Setiap tanggal 10 Februari diperingati sebagai Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulses Day). Dikutip dari laman Food and Agriculture Organization of the United Nations, peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran kacang-kacangan dalam membangun sistem pangan yang lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Di Indonesia sendiri, kacang-kacangan sudah jadi bagian dari menu sehari-hari. Salah satu yang paling familiar tentu saja kacang hijau. Mengutip laman Kementerian Kesehatan, kacang hijau termasuk sumber gizi yang baik karena tinggi protein, rendah lemak jenuh, rendah sodium, dan mengandung antioksidan.
Menurut Mustakim (2014), lebih dari 65 persen kebutuhan protein dan 80 persen kebutuhan energi dalam pola makan penduduk di negara-negara sedang berkembang, dipenuhi oleh sumber pangan nabati. Selain itu, kacang hijau juga mudah ditemukan, mulai dari pasar tradisional, warung kecil, sampai supermarket. Tanamannya juga bisa tumbuh hampir sepanjang tahun, jadi stoknya relatif stabil dan mudah didapat.
Dalam momentum World Pulses Day, pakar Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, menyoroti potensi kacang hijau sebagai pangan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk mencegah stunting.
"Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa (kacang-kacangan), itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi,” kata Prof Ali Khomsan, dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dikutip dari laman IPB University, Selasa (10/2).
Selain itu, kata dia, harga kacang hijau juga tergolong murah sehingga terjangkau bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Menurutnya, pemanfaatan kacang hijau sebagai makanan tambahan di posyandu dapat berkontribusi pada peningkatan asupan protein anak, terutama bagi mereka yang mengalami stunting, gizi kurang, atau gizi buruk.
Namun, ia menegaskan bahwa pemberian makanan tambahan tidak bisa dilakukan secara sporadis. “Kalau di posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang selama tiga bulan, ada yang sampai enam bulan,” jelasnya.
Prof Ali Khomsan menilai olahan kacang hijau dalam bentuk bubur, camilan, atau produk pangan lainnya relatif mudah diterima oleh anak-anak. Hal ini menjadikan kacang hijau berpotensi sebagai pangan lokal yang dapat diandalkan dalam upaya perbaikan gizi anak Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa protein nabati memiliki daya cerna dan daya serap yang lebih rendah dibandingkan protein hewani. Oleh karena itu, kacang hijau tidak dapat berdiri sendiri sebagai solusi tunggal penanggulangan stunting.
“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu, telur, atau sumber hewani lainnya. Tetapi pangan lokal kacang hijau ini tetap perlu dioptimalkan,” katanya.
Ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu dan edukasi gizi masyarakat.





