Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Howard Lutnick menyatakan bahwa pelemahan dolar justru berada dalam level yang lebih alami dan mendukung ekspor serta pertumbuhan ekonomi dari Amerika Serikat.
Menurut Lutnick, selama bertahun-tahun dolar berada di level terlalu kuat karena dimanipulasi negara lain untuk meningkatkan ekspor mereka ke AS.
Baca Juga: Bank Sentral Eropa Curiga Dolar Sengaja Dilemahkan Trump
“Gagasannya sederhana, dolar di level sekarang jauh lebih natural. Ekspor kami meningkat, dan itu sebabnya pendapatan domestik bruto kami tumbuh sangat besar,” ujar Lutnick.
Indeks dolar sendiri sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun pada akhir Januari. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor, antara lain ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan hingga ketidakpastian tarif dan kebijakan perdagangan. Kondisi tersebut secara bertahap menggerus kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi dari AS.
Dampak Pelemahan Dolar bagi IndonesiaBagi Indonesia, melemahnya dolar membawa dampak campuran baik positif maupun risiko yang perlu diantisipasi.
1. Rupiah Berpeluang MenguatDolar yang melemah biasanya memberi ruang bagi penguatan rupiah, terutama jika diiringi arus modal masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets). Hal ini dapat membantu stabilitas nilai tukar dan menekan volatilitas pasar keuangan domestik.
2. Impor Lebih Murah, Inflasi Lebih TerkendaliDengan dolar yang lebih lemah, biaya impor bahan baku dan barang modal bisa turun. Tekanan inflasi impor (imported inflation) juga berpotensi mereda dengan beban subsidi energi dan pangan dapat lebih terkendali
3. Tantangan bagi Ekspor IndonesiaDi sisi lain, penguatan rupiah relatif terhadap dolar dapat mengurangi daya saing harga ekspor Indonesia. Ia juga dapat menekan margin eksportir, terutama di sektor padat karya.
4. Arus Modal Lebih Ramah ke Pasar BerkembangPelemahan dolar dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter biasanya mendorong investor global mencari imbal hasil lebih tinggi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini berpotensi menguatkan pasar obligasi dan saham domestik dan menurunkan biaya pendanaan pemerintah dan korporasi. Namun, arus ini tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Investor Harus Tetap WaspadaMeski dolar lemah membawa peluang, faktor ketidakpastian global tetap perlu diwaspadai. Volatilitas kebijakan, tensi geopolitik dan perubahan arah suku bunga dapat dengan cepat membalikkan arus modal dan menekan rupiah kembali.
Baca Juga: Kevin Warsh Berpotensi Pangkas Suku Bunga Dolar AS Hingga 100 bps!
Rupiah mungkin berpeluang lebih stabil, inflasi impor bisa mereda dan arus modal berpotensi menguat. Namun di sisi lain, daya saing ekspor dan ketergantungan pada sentimen global tetap menjadi tantangan utama yang perlu diantisipasi oleh pembuat kebijakan dan pelaku pasar di Indonesia.





