Hidup dalam Ekspektasi: Ketika Kita Lupa Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan satu pelajaran tak tertulis: jadilah seseorang yang membanggakan.

Kita belajar membaca harapan di mata orang tua.Memahami standar yang dihargai lingkungan.

Dan perlahan menyesuaikan diri agar diterima.

Awalnya terasa wajar.

Ekspektasi sering kali memberi arah.

Ia membantu kita bertumbuh, berusaha, dan melampaui batas yang dulu terasa mustahil.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur:

Di antara semua harapan itu, di mana letak diri kita sendiri?

Tanpa sadar, hidup bisa berubah menjadi rangkaian pencapaian yang lebih banyak menjawab keinginan orang lain daripada suara batin kita.

Kita memilih jalan yang dianggap stabil.

Mengambil keputusan yang terlihat ideal.

Bertahan dalam peran yang dipuji banyak orang.

Dari luar, hidup tampak baik-baik saja.

Bahkan mungkin mengundang kagum.

Tetapi jauh di dalam, sebagian orang diam-diam menyimpan rasa asing. Seperti menjalani kehidupan yang rapi, namun tidak sepenuhnya terasa milik sendiri.

Ada lelah yang sulit dijelaskan.

Bukan karena kurang bersyukur.

Bukan pula karena hidup terasa buruk.

Melainkan karena terlalu lama berjalan tanpa benar-benar bertanya:

“Apakah ini hidup yang aku inginkan?”

Ekspektasi memang tidak selalu salah.

Sebagian lahir dari cinta.

Sebagian lagi dari harapan agar kita memiliki masa depan yang baik.

Namun ketika seluruh keputusan hidup hanya bertumpu pada itu, kita berisiko kehilangan sesuatu yang sangat mendasar:

kebebasan untuk menjadi diri sendiri.

Pada titik tertentu, banyak orang mulai merasakan dorongan halus dari dalam. Sebuah kegelisahan yang tidak lagi bisa diabaikan.

Bukan untuk memberontak.

Bukan untuk mengecewakan siapa pun.

Tetapi untuk hidup dengan lebih jujur.

Sebab kebenaran yang sering terlambat kita sadari adalah ini:

Hidup yang terus-menerus dijalani demi memenuhi ekspektasi orang lain perlahan akan menjauhkan kita dari makna.

Dan tanpa makna, bahkan kehidupan yang paling terlihat ideal pun bisa terasa hampa.

Barangkali kedewasaan bukan tentang seberapa sempurna kita memenuhi harapan.

Melainkan tentang keberanian untuk bertanya:

• Apa yang sebenarnya penting bagi saya?

• Hidup seperti apa yang membuat saya merasa utuh?

• Jika semua suara di luar menjadi sunyi… suara mana yang tersisa di dalam diri?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menghadirkan jawaban cepat.

Tetapi sering kali, di sanalah kebebasan dimulai.

Mungkin kita tidak harus meruntuhkan seluruh hidup yang sudah dibangun.

Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah penyesuaian kecil. Keputusan-keputusan jujur yang pelan-pelan mengembalikan kita pada diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang terlihat ideal di mata orang lain.

Hidup adalah tentang berani mengakuinya sebagai milik kita.

Dan mungkin…

kedamaian pertama lahir bukan ketika semua ekspektasi terpenuhi,

melainkan ketika kita akhirnya memberi diri sendiri izin untuk hidup dengan cara yang terasa benar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arsenal Jangan Senang Dulu, Pep Guardiola Mulai Tebar Teror Usai Manchester City Gebuk Liverpool di Anfield
• 22 jam lalumerahputih.com
thumb
Viral Siswa Siram Air Keras ke Teman Sendiri di Jakpus, Korban Alami Luka di Mata
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
Survei IPI: Gibran, KDM hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Terungkap, Penyebab Kematian Bintang Home Alone Catherine O’Hara
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Proses Demutualisasi BEI, OJK Tunggu Penerbitan PP
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.