Bisnis.com, JAKARTA – Produsen ban asal Jepang, Bridgestone Indonesia bakal memperkuat basis produksi lokal, di tengah kondisi industri komponen otomotif yang mengalami tekanan sepanjang tahun lalu.
Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno mengatakan, perseroan telah berkomitmen untuk berinvestasi di pasar Indonesia selama 5 dekade, terhitung sejak peresmian pabrik perdana di Bekasi, Jawa Barat pada 1976 silam.
Selanjutnya, Bridgestone pun kian memperkuat kapasitas dan kapabilitas produksinya, melalui pembangunan dan peresmian pabrik kedua yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat pada tahun 1999.
“Lima dekade bukan sekadar pencapaian usia, tetapi refleksi dari perjalanan panjang kepercayaan. Sejak awal, Bridgestone Indonesia tumbuh bersama kebutuhan mobilitas masyarakat," ujar Mukiat dikutip Senin (9/2/2026).
Lebih lanjut dia mengatakan, dalam perjalanan 50 tahun tersebut, Bridgestone Indonesia tak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga berkontribusi pada rantai pasok global.
Adapun, saat ini berbagai produk Bridgestone yang diproduksi di Indonesia telah diekspor ke lebih dari 70 negara, mencerminkan kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas manufaktur, teknologi, dan konsistensi standar global yang diterapkan perseroan.
Baca Juga
- Ramalan Industri Komponen Otomotif 2026, Ancaman Badai PHK Berlanjut
- Ekspor Rp125,8 Triliun Selamatkan Nasib Industri Komponen Otomotif RI
- GIAMM Ungkap Sederet Tantangan Berat Industri Komponen Otomotif
Sementara itu, di pasar domestik, Bridgestone Indonesia menghadirkan produk dan layanan melalui jaringan distribusi yang luas di lebih dari 400 jaringan ritel resmi Toko Model (TOMO).
Tak hanya itu, terdapat lebih dari 1.500 toko ban umum yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sehingga memudahkan konsumen mengakses produk dan layanan Bridgestone.
"Komitmen inilah yang terus kami jaga hingga hari ini dan ke depan,” pungkas Mukiat.
Sebagai tambahan informasi, Bridgestone berkantor pusat di Karawang, Jawa Barat dan telah mempekerjakan sekitar 3.100 karyawan. Perseroan memiliki portofolio produk yang beragam, termasuk ban premium untuk mobil penumpang hingga kendaraan niaga seperti truk dan bus.
Industri Komponen Otomotif TertekanDiberitakan sebelumnya, Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) membeberkan sejumlah tantangan berat yang dihadapi oleh pelaku industri komponen otomotif sepanjang 2025.
Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki mengatakan, penurunan angka produksi kendaraan, seiring dengan lesunya permintaan di pasar domestik turut memberikan tekanan bagi industri komponen otomotif.
Adapun, angka produksi mobil di RI sebagaimana tercatat dalam data Gaikindo sebesar 1,14 juta unit sepanjang Januari-Desember 2025. Angka itu mengalami penurunan 4,1% (year-on-year/YoY) dibandingkan periode 2024 sebesar 1,19 juta unit.
"Karena jumlah produksi mobil 2025 turun sekitar 4% dibandingkan dengan 2024, otomatis suplai industri komponennya juga menurun," ujar Basuki kepada Bisnis, belum lama ini.
Dia mengatakan, tantangan utama bagi pelaku industri yaitu penurunan penjualan mobil di pasar domestik dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir, yang selama ini menjadi penopang utama penjualan komponen otomotif.
Kabar baiknya, kinerja industri komponen masih ditopang oleh permintaan di pasar ekspor yang relatif stabil di angka US$7,5 miliar, atau sekitar Rp125,8 triliun (kurs Rp16.773 per dolar AS).



