, kini realitasnya bertolak belakang.

“Partai politik yang dahulu menjadi alat perjuangan bangsa, kini kerap dipersepsikan sebagai bagian dari persoalan. Alih-alih memperjuangkan kepentingan publik, partai sering dipandang lebih sibuk mengurus kepentingan elite dan kelompoknya sendiri,” ucap dia.

Peserta menilai struktur partai hari ini cenderung tersentralisasi dan bertumpu pada figur. Banyak partai bergantung pada satu tokoh atau keluarga, sehingga keputusan penting tidak lahir dari proses kolektif dan demokratis.

Menanggapi diskusi, Erwin menegaskan kembali bahwa, pendidikan politik, bagi Bung Hatta, merupakan fondasi utama. Ia membayangkan partai sebagai laboratorium demokrasi. Jika partai oligarkis, demokrasi negara pun rapuh. Namun, realitas hari ini menunjukkan rekrutmen partai sering instan, berbasis popularitas dan kepentingan elektoral.

Ahmad Hasan menutup dengan menegaskan relevansi Bung Hatta bagi pergerakan masa kini. “Gerakan politik yang sehat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari proses panjang pendidikan, pengorbanan, dan konsistensi pada prinsip,” sebutnya.

Diskusi seri ke-15 ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan pergerakan dalam pandangan Bung Hatta bukan sekadar figur, melainkan kesatuan peran antara pemimpin, media, dan anggota yang berjalan serempak dalam garis ideologi dan pengorbanan.

Diskusi berakhir tepat pada pukul 16.00 Wita, seperti biasa dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Detik-Detik Utusan Khusus Trump Cek Militer AS di Laut Arab usai Negosiasi dengan Iran
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Unik! Satu Pohon Durian di Banjarnegara Hasilkan 15 Rasa Berbeda
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Hari Pers Nasional, Istana Ajak Lawan Hoaks dan Disinformasi
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Kecelakaan di Matraman Jaktim, Seorang Pelajar Tewas
• 11 jam laludetik.com
thumb
Dilantik Jadi Ketum KONI NTT, Gubernur Melki Siap Sukseskan PON XXII 2028
• 12 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.