Seorang narapidana di Ankara, Turki, diduga membunuh tiga wanita dari satu keluarga. Pembunuhan itu memicu kemarahan dari kelompok feminis yang menyebut pembunuhnya merupakan anggota keluarga korban yang dipenjara dan dibebaskan sementara dengan izin harian.
Dilansir AFP, Selasa (10/2/2026), ketiga korban adalah ibu, istri, dan putri dari pelaku. Setelah membunuh tiga orang keluarganya, pelaku kemudian menembak dirinya sendiri.
"Tahun lalu, enam wanita dibunuh oleh narapidana yang melarikan diri dari penjara atau dibebaskan sementara. Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri tidak mengatakan apa pun dan tidak ada yang bertanggung jawab! Dan hari ini, narapidana lain kembali menebar teror," tulis Komite Solidaritas Perempuan di X.
Menurut laporan kantor berita Turki, DHA, tersangka yang menjalani hukuman di Turki barat laut karena penipuan dan ancaman bersenjata, telah dibebaskan dari penjara pada awal Februari untuk jangka waktu 11 hari. Kelompok advokasi Turki We Will Stop Femicide juga mengecam pembunuhan tersebut dan menyerukan protes di Ankara.
Data dari kelompok tersebut menunjukkan ada 294 wanita dibunuh oleh pria dan 297 wanita ditemukan tewas dalam keadaan mencurigakan pada tahun 2025. Dari korban yang tewas, 35 persen dibunuh oleh suaminya dan 57 persen dibunuh dengan senjata api.
(fas/haf)




