PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) melihat dinamika industri otomotif nasional, khususnya segmen kendaraan komersial, dipengaruhi kondisi ekonomi makro dan arah kebijakan pemerintah.
Di tengah situasi pasar yang fluktuatif, pabrikan menilai dukungan insentif menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Isuzu menilai sektor kendaraan niaga memiliki karakter berbeda dibandingkan kendaraan penumpang, karena sangat bergantung pada aktivitas bisnis dan logistik nasional. Ketika pergerakan ekonomi membaik, permintaan kendaraan komersial biasanya ikut meningkat karena berkaitan langsung dengan operasional pelaku usaha.
Business Strategy Division Head IAMI, Rian Erlangga, menjelaskan bahwa insentif pemerintah menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan industri. Selain itu, keberlanjutan kebijakan fiskal dinilai mampu memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk merencanakan strategi jangka panjang.
“Nah, jadi, pertama adalah faktor pergerakan ekonomi, tentunya didukung juga oleh insentif dari pemerintah,” ujar Rian saat ditemui di Kemayoran, Selasa (10/2/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini kendaraan komersial sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan dari sisi kebijakan pajak, seperti PPNBM yang berada di angka nol. Namun demikian, pihaknya masih melihat adanya peluang untuk menghadirkan insentif tambahan yang dapat memperkuat daya saing industri.
“Kita sebetulnya juga dalam insentif ini memang salah satunya komersial, bahkan yang sedang dibahas itu menjadi proposal kami, yaitu insentif komersial. Di mana PPNBM secara komersial itu sudah nol,” lanjutnya.
Menurut Rian, kebijakan insentif tambahan akan sangat membantu produsen yang telah berinvestasi besar di Indonesia, terutama perusahaan yang memiliki fasilitas manufaktur lokal. Hal ini dinilai penting karena industri otomotif memiliki efek domino yang luas terhadap rantai pasok dan tenaga kerja.
Ia menegaskan bahwa Isuzu merupakan perusahaan yang telah lama beroperasi dan menanamkan investasi di Indonesia. Ekosistem yang dibangun melibatkan banyak pihak, mulai dari pemasok komponen hingga jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah.
“Tapi ya mudah-mudahan kami ada kabar baik, nanti ada faktor insentif lainnya yang memang Isuzu bisa dapatkan. Dikarenakan kami ini perusahaan manufaktur yang sudah lama berinvestasi di Indonesia, melibatkan tenaga kerja yang cukup banyak dari mulai tier 1 sampai tier 4,” jelasnya.
Lebih lanjut, Isuzu berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap pabrikan yang memiliki basis produksi dalam negeri. Dukungan kebijakan dinilai tidak hanya membantu produsen, tetapi juga menjaga stabilitas industri nasional secara keseluruhan.
Dengan adanya kombinasi antara perbaikan kondisi ekonomi dan kebijakan insentif yang tepat, Isuzu optimistis sektor kendaraan komersial masih memiliki peluang pertumbuhan.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai basis manufaktur otomotif di kawasan.



