Setelah hampir 22 tahun tidak dilalui kereta api, Jalur Kereta Api (KA) Kalisat–Bondowoso–Panarukan kembali menunjukkan peluang untuk diaktifkan.
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya menyatakan komitmennya mendorong reaktivasi jalur legendaris yang pernah menjadi primadona transportasi masyarakat Bondowoso dan sekitarnya.
Komitmen tersebut disampaikan Denny Michels Adlan Kepala BTP Surabaya saat menerima kunjungan kerja Komisi 3 DPRD Kabupaten Bondowoso.
Ia mengungkapkan bahwa tahapan awal reaktivasi telah dilakukan melalui penyelesaian Survei Identifikasi Desain (SID) pada jalur KA nonaktif lintas Kalisat–Bondowoso–Panarukan.
“Setelah masa posko Natal dan Tahun Baru, kami melaksanakan survei dan telah memetakan keseluruhan jalur pada lintas Kalisat hingga Bondowoso,” ujar Denny.
SID tersebut rampung pada Selasa, 27 Januari 2026, setelah dilakukan selama sekitar satu pekan. Survei ini bertujuan memetakan kondisi eksisting jalur nonaktif, mulai dari trase rel, jembatan, bangunan stasiun, hingga kondisi lahan di sekitarnya. Tim juga mencatat berbagai potensi hambatan teknis dan sosial yang perlu ditangani sebelum jalur kembali dioperasikan.
“Survei ini menjadi dasar bagi tahap perencanaan berikutnya. Kami mengambil gambar dan melakukan plotting dengan GPS agar seluruh kondisi jalur dapat terpetakan secara akurat,” jelas Denny dalam keterangan resmi yang diterima suarasurabaya.net.
BACA JUGA: Jalur KA Kalisat-Bondowoso, BTP Surabaya Petakan Peluang Pembukaan Kembali
Denny menambahkan, hasil SID menunjukkan sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Beberapa stasiun di lintas tersebut telah beralih fungsi, sementara sejumlah jembatan meski masih berdiri kokoh, memerlukan analisis teknis ulang.
“Ada jembatan yang masih bisa diperbaiki, ada yang perlu diganti, bahkan dibangun ulang jika kondisinya sudah rusak berat,” ungkapnya.
Selain aspek teknis, tantangan sosial juga menjadi perhatian. Sejumlah titik jalur kini berada dekat permukiman warga dan tidak lagi steril. Bahkan, beberapa jembatan telah dimanfaatkan sebagai akses masyarakat.
“Perlu koordinasi dengan warga dan para pemangku kepentingan. Selain penertiban, juga harus disiapkan alternatif akses bagi masyarakat sekitar,” kata Denny.
Meski menghadapi berbagai tantangan, BTP Surabaya menilai reaktivasi jalur ini memiliki nilai strategis tinggi. Jalur KA Kalisat–Panarukan berpotensi mendukung integrasi antarmoda, terutama dengan Pelabuhan Panarukan, sekaligus memperkuat konektivitas menuju kawasan wisata unggulan seperti Ijen Geopark.
“Saya sangat mendukung reaktivasi jalur ini, terlebih potensi integrasi antarmoda dan penguatan sektor pariwisata,” tuturnya.
Namun demikian, Denny menegaskan bahwa dukungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso sangat dibutuhkan, terutama untuk studi awal dan penanganan persoalan lahan, mengingat sebagian trase jalur telah beralih fungsi.
“Dorongan dari DPRD maupun dari Pemkab Bondowoso sangat kami perlukan agar rencana ini bisa berjalan,” tambahnya.
Dukungan politik pun hadir dari DPRD Kabupaten Bondowoso. Sutriyono Ketua Komisi III DPRD Bondowoso menyambut baik komitmen BTP Surabaya. Ia menilai reaktivasi jalur KA menjadi kebutuhan nyata di tengah meningkatnya kepadatan lalu lintas jalan nasional dan provinsi.
“Bukan hanya soal pariwisata atau integrasi antarmoda. Di jam-jam sibuk, kondisi jalan di Bondowoso mulai padat,” ujar Sutriyono.
Sebagai catatan sejarah, jalur KA Kalisat–Bondowoso–Panarukan dibangun oleh Staatsspoorwegen pada 1897 dan resmi berhenti beroperasi pada 2004. Jalur ini sebelumnya juga telah melalui studi kelayakan pada 2022 yang menunjukkan tingginya minat masyarakat Jember, Bondowoso, dan Situbondo terhadap layanan kereta api.
Dengan rampungnya SID, BTP Surabaya berharap proses perencanaan dapat dilanjutkan secara lebih terarah, sehingga jalur KA Kalisat–Panarukan berpeluang kembali beroperasi dan memberikan manfaat nyata bagi mobilitas serta perekonomian masyarakat Jawa Timur. (saf/ipg)




