Pemulihan harga bitcoin setelah aksi jual tajam pekan lalu mulai menemui hambatan, laju rebound terlihat tersendat dan kembali memicu keraguan pelaku pasar pada awal perdagangan di Rabu (11/2).
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin bahkan kembali meluncur ke US$68.000. Penurunan tersebut memperkuat pandangan bahwa reli yang terjadi sebelumnya bisa jadi hanya sementara.
Baca Juga: Institusi Masuk, Harga Bitcoin (BTC) Kembali Terkoreksi ke US$68.000
Sejumlah trader kini menilai pergerakan tersebut sebagai bear market rally, yaitu reli singkat yang sering muncul di tengah tren turun. Pola ini biasanya menarik pembeli di harga rendah, namun segera dihadang tekanan jual dari investor yang memanfaatkan momentum untuk keluar di harga lebih baik.
Chief Market Analyst FxPro, Alex Kuptsikevich menilai suplai bitcoin dalam pasar masih sangat besar.
“Masih ada suplai besar dari investor yang ingin keluar dari aset kripto pertama ini saat terjadi rebound. Dalam kondisi seperti ini, pasar perlu bersiap menguji kembali moving average dua ratus pekan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemulihan yang terjadi sejauh ini mulai kehilangan momentum sejak akhir pekan, setelah menghadapi aksi jual di area kapitalisasi pasar kripto sekitar US$2,4 Triliun.
Data sentimen turut memperkuat pandangan pesimistis. Crypto Fear and Greed Index tercatat turun ke level extreme fear, mencerminkan kehati-hatian tinggi investor. Menurut Kuptsikevich, level sentimen tersebut masih terlalu rendah untuk menjadi dasar akumulasi yang meyakinkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekhawatiran pasar bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan refleksi dari tekanan struktural yang masih berlangsung.
Faktor lain yang memperburuk situasi adalah likuiditas pasar yang menipis. Ketika order book tidak dalam, tekanan jual yang relatif kecil dapat memicu penurunan harga tajam. Efek berantai berupa stop-loss dan likuidasi tambahan membuat pergerakan harga bitcoin terasa tidak teratur.
Fenomena ini menjelaskan mengapa bitcoin bisa berfluktuasi ribuan dolar dalam satu sesi, namun tetap gagal menembus level resistensi penting.
Secara historis, pembentukan dasar harga bitcoin jarang terjadi secara cepat. Prosesnya bisa memakan waktu berbulan-bulan dan sering diwarnai oleh beberapa reli gagal sebelum tren benar-benar berbalik arah.
Dalam jangka pendek, kemampuan bitcoin bertahan di area saat ini menjadi kunci. Jika pembeli mampu mempertahankannya, pasar berpotensi bergerak sideways dengan volatilitas tinggi. Namun jika level tersebut jebol, tekanan jual bisa kembali meningkat dengan cepat, terutama jika kondisi global masih risk-off.
Baca Juga: Strategy Konsisten Serok Bitcoin, Kepemilikan Tembus 714.644 BTC
Pergerakan bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya pulih dari tekanan jual. Rebound yang melemah, sentimen ekstrem, dan likuiditas tipis menjadi kombinasi yang rawan memicu volatilitas lanjutan. Bagi Indonesia sendiri, investor dituntut untuk berhati-hati, manajemen risiko tetap menjadi strategi utama di tengah ketidakpastian pasar kripto.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489440/original/077787100_1769865925-Futsal_Indonesia_vs_Irak-7.jpg)

