Jejak Gelap Jeffrey Epstein di Kalangan Akademia

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Nama Jeffrey Epstein selama ini identik dengan skandal kejahatan seksual yang melibatkan kalangan elite politik dan bisnis global. Namun rangkaian dokumen hukum yang dibuka ke publik dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan sisi lain yang tak kalah mengusik: jejak relasinya yang luas di dunia akademik dan penelitian ilmiah.

Epstein bukanlah ilmuwan. Ia bahkan tidak menamatkan pendidikan tinggi. Namun, berkat kekayaan dan jejaring sosialnya, ia berhasil menyisipkan diri ke dalam komunitas ilmiah elite.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) telah merilis kumpulan berkas tentang Jeffrey Epstein, seorang pelaku kejahatan seksual yang tercela dan terpidana. Epstein dinyatakan meninggal di penjara federal pada tahun 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks, termasuk korbannya anak-anak di bawah umur.

Epstein sebelumnya telah divonis bersalah atas kejahatan seksual pada tahun 2008. Dokumen sebelumnya menunjukkan, beberapa ilmuwan terus berhubungan dan menerima uang darinya. Ini memicu dampak buruk di lembaga penelitian terkemuka.

Namun, dokumen lebih dari tiga juta berkas yang terkait dengan Epstein yang dirilis pada Jumat (30/1/2026), meliputi email, foto, dan dokumen keuangan, telah mengungkap lebih banyak lagi ilmuwan di sekitarnya. Kumpulan berkas yang dipublikasikan oleh Departemen Kehakiman AS ini dikeluarkan setelah Kongres mengesahkan Undang-Undang Transparansi akhir tahun lalu, yang mewajibkan pemerintah federal untuk merilis semua dokumen yang berkaitan dengan pemodal tersebut.

Penyebutan para peneliti tersebut memang tidak menunjukkan kesalahan atau keterlibatan dalam aktivitas kriminal Epstein, tetapi hal itu memberikan gambaran tentang seberapa dalam keterlibatannya dalam beberapa penelitian ilmiah yang didanainya.

Baca JugaBerkas Epstein Membuka Kotak Pandora Pedofilia dalam Relasi Kuasa

Jaringan ilmuwan

Berkas-berkas yang baru dikeluarkan tersebut mencakup informasi baru tentang interaksi antara Epstein dan para ilmuwan yang hubungannya dengan dia sebelumnya sudah diketahui. Misalnya, dokumen-dokumen tersebut berisi korespondensi dari fisikawan teoretis Lawrence Krauss, yang organisasi penyebaran ilmu pengetahuannya menerima 250.000 dollar AS dari Epstein.

“Saya pikir kita sepakat untuk tidak berkomentar!!!!!” tulis Epstein pada tahun 2018, ketika Krauss menanggapi pertanyaan media tentang penyelidikan atas pelanggaran seksual yang menyebabkan pemecatan Krauss dari Arizona State University di Tempe.

Krauss kemudian menjelaskan interaksinya dengan Epstein dalam sebuah email kepada Nature pada Jumat (6/2/2026). “Saya meminta nasihat dari hampir semua orang yang saya kenal ketika tuduhan palsu tentang saya beredar,” kata dia. Namun, dia menegaskan tidak mengetahui “kejahatan mengerikan”, yaitu perdagangan seks, yang kemudian dituduhkan kepada Epstein.

Berkas-berkas tersebut juga menunjukkan bahwa Epstein menyimpan daftar hampir 30 ilmuwan terkemuka, selain Krauss, dan mengungkapkan hubungan lebih dalam yang sebelumnya tidak diketahui dengan beberapa di antaranya. Salah satunya, Lisa Randall, fisikawan teoretis di Universitas Harvard di Cambridge, yang bercanda dalam email dengan Epstein tentang tahanan rumahnya.

Saya terkejut dengan luasnya tuduhan terhadapnya dan sangat menyesal telah menjalin kontak.

Komunikasi ini dilakukan setelah Epstein dipenjara pada tahun 2008 karena meminta hubungan seksual dengan anak di bawah umur, dan ia kemudian berada di bawah tahanan rumah pada tahun 2009. Bahkan, Randall juga mengunjungi pulau pribadinya di Karibia pada tahun 2014. Randall menanggapi hal itu kepada The Harvard Crimson pada Minggu (1/2/2026), “Saya terkejut dengan luasnya tuduhan terhadapnya dan sangat menyesal telah menjalin kontak.”

