Lima Kasus Bunuh Diri Anak dan Remaja, Jabar Hadapi Masalah Serius

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menginspirasi Anda melakukan tindakan serupa. Jika mengalami depresi atau bermasalah dengan kesehatan jiwa, tinggalkan artikel ini dan segera hubungi layanan kesehatan mental terdekat. Kementerian Kesehatan menyediakan layanan kesehatan mental dan bunuh diri di healing119.id.

Jawa Barat menghadapi masalah serius dalam isu serius kesehatan mental anak dan remaja. Dalam beberapa bulan terakhir, lima kasus dugaan bunuh diri anak dan remaja terjadi di sejumlah wilayah.

Warga di lapangan futsal Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, dikejutkan dengan bunyi keras, Selasa (10/2/2026) pukul 07.15 WIB. Mereka menduga ada sesuatu yang jatuh. Lapangan ini berada tepat di bawah Jalan Layang Pasupati.

Saat warga mendekat ke lokasi suara, kenyataannya memilukan. Seorang remaja laki-laki menggunakan jaket berwarna hitam tergeletak dekat kandang ayam. Dia jelas terluka berat.

Polisi segera dipanggil ke lokasi kejadian. Dari pemeriksaan, korban dinyatakan telah meninggal. Penyelidikan lanjutan pun dilakukan.

Korban diketahui berasal dari Kota Cimahi. Dia diduga bunuh diri.

Sejumlah saksi menyebut, korban sempat memarkir sepeda motornya di pinggir Jalan Layang Pasupati . Kemudian, pelajar berusia 17 tahun ini naik ke atas pembatas jalan.

Baca JugaAnak Bunuh Diri, Persoalan Struktural yang Harus Segera Diurai
Baca JugaKompleksitas Bunuh Diri

Dua pengendara motor sempat berhenti untuk mencegah korban berbuat nekat. Namun, korban tak bergeming. Dia nekat dan tetap melompat. Tinggi jalan layang dengan tanah sekitar 60 meter.

Kepala Polsek Bandung Wetan Ajun Komisaris Bagus Yudo mengatakan, motif korban belum diketahui. Untuk memastikannya, polisi akan memeriksa isi telepon genggam korban.

Rohmat (65), saksi mata yang juga tokoh masyarakat di wilayah tersebut, menuturkan, peristiwa ini sangat mengejutkan. Dia menyebut, baru pertama kali terjadi di lokasi tersebut. ”Saat itu saya sedang membersihkan sampah di area permukiman warga,” ujarnya.

Lima kasus

Kasus di Jalan Layang Pasupati menambah daftar panjang dugaan bunuh diri yang melibatkan anak dan remaja di Jabar. Dari catatan Kompas dan data pihak kepolisian, sudah terjadi lima kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan anak dan remaja dalam rentang waktu bulan September 2025 hingga 11 Februari 2026.

Kasusnya tersebar. Kota Bandung menjadi yang paling tinggi dengan tiga kasus dan Kabupaten Cianjur serta Kabupaten Sukabumi masing-masing satu kasus. Mereka siswa SD, SMP, SMA dan dua korban lainnya mahasiswa.

Usia kelima korban yang diduga mengakhiri hidupnya ini dari yang termuda 10 tahun hingga 19 tahun. Usia mereka digolongkan sebagai Generasi Alfa yang lahir dari tahun 2010 hingga 2024.

Baca JugaBunuh Diri pada Anak, Alarm Sunyi Saat Tak Mampu Ungkapkan Keputusasaan
Baca JugaDalam Sepekan, Dua Anak Jabar Diduga Bunuh Diri, Apa Pemicunya?

Dari jenis kelamin, terdapat tiga korban laki-laki dan dua perempuan. Pola kejadiannya diduga menunjukkan tekanan psikososial yang tidak tertangani secara memadai baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang sosial yang lebih luas.

Psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung Efnie Indrianie menilai, anak-anak Gen Alfa memiliki kondisi mental yang jauh lebih rapuh dibandingkan generasi sebelumnya.

Anak-anak generasi ini cenderung lebih mudah terpuruk saat menghadapi tekanan, baik dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun media sosial. Salah satu pemicunya adalah pengaruh besar media sosial terhadap pola pikir dan ekspresi emosi anak-anak.

