Gaza: Ribuan pasien dan korban luka akibat agresi Israel di Jalur Gaza menghadapi ketidakpastian masa depan menyusul runtuhnya sistem layanan kesehatan di wilayah kantong Palestina tersebut.
Dikutip dari Antara, Senin, 9 Februari 2026, sumber medis setempat menyatakan bahwa sejumlah rumah sakit yang masih beroperasi kini kesulitan mempertahankan layanan dasar. Fasilitas kesehatan tersebut, menurut mereka, telah berubah menjadi tempat penantian ribuan pasien dan korban luka tanpa kepastian perawatan lanjutan.
“Sistem kesehatan di Gaza sudah lumpuh. Bertahannya layanan medis saat ini hampir dapat disebut sebagai mukjizat,” ujar sumber medis tersebut, seraya menekankan besarnya tingkat kerusakan infrastruktur yang menghambat pemulihan fasilitas kesehatan.
Krisis medis di Gaza disebut telah mencapai titik nadir. Bahkan obat pereda nyeri menjadi barang langka bagi pasien yang menghadapi kondisi kritis. Data medis menunjukkan bahwa stok bahan laboratorium dan cadangan darah hampir habis, sementara lebih dari separuh perlengkapan medis dan obat-obatan penting tidak lagi tersedia.
Menurut para sumber, layanan kesehatan yang paling terdampak meliputi perawatan kanker, hematologi, bedah, operasi darurat, unit perawatan intensif (ICU), serta layanan kesehatan primer. Kondisi ini membuat rumah sakit tidak mampu memberikan penanganan optimal kepada pasien.
Jumlah obat dan pasokan medis yang masuk ke Jalur Gaza dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Keterbatasan akses dan distribusi memperparah situasi yang sudah kritis.
“Menyelamatkan kondisi kesehatan di rumah sakit Gaza tidak bisa dilakukan melalui solusi darurat sementara, karena pendekatan seperti itu justru memperpanjang dan memperberat konsekuensi kemanusiaan,” kata sumber medis tersebut.
Baca juga: RS Indonesia Jadi Satu-satunya Bangunan yang Masih Berdiri di Gaza Utara




