BEKASI, KOMPAS.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menilai penolakan sopir angkutan kota (angkot) terhadap pengoperasian bus Trans Beken dipicu minimnya sosialisasi kebijakan serta kekhawatiran hilangnya sumber penghasilan.
“Saya kira ini nanti hanya perlu sosialisasi. Karena sebetulnya mereka bergerak pada tempat-tempat yang berbeda. Ini bagian dari proses demokrasi. Bahwa intinya kan karena ketakutan rezeki yang hilang,” ujar Tri saat ditemui di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Selasa.
Tri menjelaskan, rencana pengoperasian jalur baru transportasi massal tidak sepenuhnya tumpang tindih dengan trayek angkot.
Baca juga: Ratusan Sopir Angkot Mogok di Bekasi, Lima Trayek Tak Beroperasi
Ia mencontohkan, angkot K-02 nantinya hanya beririsan di sejumlah titik tertentu.
“Nantinya angkot K-02 kemungkinan ketemunya hanya dari Timur sampai ke Sudirman. Setelah itu dia ketemu lagi nanti kembalinya dari stasiun ke terminal,” katanya.
Menurut Tri, kekhawatiran sopir angkot lebih didorong asumsi akan berkurangnya penumpang.
Padahal, kehadiran transportasi massal justru berpotensi menarik penumpang baru yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi daring.
“Jadi saya kira hal-hal tersebut hanya ada ketakutan saja bahwa nanti akan ada satu pengurangan. Tapi justru ini memunculkan tumbuhnya penumpang baru,” ujarnya.
Ia menegaskan, benturan trayek hanya terjadi di beberapa ruas jalan dan tidak dari awal hingga tujuan akhir. Pemerintah, kata Tri, bertugas menyiapkan pilihan moda transportasi bagi masyarakat.
Baca juga: Sopir Angkot Bekasi Demo Tolak Bus Trans Beken, Khawatir Mata Pencaharian Terancam
“Saya kira penumpang akan banyak pilihan-pilihan. Dan pemerintah adalah menyiapkan menunya,” kata Tri.
Tri menganalogikan kebijakan tersebut seperti persaingan usaha di pasar. Menurut dia, setiap moda transportasi memiliki segmen dan keunggulan masing-masing.
“Sama dengan kita jualan di pasar, ada yang jual cabai juga jual cabai. Ada yang restoran sama-sama jual. Tinggal menunya saja yang berbeda. Ada menu Trans Patriot, ada menu angkot. Tinggal bagaimana hari ini mereka bisa bersinergi, bisa bersama-sama,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa jumlah armada bus yang akan dioperasikan tidak banyak, serta memiliki keterbatasan dibanding angkot.
“Cuma ada sembilan. Kalau angkot kan bisa di setiap waktu, di setiap shelter mereka bisa mengangkat dan memberhentikan. Kalau ini kan hanya pada shelter-shelter tertentu saja,” ujar Tri.
Meski demikian, Tri menegaskan pemerintah daerah tetap hadir untuk mendengar aspirasi masyarakat.
Baca juga: Penumpang Dipaksa Turun di Jalan Ahmad Yani Bekasi Imbas Sopir Angkot Mogok
“Ini adalah satu bentuk bagaimana pemerintah harus hadir juga melihat dan mendengarkan apa yang diinginkan oleh warga masyarakatnya,” katanya.
Sebelumnya, ratusan sopir angkutan kota menggelar aksi mogok dan demonstrasi sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pengoperasian jalur baru Bus Trans Beken yang dinilai mengancam kelangsungan usaha angkot.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lapangan, sedikitnya lima trayek angkot untuk sementara waktu tidak beroperasi, yakni Angkot 25 rute Rawa Panjang–Stasiun Cakung, Angkot 07 rute Terminal Bekasi–Seroja, Angkot 11 rute Bantar Gebang–Terminal Bekasi, Angkot 10 rute Pondok Ungu–Terminal Bekasi, serta Angkot 30 rute Terminal Bekasi–Taman Harapan Baru (THB).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