Jika dahulu anak-anak seperti pada generasi milenial harus melalalui berbagai tahapan untuk menyelesaikan tugas. Kini, lanjut Efnie, banyak proses yang diselesaikan secara instan dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan.

“Kondisi tersebut membentuk pola kerja otak yang terbiasa pada kecepatan dan hasil yang cepat. Akibatnya Gen Alfa ketika menghadapi tantangan hidup yang lebih besar, sistem kerja otak mereka belum cukup siap untuk mengimbanginya dengan kekuatan mental yang  memadai,” paparnya.

Baca JugaBunuh Diri Generasi Alfa, Saat Teknologi Digital Memaksa Anak-anak Tumbuh Dewasa
Baca JugaSedikitnya 71.000 Siswa Terindikasi Masalah Mental, Ada Apa dengan Pelajar di Bandung?

Efnie berpendapat, kondisi ini patut diwaspadai karena depresi yang tidak ditangani sejak dini berpotensi anak mengambil keputusan ekstrem. Salah satu ciri utama depresi adalah munculnya pikiran mengakhiri hidup atau suicidal thoughts yang kerap disertai distorsi persepsi dan halusinasi.

Masalah kesehatan mental yang dialami Gen Alfa terlihat data yang dikumpulkan Pemerintah Kota Bandung dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis pada Agustus hingga Oktober 2025.

Hasilnya menunjukkan, 71.433 siswa SD hingga SMA di Kota Bandung terindikasi mengalami masalah mental. Jumlah ini setara dengan 48,19 persen dari 148.239 pelajar yang mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa.

“Tindakan ekstrem seperti bunuh diri bukanlah keputusan tiba-tiba, melainkan akumulasi tekanan emosional yang menumpuk selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun,” tuturnya.

Minim ruang

Terkait fenomena tersebut Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan keprihatinannya. Ia menilai peristiwa-peristiwa ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap anak.

”Fenomenanya adalah kita terlalu bebas terhadap anak-anak kita dan tidak memberikan perlindungan yang cukup. Ini juga salah satu dampak dari penggunaan media sosial yang tidak terkendali,” kata Dedi.

Pandangan berbeda disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar Siti Muntamah. Ia menilai fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari masalah kepadatan penduduk, tekanan hidup di perkotaan dan menyusutnya ruang untuk tumbuh kembang anak.

Menurutnya, jumlah penduduk Jabar yang lebih dari 51 juta jiwa ini menghadapi keterbatan ruang hidup sehingga berimbas pada kualitas kesehatan mental. Seperti di Kota Bandung, dengan kepadatan tinggi dan kompetisi sosial yang ketat menciptakan tekanan berlapis bagi anak dan remaja.

“Ruang bermain dan berekspresi semakin sulit ditemukan, terutama di kawasan padat penduduk. Ketika anak kehilangan ruang aman untuk bermain dan berinteraksi, tekanan psikologia mulai terbentuk sejak usia dini,” ucapnya.

Fenomena masalah mental di kalangan anak dan remaja harus menjadi perhatian semua pihak yang terkait. Orangtua, pihak sekolah hingga pemerintah setempat harus bersinergi untuk mencegah peristiwa ini tidak berulang lalag

Tanpa intervensi yang menyeluruh dan kolaboratif, kasus serupa berpotensi berulang dan menempatkan Jabar dalam situasi darurat kesehatan mental anak dan remaja.

Serial Artikel

Bunuh Diri dan Gangguan Mental karena AI Meningkat, Tujuh Gugatan Hantam OpenAI

Setelah kasus bunuh diri remaja Adam Raine, rangkaian bunuh diri dan gangguan mental yang dikaitkan dengan ChatGPT model GPT-4o terus terjadi.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mohan Hazian Thanksinsomnia Kehilangan Pekerjaan Karena Pelecehan, Istri Kena Dampak
• 1 jam lalugenpi.co
thumb
Tottenham kembali telan kekalahan setelah takluk dari Newcastle 1-2
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Hasil Liga Inggris: MU Nyaris Kalah, Chelsea Dipaksa Imbang
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Jelang Imlek, Presiden Xi Jinping Blusukan Sapa Warga Beijing
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Manusia Rp 2.700 Triliun Pasrah Tunduk ke Trump Demi Uang China
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.