Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Riyadh, Arab Saudi
Cristiano Ronaldo berencana meninggalkan Al-Nassr menyusul krisis yang memburuk di Arab Saudi terkait pembiayaan klub dan tata kelola olahraga.
Eksperimen berisiko tinggi Cristiano Ronaldo di Liga Pro Arab Saudi (Saudi Pro League) telah memasuki fase ketidakstabilan kritis sejak Februari 2026. Laporan dari analis olahraga tingkat tinggi, termasuk Ben Jacobs, menunjukkan bahwa ikon Portugal itu semakin kecewa dengan arah strategis Al-Nassr.
Gesekan ini bukan sekadar perselisihan di ruang ganti, tetapi sudah dalam bentuk kritik sistemik terhadap tata kelola Dana Investasi Publik Saudi (Public Investment Fund’s/PIF).
Kubu Ronaldo menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin besar dalam distribusi modal dan bakat (baca: pemain mahal berteknik tinggi) di antara klub-klub papan atas liga, justru menciptakan persaingan yang tidak adil yang mengancam keunggulan kompetitif Liga Pro Saudi menjelang Piala Dunia 2026.
Paradoks Pendanaan PIF
Inti dari krisis ini terletak pada “Efek Kupu-Kupu” dari pembiayaan olahraga yang terpusat. Meskipun dana kekayaan Arab Saudi merevolusi sepak bola global dengan menyuntikkan miliaran dolar ke liga domestik, favoritisme yang dirasakan terhadap tim-tim pesaing telah membuat Ronaldo merasa terasing.
Mantan penyerang Real Madrid, Juventus FC, dan Manchester United tersebut dilaporkan memandang siklus perekrutan saat ini sangat tidak seimbang, yang menghambat kemampuan Al-Nassr untuk bersaing memperebutkan trofi.
Hambatan struktural ini telah mengubah kemitraan bernilai jutaan dolar menjadi beban geopolitik dan olahraga, memaksa manajemen pemain untuk mencari lingkungan kompetitif yang lebih adil di luar kawasan teluk.
Keharusan Piala Dunia 2026
Pergerakan Ronaldo sangat ditentukan oleh tujuan fisiologis dan profesionalnya: memimpin Portugal di Piala Dunia 2026. Bagi Ronaldo, Piala Dunia 2026 tetap menjadi pendorong utama untuk langkah kariernya selanjutnya.
Untuk mempertahankan kondisi fisik puncak, pemain berusia 41 tahun ini membutuhkan ritme permainan intensitas tinggi dan stabilitas internal. Masalahnya, faktor-faktor tersebut saat ini tidak ada di Riyadh.
Absennya Ronaldo dari pertandingan-pertandingan penting baru-baru ini ditafsirkan oleh para pengamat pasar sebagai titik tekanan taktis daripada sekadar cedera. Bagi Ronaldo, bertahan di Al-Nassr dalam kondisi saat ini bukanlah jalan yang layak menuju Piala Dunia 2026, sehingga pindah ke liga yang lebih stabil menjadi kebutuhan strategis.
Peluang dan Likuiditas Pasar Turki
Seiring memburuknya hubungan dengan Al-Nassr, Turki muncul sebagai tujuan utama untuk musim panas 2026. Klub-klub terkemuka di Super Lig dilaporkan memantau klausul pelepasan yang diperkirakan bernilai puluhan juta euro, yang akan aktif pada akhir tahun ini.
Turki menawarkan perpaduan unik antara budaya penggemar yang intens dan kompetisi yang mirip dengan Eropa, memberikan visibilitas dan tekanan yang didambakan Ronaldo. Potensi kepindahan ini mewakili pergeseran besar dalam likuiditas pasar, karena sponsor komersial bersiap untuk mengalihkan pengeluaran pemasaran mereka dari kepentingan minyak Arab Saudi ke raksasa ritel Mediterania.
Tata Kelola Olahraga vs Warisan Individu
Krisis Ronaldo-Arab Saudi menjadi pelajaran berharga bagi model tata kelola olahraga seperti “Liga Super”. Ketika satu dana mengendalikan banyak entitas, warisan individu sering kali berbenturan dengan agenda sistemik.
Ronaldo bukan lagi sekadar pemain. Dia adalah merek global yang membutuhkan “ekosistem kesuksesan” tertentu untuk berkembang. Jika Al-Nassr tidak dapat menyediakan meritokrasi olahraga yang dijanjikan pada saat penandatanganan kontrak, merek tersebut pasti akan berpindah ke wilayah yang lebih menghargai hierarki kinerja daripada citra investasi yang dipimpin negara.
Editor: Tri Cahyo Nugroho





