Saham emiten milik konglomerat nasional, seperti Grup Barito dan Sinar Mas, bergerak menguat pada Rabu (11/2/2026).
IDXChannel - Saham emiten milik konglomerat nasional, seperti Grup Barito dan Sinar Mas, bergerak menguat pada Rabu (11/2/2026), seiring perhatian pelaku pasar terhadap pertemuan sejumlah pengusaha besar dengan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.17 WIB, secara umum Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,81 persen ke level 8.197, menguat tiga hari beruntun sejauh ini.
Tekanan jual di pasar mulai mereda setelah IHSG sempat terkoreksi tajam pada akhir Januari hingga awal Februari.
Pelemahan tersebut dipicu peringatan pengelola indeks global MSCI terkait isu investabilitas dan transparansi struktur kepemilikan emiten di bursa domestik.
Sebelumnya, MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan persoalan kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Sentimen negatif semakin kuat setelah Moody’s menurunkan outlook Indonesia, disusul pemangkasan rekomendasi saham oleh UBS, Goldman Sachs, dan Nomura.
Pemerintah merespons perkembangan tersebut dengan memperkuat koordinasi bersama otoritas pasar.
BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjalin komunikasi dengan MSCI serta menindaklanjuti sejumlah catatan yang disoroti lembaga indeks global tersebut.
Dari sisi saham konglomerat, saham yang terafiliasi dengan Grup Barito kompak bergerak di zona hijau pada perdagangan hari ini.
Penguatan dipimpin oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang melonjak 12,13 persen ke Rp6.700 per unit.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 7,01 persen ke Rp1.755. Sementara itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 3,45 persen ke Rp2.100 dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 2,67 persen ke Rp1.155.
Di sisi lain, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) bertambah 1,25 persen ke Rp8.100, sedangkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik tipis 0,35 persen ke Rp7.225.
Saham Grup Salim, yang juga sebagian dikendalikan Grup Bakrie macam BUMI melesat 5,05 persen dan BRMS 0,48 persen. Kemudian, saham properti Salim-Agung Sedayu PANI naik 3,21 persen dan saham tambang Salim AMNN terkerek 1,31 persen.
Lebih lanjut, selain BUMI-BRMS, saham Grup Bakrie lainnya juga menggeliat. Sebut saja, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) naik 3,23 persen ke Rp96 per unit dengan volume transaksi 70,15 juta saham.
Sentimen positif juga terlihat pada PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang menguat 4,87 persen ke Rp1.185.
Di sektor jasa pertambangan, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melesat 4,95 persen ke Rp530 dengan nilai transaksi mencapai Rp203,97 miliar. Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mencatat kenaikan paling besar di kelompok ini setelah melonjak 6,13 persen ke Rp865.
Saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas juga cenderung bergerak di zona hijau pada perdagangan hari ini.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memimpin kenaikan setelah naik 2,14 persen ke Rp96.500. Nilai transaksi DSSA tercatat mencapai Rp34 miliar.
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) turut menguat 1,37 persen ke Rp9.225. Sementara itu, PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) naik 1,32 persen ke Rp1.150 meski dengan volume transaksi yang relatif tipis.
Di sektor agribisnis, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) bertambah 0,45 persen ke Rp5.625.
Tidak ketinggalan saham konsorsium Boy Thohir, AADI, menguat tipis 0,30 persen.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengomentari pertemuan lima konglomerat dengan Presiden Prabowo. Ia menilai pertemuan tersebut sebagai sinyal yang baik bagi pasar.
“Tentunya kita melihat ini sebagai hal positif karena kita kitahui pada awal pemerintahan Prabowo, para konglomerat ini juga dikumpulkan di istana,” ujar Michael, Rabu (11/2/2026).
Menurut dia, pola komunikasi seperti itu sebelumnya juga sempat diikuti oleh perbaikan sentimen ekonomi dan pasar keuangan.
“Kemudian, kita melihat tidak lama setelah itu terjadi perbaikan dari sisi ekonomi, komunikasi, begitu juga dengan bursa,” katanya.
Melansir dari siaran pers di situsweb presidenri.go.id, Presiden Prabowo menerima lima pengusaha nasional dalam sebuah audiensi di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Selasa malam (10/2/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung cukup lama dan membahas berbagai isu strategis terkait pembangunan nasional.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pertemuan itu berjalan intensif.
“Pertemuan tersebut berlangsung lebih dari 4,5 jam, dimulai sejak pukul 19.00 hingga sekitar 23.30 WIB,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diunggah Rabu, 11 Februari 2026.
Sejumlah pengusaha besar yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Anthoni Salim dari Salim Group, Prajogo Pangestu dari Grup Barito, Sugianto Kusuma alias Aguan dari Grup Agung Sedayu, Franky Widjaja dari Grup Sinar Mas, dan Boy Thohir dari Grup Adaro.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo berdialog langsung dengan para pelaku usaha mengenai peran dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan pemerintah. Salah satu hal yang disoroti adalah pentingnya kerja sama lintas sektor antara pemerintah dan dunia usaha.
“Di momen itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya semangat Indonesia Incorporated, yang berarti bahwa kolaborasi erat seluruh sektor, yakni antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan ekonomi,” kata Teddy.
Para pengusaha yang hadir, menurut Teddy, menyampaikan kesamaan pandangan terkait arah kebijakan pemerintah. Mereka menyatakan kesiapan untuk terlibat pada sejumlah sektor yang dinilai strategis dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Para pengusaha yang hadir senada seirama menyatakan komitmen solidnya untuk mendukung visi misi Pemerintah dalam sektor paling strategis yaitu pemenuhan makan bergizi, sekolah dan pendidikan tinggi, kesehatan, rumah subsidi, koperasi dan kampung nelayan serta kedaulatan pangan dan energi,” tulis Teddy.
Selain itu, Presiden Prabowo juga mendorong dunia usaha agar berperan aktif dalam penciptaan lapangan kerja, terutama melalui pengembangan sektor riil dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Khususnya di sektor riil, guna mendorong pengembangan industri serta penguatan UMKM,” kata Teddy. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.




