Membaca Ekspresi Emosi Kakatua Raja dari Perubahan Warna Pipinya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kakatua raja selalu tampak seperti burung yang menyimpan rahasia besar di wajahnya. Tubuhnya hitam legam, besar, dan tegas, memberi kesan anggun sekaligus misterius. Sekilas, ia terlihat tenang, bahkan dingin. Namun, jika diamati lebih lama, ada satu bagian tubuh yang seolah hidup sendiri. Pipi merahnya tampak menyala, lalu perlahan bisa meredup. Di situlah rahasianya berada. Pipi merah pada kakatua raja bukan sekadar hiasan biologis. Ia adalah penanda emosi yang jujur, spontan, dan sulit disembunyikan.

Dalam dunia satwa, ekspresi emosi sering kali tidak sejelas pada manusia. Banyak hewan mengekspresikan perasaan lewat suara, gerak tubuh, atau perubahan perilaku. Kakatua raja menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia menampilkan emosinya langsung di wajah. Perubahan warna pipi menjadi semacam bahasa visual. Bahasa ini memberi petunjuk tentang suasana hati, tingkat stres, kondisi kesehatan, hingga situasi sosial yang sedang dihadapi. Bagi peneliti perilaku hewan, kakatua raja sering disebut sebagai spesies yang ekspresif. Ia seperti buku terbuka yang bisa dibaca, asalkan kita mau belajar memahami isyaratnya.

Nama ilmiah burung ini adalah Probosciger aterrimus. Di Indonesia, kakatua raja dikenal dengan beragam nama lokal. Di Kepulauan Aru, ia disebut alkai. Di Sorong, ia dikenal sebagai sangya. Di beberapa wilayah Papua lainnya, ia dipanggil siong. Dunia internasional mengenalnya sebagai palm cockatoo atau goliath cockatoo. Ia adalah satu-satunya anggota genus Probosciger, menjadikannya spesies yang unik secara evolusioner. Wilayah asalnya meliputi Papua, Kepulauan Aru, Papua Nugini, dan Australia bagian utara, terutama Semenanjung Cape York.

Dari segi ukuran, kakatua raja adalah raksasa di antara keluarga kakatua. Panjang tubuhnya bisa mencapai enam puluh sentimeter. Berat badannya berkisar antara delapan ratus gram hingga lebih dari satu kilogram. Rentang sayapnya mendekati satu meter. Ukuran ini menjadikannya kakatua terbesar di dunia. Posturnya tegap dan berwibawa. Saat terbang, kepakan sayapnya tampak berat tetapi stabil. Ia bukan burung yang gesit bermanuver cepat, tetapi kuat dan konsisten melintasi kanopi hutan.

Hampir seluruh tubuh kakatua raja diselimuti bulu hitam pekat. Warna hitam ini menutupi badan, leher, sayap, hingga ekor. Di bagian kepala, terdapat jambul tinggi yang bisa ditegakkan hingga lima belas sentimeter. Jambul ini sering berdiri saat burung merasa terancam, bersemangat, atau sedang berkomunikasi. Paruhnya besar, tebal, dan berwarna hitam keabu-abuan. Struktur paruh atas dan bawah tidak simetris, sehingga paruhnya tidak bisa menutup rapat. Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuatnya sangat efektif untuk memecah biji keras.

Kaki kakatua raja kuat dan kokoh. Susunan jari kakinya khas burung paruh bengkok, dengan dua jari menghadap ke depan dan dua ke belakang. Struktur ini memungkinkannya mencengkeram dahan dengan stabil. Kaki dan paruhnya sering bekerja bersamaan saat makan. Ia bisa memegang makanan dengan kaki, lalu memecahnya perlahan dengan paruh. Di tengah semua ciri fisik itu, kulit pipi merah menjadi penanda paling ikonik. Pipi ini tidak ditutupi bulu, sehingga perubahan warnanya terlihat jelas.

Pipi merah kakatua raja bukan bulu berwarna, melainkan kulit tanpa bulu yang kaya pembuluh darah. Warna merah muncul karena aliran darah di bawah permukaan kulit. Saat burung merasa bersemangat, terangsang, atau agresif, pembuluh darah melebar. Aliran darah meningkat dan warna pipi tampak lebih cerah. Sebaliknya, saat burung merasa takut, tertekan, atau stres, aliran darah menurun dan warna pipi menjadi pucat. Mekanisme ini mirip dengan wajah manusia yang memerah saat malu atau marah.

Fenomena ini dijelaskan dalam berbagai studi perilaku burung. Ahli etologi burung, Gisela Kaplan, dalam bukunya Bird Color Signals tahun 2015, menyebut perubahan warna kulit sebagai sinyal visual cepat. Sinyal ini efektif untuk komunikasi jarak dekat tanpa suara. Pada spesies tertentu, sinyal visual lebih aman dibandingkan suara yang bisa menarik predator. Pada kakatua raja, sistem ini berkembang sangat kuat dan presisi. Perubahan warna pipi bisa terjadi dalam hitungan detik, mengikuti perubahan emosi.