Di antara kumpulan dokumen terbaru juga terdapat korespondensi di mana beberapa ilmuwan menghubungi Epstein dengan peluang pendanaan. Sebagai contoh, pada tahun 2013, Nathan Wolfe, yang saat itu seorang ahli virologi di Universitas Stanford di California, mengusulkan agar Epstein mendanai studi perilaku seksual mahasiswa untuk menguji "hipotesis virus nafsu seksual kita." Istilah ini untuk menjelaskan hipotesa bahwa mikroorganisme tertentu di vagina dan penis mungkin mendorong peningkatan aktivitas seksual.

Virolog ini disebut hampir 600 kali dalam dokumen berdasar korespondensi profesional. Dan pembicarannya, menyangkut substansi risetnya.

Dalam sebuah email kepada Nature, Wolfe mengatakan bahwa meskipun ia mengunjungi rumah Epstein di New York dan Florida untuk membahas penelitian tersebut, Epstein tidak pernah mendanainya. Wolfe mengatakan ia menyesal "tidak menyadari pada saat itu betapa tidak pantasnya cara Epstein menyampaikan gagasannya" dan hubungannya dengan pengusaha tersebut.

Berkas-berkas dokumen tersebut juga mengonfirmasi bahwa Universitas Harvard menerima sekitar 9,2 juta dollar AS dari Epstein antara tahun 1998 dan 2007, dengan sumbangan tunggal terbesar sebesar 6,5 juta dollar AS pada tahun 2003 yang mendirikan Program untuk Dinamika Evolusi (PED), yang dipimpin oleh Profesor Martin Nowak. Program ini berfokus pada pemodelan matematika proses evolusi, bidang mutakhir yang menggabungkan biologi, matematika, dan ilmu komputer.

Penerima lainnya termasuk Laboratorium Media Institut Teknologi Massachusetts (MIT), yang menerima 800.000 dollar AS setelah vonis, dan ilmuwan individu seperti George Church dari Harvard, yang menerima 2 juta dollar AS melalui perkenalan Epstein. Dokumen-dokumen tersebut merinci bagaimana Epstein mengadakan makan malam dan konferensi di pulau pribadinya, Little St. James, yang dihadiri peraih Nobel dan peneliti top, menciptakan lingkungan di mana pendanaan mengalir bebas tetapi etika dikesampingkan.

Di antara ribuan dokumen tersebut, terdapat satu klip video, yang menunjukkan psikolog dan penulis terkenal Steven Pinker dari Universitas Harvard sedang terbang bersama Epstein di pesawat pribadinya.

"Itu bukan penerbangan yang menyenangkan bahkan pada tahun 2002, bertahun-tahun sebelum Epstein pertama kali dihukum karena kejahatan," kata Pinker tentang perjalanan tersebut, seperti dilaporkan Dan Vergano di Scientificamerican. "Saya langsung tidak menyukai Epstein dan menganggapnya sebagai seorang amatir dan sok pintar," katanya.

Pinker sejauh ini tidak dituduh melakukan kesalahan terkait dengan berkas Epstein. Namun, kehadirannya membuka fakta lebih dalam lagi tentang jejaring penjahat ini dengan kalangan kalangan ilmuwan terkemuka dan berbagai lembaga riset serta pendidikan.

Uang dan Batas Etika

Banyak ilmuwan yang terhubung pada Epstein ini pada dasarnya karena satu alasan mendasar, yaitu pendanaan. Akademia modern bergantung pada pendanaan, dan para ilmuwan sering mencari sponsor untuk mendukung ide-ide besar mereka, mulai dari evolusi genome manusia, kecerdasan buatan, hingga biologi molekuler.

Kebutuhan dana memang menjadi salah satu jawaban mudah mengapa para ilmuwan tertarik pada Epstein. “Para ilmuwan membutuhkan dukungan. Mereka membutuhkan bantuan,” kata Bruce Lewenstein, seorang ahli komunikasi sains di Universitas Cornell, seperti dilaporkan Scientificamerican pada 20 Januari 2026.

Sejarah eksplorasi ilmu pengetahuan modern menunjukkan, para donatur kaya telah mendanai para ilmuwan selama berabad-abad. Penjelajahan para ilmuwan botani dari Eropa ke negara jajahan seperti Indonesia di masa lalu misalnya, semuanya didukung para pengusaha. Mereka telah membayar teleskop untuk menyelidiki atmosfer dunia asing, lembaga pemetaan otak, eksperimen pencegahan malaria, dan banyak lagi. “Itu bukan hal yang baik atau buruk; memang begitulah adanya. Dan itu sudah berlaku selama 400 tahun,” kata Lewenstein.

Tidak seperti banyak donatur lainnya, Epstein biasanya tidak meminta namanya diabadikan di sebuah gedung, dan ia menyumbangkan uang untuk berbagai hal, mulai dari kelompok tari hingga Dewan Hubungan Luar Negeri, menurut laporan Miami Herald tahun 2019.

