Bisnis.com, MEDAN - Pengamat ekonomi sekaligus Akademisi Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin menyoroti penurunan indeks konsumsi rumah tangga petani pada Januari 2026 di tengah membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP).
Dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, terjadi kenaikan NTP di Sumut dari 146.61 pada Desember 2025 menjadi 150.8 pada Januari 2026.
"NTP membaik di tengah kenaikan sejumlah harga komoditas pangan yang ada di Sumut seperti cabai, gabah, dan daging ayam maupun sapi meskipun secara keseluruhan Sumut pada bulan Januari membukukan deflasi sebesar 0,75% (month-to-month/mtm)," ucap Gunawan, Selasa (10/2/2026).
Namun, lanjutnya, kenaikan NTP tersebut tak seiring dengan kenaikan indeks konsumsi rumah tangga petani atau segala biaya yang dikeluarkan petani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
BPS mencatat indeks konsumsi rumah tangga petani justru turun hingga 1,3% pada Januari 2026, berbanding terbalik dari kondisi Desember di mana NTP mengalami penurunan sebesar 1,82% namun indeks konsumsi rumah tangga petani naik hingga 2,62%.
Dikatakan Gunawan, penurunan indeks konsumsi rumah tangga memang bisa saja diakibatkan oleh musim belanja masyarakat yang berubah.
Baca Juga
- Jangan Panic Buying! Pemkot Padang Pastikan Stok Pangan Aman Selama Ramadan 2026
- Selangkah Lagi, Pemkab Dharmasraya Bakal Punya BUMD
- Wisata Sejarah Istana Maimun Medan, Keunikan dan Jam Operasionalnya
Kenaikan indeks konsumsi rumah tangga pada Desember 2025 disebutnya bertepatan dengan perayaan hari besar keagamaan dan nasional seperti Natal dan Tahun Baru.
Di sisi lain, kata dia, penurunan kinerja indeks konsumsi rumah tangga membuat kinerja NTP menjadi terlihat lebih besar.
"Padahal, penurunan kinerja indeks konsumsi rumah tangga justru bisa menjadi gambaran bahwa telah terjadi pelemahan daya beli pada masyarakat petani," tutur Gunawan.
Gunawan membandingkan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani di Sumut pada periode ini dengan kondisi bulan Januari 2025. Saat itu, NTP turun hingga 1,35%, namun indeks konsumsi rumah tangganya justru naik 0,4%. Begitupula dengan kondisi pada Desember 2024 di mana IKRT masih mampu tumbuh 0,34%.
"Jadi penurunan kinerja indeks konsumsi rumah tangga di Januari 2026 ini menyisakan kekhawatiran bahwa belanja masyarakat khususnya rumah tangga petani tengah mengalami pelemahan," beber Gunawan.