Penelitian lapangan oleh Robert Heinsohn dan rekan-rekannya pada tahun 2003 memperkuat temuan ini. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Behaviour itu mengamati interaksi sosial kakatua raja jantan di alam liar. Hasilnya menunjukkan hubungan jelas antara warna pipi dan kondisi emosional. Saat burung berada dalam situasi kompetitif atau mendekati musim kawin, warna pipi tampak lebih merah. Saat burung menghindari konflik atau merasa terancam, warna pipi memudar. Temuan ini sejalan dengan teori sinyal biologis Charles Darwin tentang ekspresi emosi melalui perubahan fisik.

Soal makanan, kakatua raja dikenal sebagai pemakan biji keras. Ia menyukai biji kenari, kacang hutan, buah pandanus, serta tunas daun. Paruh besarnya memungkinkan ia mengakses sumber makanan yang tidak bisa dijangkau burung lain. San Diego Zoo Wildlife Explorer mencatat kemampuannya membuka buah pandan yang terkenal keras. Lidahnya berfungsi menahan makanan agar tidak terlepas saat paruh bekerja. Aktivitas mencari makan dilakukan di pohon dan di tanah. Biasanya ia aktif dari pagi hingga siang, lalu kembali ke sarang saat sore.

Habitat utama kakatua raja adalah hutan hujan tropis dataran rendah. Ia juga ditemukan di hutan sekunder dan tepi savana berhutan. Di Indonesia, burung ini dapat hidup hingga ketinggian sekitar seribu meter di atas permukaan laut. Ia cenderung menghindari keramaian. Kelompoknya kecil, biasanya terdiri dari satu hingga enam individu. Kakatua raja sangat selektif dalam memilih tempat bersarang. Ia memilih lubang pohon tua yang bagian atasnya terbuka. Pohon tersebut sering berusia lebih dari seratus tahun, membuat burung ini sangat bergantung pada keberadaan hutan tua.

Reproduksi kakatua raja berlangsung lambat dan penuh kesabaran. Musim kawin terjadi antara Agustus hingga Januari. Betina hanya menghasilkan satu butir telur setiap musim. Telur dierami selama sekitar tiga puluh hari. Anak burung tinggal di sarang selama seratus hari atau lebih sebelum bisa terbang. Setelah keluar sarang, anak masih bergantung pada induk dalam waktu lama. Kematangan seksual baru dicapai pada usia tujuh atau delapan tahun. Pola hidup ini membuat populasinya sulit pulih jika terjadi gangguan besar.

Kakatua raja juga dikenal sebagai burung yang cerdas. Ia mampu menirukan suara manusia dan bunyi lingkungan. Salah satu keistimewaan paling unik adalah perilaku bermain drum. Burung jantan menggunakan tongkat untuk memukul lubang pohon. Setiap individu memiliki irama khas. Aktivitas ini digunakan untuk menarik perhatian betina dan menandai wilayah. Perilaku ini menunjukkan kemampuan kognitif tinggi. Tidak banyak burung di dunia yang menggunakan alat secara konsisten untuk komunikasi ritual.

Umur kakatua raja tergolong panjang. Di alam liar, ia dapat hidup antara empat puluh hingga enam puluh tahun. Di penangkaran, beberapa individu tercatat mencapai usia hingga sembilan puluh tahun. Umur panjang ini berpadu dengan tingkat reproduksi yang rendah. Kombinasi tersebut membuat spesies ini sangat rentan terhadap perburuan dan perdagangan ilegal. Penyusutan hutan tua memperparah kondisi. Tekanan ini secara langsung memengaruhi stabilitas populasi jangka panjang.

Saat ini, status konservasi kakatua raja adalah Near Threatened menurut IUCN Red List 2023. Populasinya diperkirakan berada di kisaran dua ratus enam puluh hingga empat ratus enam puluh ribu individu, dengan tren menurun perlahan. Di Indonesia, burung ini dilindungi penuh melalui Permen LHK P106 Tahun 2018. Perlindungan ini diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Pasal 21 dan Pasal 40 mengatur larangan serta ancaman pidana bagi pelanggar. Membaca emosi kakatua raja dari pipinya mengajarkan satu hal penting. Alam selalu berbicara. Kita hanya perlu mau mendengar dan peduli.

Daftar Pustaka

Heinsohn, R., et al. Social Signals and Color Change in Palm Cockatoos. 2003. Animal Behaviour.

https://www.sciencedirect.com/journal/animal-behaviour

Kaplan, G. Bird Color Signals. 2015. CSIRO Publishing.

https://www.publish.csiro.au

Forbes. The Drumming Cockatoo. 12 September 2018.

https://www.forbes.com

IUCN. Probosciger aterrimus Red List Assessment. 2023.

https://www.iucnredlist.org


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Strategi Pertamina Patra Niaga dalam Menjaga Ekosistem
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Debut Menanti, Layvin Kurzawa Ingin Persib Menang dan Tak Kebobolan Lawan Ratchaburi
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Green Day Tampil di Super Bowl LX, namun Politiknya Diredam
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Album Baru Bernadya Sangat Berbeda, Lagu Bawa Tema Ketakutan dan Kebahagiaan
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
Pemerintah Sepakati Ekspor Beras ke Arab Saudi untuk Jamaah Haji Indonesia
• 17 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.