Merangkai bunga kini dimaknai sebagai bentuk self-care modern di tengah gaya hidup urban yang penuh tekanan.
Tren ini tercermin dalam pelaksanaan Flower Arrangement Workshop yang digelar Alayya’s Community pada hari ini di Jakarta, menghadirkan ruang jeda bagi peserta lintas profesi untuk merawat kesehatan mental melalui aktivitas kreatif.
Beauty, kegiatan ini dipandu oleh drg. Safira Khairina, M.Kes, dokter gigi sekaligus praktisi kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa workshop ini lahir dari kebutuhan akan ruang escape yang sehat, khususnya bagi para profesional dengan tingkat stres tinggi, termasuk tenaga kesehatan.
“Sebagai tenaga kesehatan, dokter, dokter gigi, psikolog. Kita terbiasa fokus pada orang lain. Kadang kita lupa memberi ruang untuk diri sendiri. Aktivitas seperti flower arrangement ini adalah bentuk positive escaping: kita tenggelam dalam proses kreatif, fokus, lupa waktu, dan pulang dengan perasaan lebih ringan,” ujar Safira.
Workshop ini tidak hanya diikuti oleh tenaga kesehatan. Peserta berasal dari beragam latar belakang, seperti arsitek, dosen, pialang, jurnalis, hingga entrepreneur.
Seluruh peserta terlibat aktif dalam proses merangkai bunga, yang dirasakan sebagai pengalaman menyenangkan sekaligus menenangkan.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Alayya’s Community, komunitas pencinta bunga dan pegiat gastronomi. Sesi merangkai bunga dipandu oleh Rini Djafar, coach seni merangkai bunga yang telah lama menggelar kelas serupa, terutama di Bali.
Rini menyebut ketertarikan terhadap flower arrangement dari kalangan tenaga kesehatan sudah terlihat sejak lama.
“Di banyak kelas saya, peserta dari kalangan nakes cukup dominan. Mereka datang untuk healing, mencari ketenangan, dan menyalurkan kreativitas. Peserta kelas saya juga sangat beragam, mulai dari Gen Z hingga usia 82 tahun,” jelas Rini.
Fenomena ini berjalan seiring dengan pertumbuhan industri bunga di Indonesia hingga 2025–2026. Fungsi bunga tidak lagi terbatas sebagai elemen dekoratif, tetapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan perhatian terhadap kesehatan mental. Workshop seni bunga pun kini bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial dan emosional lintas profesi.
Melalui kegiatan ini, Safira berharap flower arrangement dapat diterima lebih luas sebagai aktivitas self-care yang inklusif dan mudah diakses.
“Healing itu tidak selalu harus pergi jauh. Kadang cukup duduk, merangkai bunga, dan hadir penuh di momen tersebut,” tutupnya.





