FAJAR, JAKARTA — Dalam kompetisi panjang, juara tak selalu ditentukan oleh siapa yang paling sering menang besar. Ia kerap ditentukan oleh siapa yang paling jarang kalah.
Dan pada titik ini, Super League musim 2025/2026 menghadirkan realitas yang tak bisa diabaikan: Persebaya Surabaya dan Persib Bandung adalah dua tim yang paling sulit ditaklukkan.
Bukan Persija Jakarta.
Kekalahan 0-2 dari Arema FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (8/2), menjadi titik balik narasi. Dua gol Gabriel Silva pada menit ke-82 dan 90+11 bukan sekadar angka di papan skor. Itu adalah penegasan bahwa Persija belum sepenuhnya stabil dalam tekanan.
Persija kini tertahan di peringkat ketiga dengan 41 poin. Mereka terpaut lima angka dari Borneo FC di posisi kedua dan enam poin dari Persib Bandung di puncak klasemen.
Jarak yang secara matematis masih bisa dikejar, tetapi secara psikologis mulai terasa berat.
Sementara itu, Persebaya dan Persib berjalan dengan pola berbeda: senyap, konsisten, dan minim kekalahan.
Hingga pekan ke-20, Persebaya dan Persib sama-sama baru tiga kali tumbang. Persija sudah lima kali kalah. Borneo empat. Dalam liga yang panjang dan melelahkan, selisih satu atau dua kekalahan adalah fondasi penting dalam perburuan gelar.
Persebaya: Sistem di Atas Segalanya
Di Surabaya, grafik positif itu tak lahir secara instan. Sejak Bernardo Tavares diberi ruang membangun tim, Green Force menunjukkan evolusi perlahan namun pasti.
Persebaya kini duduk di peringkat kelima dengan 35 poin. Hanya terpaut dua angka dari zona empat besar. Bahkan mereka mencatat 13 laga tanpa kekalahan—sebuah tren yang tak bisa dianggap kebetulan.
Yang membuat Persebaya menonjol bukan sekadar hasil, tetapi struktur.
Ketika Bruno Moreira absen, tim tetap berjalan. Saat Milos Raickovic tak tampil, ritme permainan tak goyah. Tanpa komposisi ideal pun, mereka mampu menang 3-1 di kandang Bali United.
Itu bukan kemenangan emosional. Itu kemenangan sistemik.
Tavares membangun fleksibilitas taktik. Ia tak menggantungkan tim pada satu sosok. Ia memanfaatkan kedalaman skuad. Ia berani memberi ruang pada pemain muda seperti Dimas Wicaksono, Sadida Putra, dan Alfan Suaib tanpa mengorbankan keseimbangan.
Di Gianyar, Persebaya tampil disiplin dalam blok pertahanan, efektif dalam transisi, dan tajam dalam penyelesaian. Francisco Rivera menjadi pengatur irama. Alfan Suaib muncul sebagai supersub. Lini belakang bermain tanpa drama.
Empat faktor membuat Persebaya relevan dalam bursa juara: kedalaman skuad, fleksibilitas taktik, keberanian regenerasi, dan pengalaman pelatih membaca momentum.
Persib: Stabilitas yang Terjaga
Di Bandung, pendekatan berbeda, tetapi esensinya sama.
Persib mungkin tak selalu mendominasi dengan gemerlap, tetapi mereka menjaga ritme kompetisi. Tiga kekalahan dalam 20 laga adalah cerminan stabilitas.
Pada pekan ke-20, Maung Bandung menaklukkan Malut United 2-0. Kemenangan yang mungkin tak sensasional, tetapi cukup untuk menjaga jarak di puncak.
Persib paham satu hal: liga dimenangkan oleh konsistensi, bukan euforia.
Persija Mulai Tertinggal
Kekalahan dari Arema membuka celah keraguan terhadap Persija. Di atas kertas, mereka masih kandidat. Namun performa inkonsisten membuat posisi mereka lebih rapuh dibanding dua pesaing lain.
Malut United yang kalah dari Persib kini tertahan di posisi keempat dengan 37 poin, hanya unggul dua angka dari Persebaya yang terus merangkak naik.
Arema sendiri naik ke peringkat sembilan dengan 27 poin setelah membungkam Persija. Bhayangkara turun ke posisi 10 dengan 26 poin. Peta klasemen kian ketat.
Tetapi dalam konteks bursa juara, pertanyaannya bukan lagi siapa yang sesekali tampil dominan. Pertanyaannya: siapa yang paling tahan banting?
Dan jawabannya, sejauh ini, mengerucut pada dua nama: Persebaya dan Persib.
Super League masih panjang. Segalanya bisa berubah dalam dua atau tiga pekan. Namun sampai fase ini, Persebaya Surabaya menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penantang. Mereka adalah tim yang sulit dikalahkan.
Dan dalam kompetisi panjang, tim seperti itulah yang biasanya berdiri paling akhir.




