Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan piutang pembiayaan perusahaan multifinance pada 2026 tumbuh 6%—8% year-on-year (YoY).
Praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody berpendapat outlook OJK tersebut cukup realistis, meski per Akhir 2025 piutang pembiayaan multifinance hanya tumbuh tipis 0,61% YoY.
“Saya rasa target OJK cukup realistis dan tentunya bisa terealisasi bila tingkat suku bunga bisa bertahan dan likuiditas di pasar membaik,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (10/2/2026).
Jodjana bercerita untuk 2025 dirinya pernah memprediksi piutang pembiayaan multifinance tumbuh tipis sekitar 5%-6%. Hal ini berkaca pada pasar otomotif yang tergerus hingga 7%-8% dan sudah memperhitungkan diversifikasi pembiayaan ke sektor lain.
Sebab demikian dia menilai pertumbuhan pada 2026 juga masih berat, mengingat goncangan global yang masih tinggi dan disertai dengan ketidakpastian sektor keuangan di dalam negeri.
Menurutnya, gejolak di pasar keuangan dikhawatirkan membuat konsumen lebih hati-hati dalam membelanjakan dana untuk kebutuhan bernilai besar (big ticket items), sehingga akan turut berpengaruh ke pertumbuhan pembiayaan.
“Selain itu, [penjualan] sektor otomotif pun diperkirakan stabil seperti angka tahun lalu di 830 ribu-850 ribu saja, sedangkan kendaraan dora dua masih sekitar 6,5 juta unit,” sebut Jodjana.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar perusahaan pembiayaan lebih teliti dalam melihat sektor dan wilayah mana yang dapat tumbuh dan berkontribusi terhadap total piutang pembiayaan.
“Misalnya tahun lalu, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi pertumbuhan konsumsinya lebih baik dari Jawa dan tahun ini kita mesti memantau apakah tren tersebut masih berlanjut. Serta, diversifikasi pembiayaan harus terus diupayakan dan tidak tergantung pada sektor otomotif semata,” tegasnya.
Meski demikian, Jodjana tidak menampik bahwa pertumbuhan industri multifinance saat ini masih didominasi oleh pengaruh pembiayaan kendaraan bermotor. Hal ini karena sifat collateral-nya yang liquid dan sudah teruji mampu menyeimbangkan (balancing) NPF.
“Sebab itu, tantangannya adalah melirik pembiayaan sektor lain, yang tentunya mesti di-testing terus menerus. Pembiayaan modal kerja dan investasi juga masih bisa ditingkatkan dan jangan terpaku pada pembiayaan multiguna saja,” pungkasnya.





