Penulis: Fityan
TVRINews-Paris,Prancis
Presiden Prancis menyerukan kemandirian ekonomi dan pertahanan di tengah ketidakpastian relasi dengan AS, China, dan Rusia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengeluarkan seruan tegas bagi Uni Eropa untuk segera bertransformasi menjadi kekuatan global yang mandiri.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan sejumlah media Eropa menjelang KTT Uni Eropa di Brussels, Macron menegaskan bahwa benua tersebut kini menghadapi "panggilan untuk sadar" (wake-up call) di tengah pergeseran geopolitik dunia yang semakin tidak menentu.
"Apakah kita siap untuk menjadi sebuah kekuatan? Ini adalah pertanyaan kunci di sektor ekonomi, keuangan, pertahanan, keamanan, hingga sistem demokrasi kita," ujar Macron.
Ia menambahkan bahwa saat ini adalah momentum bagi Eropa untuk menyatakan kedewasaan politiknya di panggung internasional.
Inisiatif Ekonomi dan 'Eurobonds'
Salah satu poin krusial yang diusung Macron adalah desakan untuk meluncurkan kapasitas utang bersama guna mendanai investasi industri besar-besaran.
Menurutnya, Uni Eropa memerlukan dana sekitar €1,2 triliun (sekitar Rp20.300 triliun) per tahun untuk memperkuat sektor keamanan, energi bersih, dan kecerdasan buatan (AI).
"Waktunya telah tiba untuk meluncurkan kapasitas utang bersama guna mendanai pengeluaran masa depan kita—eurobonds untuk masa depan," tegasnya.
Meskipun usulan ini kerap menuai skeptisisme dari negara-negara seperti Jerman yang mengutamakan disiplin fiskal, Macron mengakui bahwa Prancis sendiri perlu belajar dari reformasi ekonomi yang sukses di negara-negara selatan seperti Portugal dan Spanyol. Namun, ia melihat adanya permintaan besar dari pasar global akan alternatif selain dolar AS.
Navigasi di Antara Kekuatan Besar
Macron menyoroti posisi unik Eropa di tengah persaingan Amerika Serikat (AS) dan China. Ia mengkritik model otoriter China dan menyatakan keprihatinan atas AS yang menurutnya semakin menjauh dari prinsip negara hukum yang stabil.
Terkait hubungan dengan Washington, Macron memperingatkan para pemimpin Eropa agar tidak terlena oleh meredanya ketegangan sesaat, merujuk pada insiden klaim teritorial Greenland yang sempat memicu ketegangan.
"Jangan percaya sedetik pun bahwa ancaman itu telah berakhir. Ada kecenderungan pengecut untuk merasa lega ketika sebuah krisis tampak mereda," tuturnya.
Eropa yang Berdaulat
Presiden Prancis ini menekankan bahwa ketergantungan pada energi murah dari Rusia dan jaminan keamanan abadi dari AS kini telah menjadi masa lalu. Dengan populasi 450 juta jiwa, ia meyakini Eropa memiliki modal yang cukup untuk berdiri sendiri.
"Hari ini, kita warga Eropa sendirian. Namun kita memiliki satu sama lain," kata Macron. "Kita bersatu untuk menghentikan perang dan membangun pasar. Namun, selama ini kita selalu melarang diri kita sendiri untuk berpikir tentang kekuasaan. Kini, saatnya berubah."
Menutup pernyataannya, ia menyerukan kebijakan perdagangan yang lebih koheren. Tanpa bermaksud menjadi proteksionis, Macron menuntut agar Eropa tidak menerapkan aturan ketat pada produsen domestik yang tidak diberlakukan kepada pesaing non-Eropa.
Editor: Redaktur TVRINews





