Ratusan sopir angkutan kota (angkot) mogok massal dan menggelar aksi di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Selasa (10/2). Aksi ini dipicu peluncuran bus Trans Bekasi Keren (Trans Beken) yang dinilai sepihak, minim sosialisasi, dan mengambil trayek angkot yang sudah puluhan tahun menjadi tumpuan hidup para pengemudi.
Sedikitnya 300 sopir angkot turun ke jalan sebagai bentuk protes. Dampaknya di lima trayek utama berhenti total, memaksa warga mencari alternatif transportasi di tengah jam sibuk.
Adapun trayek yang lumpuh:
Angkot 25 (Rawa Panjang–Stasiun Cakung)
Angkot 07 (Terminal Bekasi–Seroja)
Angkot 11 (Bantar Gebang–Terminal Bekasi)
Angkot 10 (Pondok Ungu–Terminal Bekasi)
Angkot 30 (Terminal Bekasi–Taman Harapan Baru/THB)
Wakil Ketua Organda Kota Bekasi, Rm Purwadi, menilai Pemkot Bekasi gegabah meluncurkan Trans Beken tanpa koordinasi dengan pelaku transportasi eksisting. Kebijakan tarif gratis di awal operasional disebut memberatkan sopir angkot yang hidup dari setoran harian.
“Jalur baru dibuka, tapi tidak ada sosialisasi ke trayek yang terdampak. Halte belum disepakati, jam operasional bus tidak dibatasi, ditambah tiket gratis. Ini membuat penumpang angkot hilang drastis,” tegas Purwadi.
Keluhan serupa disampaikan Entus, sopir angkot yang mengaku pendapatannya anjlok lebih dari 50 persen sejak Trans Beken beroperasi.
“Sebelum ada bus saja kami sudah susah cari setoran. Sekarang penumpang makin sedikit. Kami hidup dari setoran harian, jangan sampai rute kami diambil begitu saja,” ujarnya lirih.
“Kalau Bus Gratis, Kami Makan Apa?"
Para sopir mendesak Dinas Perhubungan Kota Bekasi segera mengevaluasi kebijakan Trans Beken, mulai dari penataan trayek, pembatasan armada, jam operasional, hingga mekanisme transisi yang adil. Mereka menolak modernisasi transportasi yang dilakukan dengan mengorbankan pengemudi kecil.





