Penulis: Mia
TVRINews, Bangka Barat
Masyarakat Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, kembali menggelar ritual adat Perang Ketupat sebagai wujud rasa syukur sekaligus tradisi tolak bala menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Tradisi turun-temurun ini tidak hanya mempererat silaturahmi warga, tetapi juga berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan daerah.
Ritual Perang Ketupat dipusatkan di pesisir Pantai Pasir Kuning, Tempilang. Sejak beberapa hari sebelum puncak acara, ratusan warga tampak antusias bergotong royong mempersiapkan ratusan ketupat yang akan digunakan dalam prosesi ritual. Daun kelapa dianyam bersama, lalu ketupat direbus dan disiapkan sebagai bagian dari rangkaian adat.
Ketua Adat Tempilang, Atok Keman, menjelaskan bahwa Perang Ketupat bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan rangkaian ritual yang sarat makna spiritual.
“Rangkaian Perang Ketupat dimulai dari pembuatan ketupat yang kemudian direbus. Setelah siap, barulah dihitung jumlah yang dibutuhkan untuk ritual. Doa yang dipanjatkan meliputi doa tahlilan, doa arwah, doa tolak bala, hingga doa selamat,” ujar Atok Keman.
Puncak acara ditandai dengan tradisi saling lempar ketupat antarpeserta dalam suasana penuh kegembiraan. Meski disebut perang, kegiatan ini berlangsung damai dan dipenuhi tawa, mencerminkan kebersamaan serta harapan akan keselamatan dan keberkahan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Fachriansyah, mengatakan bahwa ritual adat Perang Ketupat kini telah dikemas sebagai festival budaya yang mampu menarik minat wisatawan.
“Panitia telah menyiapkan rangkaian acara yang dimulai sejak beberapa hari lalu. Hari Minggu dan Senin menjadi puncak acara Perang Ketupat, kemudian dilanjutkan dengan berbagai hiburan untuk masyarakat,” jelas Fachriansyah.
Usai prosesi perang ketupat, ritual dilanjutkan dengan pelarungan replika perahu ke laut. Prosesi ini menjadi simbol pelepasan beban dan doa agar laut tetap bersahabat bagi nelayan Tempilang.
Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan ritual Taber Kampung, sebagai doa keselamatan dan harapan akan keseimbangan hidup masyarakat setempat.
Tradisi Perang Ketupat tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat identitas lokal sekaligus menggerakkan sektor pariwisata di Bangka Barat.
Editor: Redaktur TVRINews





