Cuaca siang itu terik menyengat. Di pinggir jalan kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, dua orang duduk beristirahat di antara beberapa gerobak yang terparkir.
Wajah mereka lelah, namun tetap tenang. Gerobak kayu yang penuh kardus dan botol plastik menjadi penanda hidup yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun di Jakarta.
Kardus-kardus cokelat menumpuk, botol plastik bekas air mineral terselip di sudut-sudutnya. Beberapa gerobak lain tampak berjejer, seolah menjadi batas tak kasat mata antara ruang hidup dan ruang lalu lintas kota.
Keduanya adalah pasangan suami istri, Ani (54) Dan Yanto (50), mereka tampak kelelahan. Baju lusuh, kulitnya gelap, dan tangan-tangan yang nampak kasar menandai pekerjaan yang telah mereka jalani bertahun-tahun.
Gerobak bukan sekadar alat kerja ia adalah perpanjangan hidup mereka. Tempat menyimpan barang, pakaian, bahkan pernah menjadi satu-satunya “rumah” yang mereka miliki.
“Ibu Ani,” jawabnya pelan, saat kumparan menanyakan nama mereka di sekitar kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (11/2).
“Pak Yanto,” sahut laki-laki di sampingnya.
Ani berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Sementara Yanto berasal dari Banjarnegara.
Mereka merantau ke Jakarta sejak 2005. “Sudah lama, 2005,” ujar Ani. Yanto di sebelahnya, mengangguk menegaskan.
Artinya, sudah dua puluh tahun mereka hidup berpindah dari satu sudut jalan ke sudut lainnya di ibu kota. Dua dekade menjadi bagian dari wajah Jakarta yang sering diabaikan, para "manusia gerobak".
Anak-anak mereka tinggal di kampung. “Iya, anak di kampung,” kata Yanto.
“Anak semua di kampung,” Ani menambahkan.
Di Jakarta, mereka benar-benar sendiri. “Sini mah ya nggak ada sini,” ucap Yanto.
“Enggak ada. Sendiri Ibu di sini,” ujar Ani.
Tak ada sanak saudara, tak ada tempat pulang selain jalanan.
Setiap hari, Ani dan Yanto berkeliling berdua. Satu gerobak mereka gunakan bersama. “Iya. Satu gerobak. Patungan,” kata Yanto.
Rutinitas mereka dimulai sejak dini hari. Saat kota masih gelap dan sebagian besar orang masih terlelap, mereka sudah mulai berjalan.
“Jam 4 pagi,” ujar Ani.
Yanto bahkan kerap memulai lebih awal.
“Kadang-kadang malam saya nyarinya malam sampai pagi kadang-kadang. Tergantung badan kita kalau lagi sehat ya kadang-kadang siang juga,” katanya.
Saban hari, mereka hampir pasti menyusuri Pasar Santa, Cilandak, hingga kawasan sekitar Mampang.
“Pasar Santa doang paling. Pasar Santa, Cilandak,” kata Yanto.
Barang yang mereka kumpulkan tak banyak jenisnya. “Kardus, Aqua,” ucap Ani.
“Iya, botol aqua, kardus, itu aja,” tambah Yanto.
Tak ada pekerjaan lain yang bisa mereka harapkan.Kesempatan kerja semakin sempit, sementara tenaga mereka kian menua.
“Nggak ada. Nyari-nyari di proyek juga susah sih kalau nggak ada yang masukin,” ujar Yanto.
Penghasilan mereka pun tak menentu. Uang itu cukup untuk makan hari ini, tanpa jaminan untuk esok.
“Ya nggak tentu sih ini, kadang-kadang 50, kadang-kadang 40, kadang-kadang 60, gitu pol,” kata Yanto.
“Paling gede gocap (Rp 50 ribu). Makan berdua mah masih pas-pasan,” Ani menimpali.
“Iyaa berdua itu dapetnya,” kata Yanto pelan.
Ani dan Yanto tak memiliki tempat tinggal. Jalanan adalah ruang hidup mereka.
“Di jalanan,” jawab Ani.
Yanto menunjuk sekitar. “Biasanya tidur di sini juga. Kalau siang istirahatnya di sini ya. Kadang-kadang kalau kecapean ya istirahat di toko, cuman ya kalau yang sering saya tidur di lap-lapak ini.”