Dokumen terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan Epstein sering melampaui pendanaan, bahkan mencakup komunikasi langsung yang bermakna dengan beberapa ilmuwan, termasuk setelah vonisnya. Mustahil, mereka tidak mengetahui jejak rekam Epstein, terutama karena relasi itu tetap terbangun, bahkan setelah kejahatannya telah terungkap.

Di luar Amerika, dokumen juga menunjukkan upaya Epstein untuk menyapa akademisi di universitas-universitas seperti Cambridge melalui perantara dengan identitas tersembunyi. Sejumlah ilmuwan yang kemudian muncul dalam arsip tersebut mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui keseluruhan latar belakang kriminalnya saat kerja sama dimulai. Namun, kritik tajam langsung muncul, seberapa jauh etika harus dipertimbangkan ketika menerima dukungan finansial?

Sebelum vonisnya pada tahun 2008 karena meminta anak di bawah umur untuk prostitusi, Epstein menyumbangkan jutaan dollar AS ke Harvard, termasuk sumbangan 6,5 juta dollar AS untuk Program Dinamika Evolusi (PED) Harvard, yang dipimpin oleh matematikawan Martin Nowak itu. Epstein bahkan terus mengunjungi program tersebut setelah vonisnya. Setidaknya, ia melakukannya lebih dari 40 kali hanya pada tahun 2018, dan tetap memiliki kantor di sana.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa transparansi pendanaan dan batas etika antara donor dan peneliti bukan sekadar persoalan administratif, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ia juga menjadi Visiting Fellow di universitas tersebut pada tahun akademik 2005–2006, setelah memberikan sumbangan 200.000 dollar AS kepada departemen psikologi. Setelah vonisnya, para donatur yang ia perkenalkan kepada para ilmuwan Harvard memberikan 9,5 juta dollar AS kepada universitas tersebut.

Kemudian ada sumbangan Epstein ke MIT. Ia menyumbangkan 525.000 dollar AS ke MIT Media Lab dan 225.000 dollar AS kepada profesor teknik mesin Seth Lloyd. Kedua sumbangan tersebut diberikan setelah vonisnya pada tahun 2008 dan ditangani di luar jalur normal, menurut laporan universitas.

Epstein juga mengklaim telah mengatur sumbangan sebesar 7 juta dollar AS dari miliarder Bill Gates dan Leon Black untuk sekolah tersebut. Belakangan, Gates membantah hal ini, dan laporan universitas menyatakan tidak ada bukti upaya untuk "mencuci" uang Epstein dalam sumbangan tersebut.

Meski demikian, dokumen terbaru ini jelas menunjukkan bahwa pengaruh Epstein lebih dalam daripada sekadar mendanai penelitian atau lembaga riset. Percapakan dengan para ilmuwan itu kerapkali menyangkut substansi risetnya, dan hal-hal personal. Dan sebagian di antaranya dilakukan bahkan setelah Epstein dipenjara karena kejahatan seksual. Maka menjadi tandatanya besar, bagaimana etik para ilmuwan ini, dan ilmu pengetahuan yang dihasilkannya?

Salah satu penjelasan yang mengkhawatirkan mengenai dukungan Epstein terhadap sains berasal dari ketertarikannya pada determinisme genetik. Gagasan ini, yang berasal dari era eugenika, masih populer di beberapa kalangan kaya dan dapat dilihat pada perusahaan-perusahaan yang kini menawarkan layanan bayi hasil rekayasa genetika untuk embrio calon orang tua. Pada tahun 2019, New York Times melaporkan bahwa Epstein memiliki ambisi untuk mendirikan "peternakan bayi" untuk membesarkan anak-anak dari wanita yang dihamilinya.

Jejak Epstein di dunia akademik menunjukkan bahwa integritas sains tidak hanya ditentukan oleh metodologi penelitian, tetapi juga oleh sumber daya yang menopangnya. Kasus ini menjadi pengingat bahwa transparansi pendanaan dan batas etika antara donor dan peneliti bukan sekadar persoalan administratif, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pep Guardiola Kirim Ancaman ke Arsenal: Perburuan Gelar Belum Selesai
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Perkuat Inovasi Berbasis Riset, Ubaya Akan Kukuhkan 10 Guru Besar Baru
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemantauan Hilal Awal Ramadan di DIY Dipusatkan di Bantul pada 17 Februari
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
PHRI Tekankan Sektor Pariwisata Punya Efek Ganda Dongkrak Ekonomi
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Saham AS Naik Jelang Rilis Ketenagakerjaan dan Inflasi, Dow Jones Cetak Rekor Baru
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.