Lapak-lapak kosong, emperan toko, atau pinggir jalan menjadi tempat berbaring setelah tubuh tak lagi sanggup berjalan. Saat hujan turun, mereka hanya mencari tempat teduh seadanya.
“Ya mana saja, yang penting buat neduh gitu. Yang aman gitu,” kata Ani.
Gerobak yang kini mereka miliki bukanlah yang pertama. Dulu, mereka membelinya dengan menabung sedikit demi sedikit. Harganya Rp 400 ribu.
“400,” kata Yanto.
“Iya. Kalau sudah kekumpul uangnya baru beli gerobaknya,” ujar Ani.
Namun gerobak itu pernah raib saat penertiban. “Waktu saya ditangkap, gerobak, pakaian kami di gerobak kan, itu semua diambil, ga dibalikin. Kita ngumpulin lagi buat beli gerobak baru,” ujar Yanto.
Pernah Ditahan Satpol PP
Ani berkisah, mereka berdua pernah ditertibkan oleh Satpol PP selama sebulan.
“Sebulan di sono,” kata Ani, merujuk kepada lokasi penampungan manusia gerobak yang diamankan.
“Sebulan,” Yanto mengulang.
Hari-hari di penampungan berjalan datar ungkap keduanya. “Ya dikasih makan, dikasih makan tiga kali. Tidur, mandi, makan lagi… kadang-kadang nyapu-nyapu juga, nyapu bersih-bersih kamar mandi,” kata Yanto.
Kini, isu penertiban kembali menghantui. Jika melihat petugas, mereka memilih menghindar.
“Jalan. Iya jangan juga ditangkap,” kata Ani.
Ketika ditanya soal rencana penertiban dan harapan kepada pemerintah, Ani terdiam. Suaranya melemah.
“Bagaimana sih ya? Kayak sudah tua, capek gitu buat usaha mah,” kata dia.
Saat menyebut keinginan pulang kampung, Ani tak lagi mampu menahan air mata. Tangisnya pecah perlahan.
“Ya moga aja ada. Ingin pulang kampung, pengin duit ya. Ingin buat ongkos cukup. Buat segini mah buat makan doang sudah cukup," tuturnya.
Ani menangis saat menyampaikan keinginannya untuk pulang. Sudah setahun ia tak kembali ke Purwokerto. “Ya sudah setahun nggak pulang.”
Yanto terakhir pulang tujuh bulan lalu, saat Lebaran. “Oh udah tujuh bulan. Lebaran kemarin pulang,” jelasnya.
Jika benar-benar dilarang bekerja, pilihannya hanya satu. “Ya kalau memang udah nggak boleh ya ke kampung aja. Tani nanem singkong jagung biasa kayak biasanya gitu,” ungkapnya.
Namun pulang kampung bukan berarti hidup mudah. “Kalau nanem padi kan harus dipupuk… tanahnya kan udah nggak subur jadi nggak panen,” ujar Yanto.
Ia menyimpan mimpi kecil. “Saya memang mau pengin usaha, kayak dagang kopi gitu. Cuma ini modalnya kita nggak ada, kalau mulung ini saya juga udah nggak seneng sebenernya,"
Selama hidup di jalan, stigma menjadi beban tersendiri. “Orang pemulung gini kan emang udah jelek ya perasaan orang udah jelek orang ngomong gimana-gimana ya diem aja lah,”
Ia sadar tak semua warga menerima mereka. “Kadang-kadang ada warga kan nggak seneng juga, kita kena omongan,” katanya. Tapi Yanto memilih diam.
Meski begitu, ia tak menutup mata pada kebaikan. “Yang baik banyak juga warga sini gitu,”
Di Mampang, manusia gerobak bukanlah pemandangan langka. Yanto juga mengakui hal tersebut.
“Iya banyak banget ya, Bogor, yang kebanyakan Bogor ini,” ujar Yanto.
Barang-barang yang mereka kumpulkan dijual ke lapak terdekat.
“Iya deket sini lapaknya muat kardus. Dimuat ke truk,” ungkap Yanto.
Siang makin terik. Ani mengusap wajahnya yang masih basah oleh air mata. Yanto bangkit, menyiapkan gerobak untuk kembali berjalan.
Mereka terus melangkah menyusuri Jakarta dengan satu harapan sederhana, cukup ongkos untuk pulang, dan hidup yang tak lagi bergantung pada gerobak.




