Belakangan ini, bentrokan besar antara polisi dan warga meletus di Desa Daya, Kabupaten Lingao, Provinsi Hainan, Tiongkok. Otoritas setempat mengerahkan sejumlah besar aparat kepolisian untuk melakukan penindasan secara brutal. Warga desa terpaksa mengambil tanah dan batu bata untuk melawan. Bentrokan tersebut menyebabkan banyak warga terluka dan harus dirawat di rumah sakit.
EtIndonesia. Pada 9 Februari 2026, akun media mandiri bernama “Zuótiān” (Kemarin) yang berfokus pada insiden kerusuhan massal di Tiongkok daratan mengungkapkan bahwa pada 1 Februari telah terjadi bentrokan sengit antara polisi dan warga di Desa Daya, Kabupaten Lingao, Provinsi Hainan.
Warga desa mengungkapkan bahwa mereka telah lama menumpuk ketidakpuasan terhadap pemerintah setempat akibat praktik pembongkaran paksa yang berkepanjangan, korupsi, serta ketidakadilan dalam pemilihan umum. Pada hari itu, warga melakukan aksi menuntut hak di depan kantor komite desa Daya dan mencegat sebuah kendaraan pemerintah untuk meminta penjelasan.
Tak lama kemudian, pihak berwenang dengan cepat mengerahkan sejumlah besar polisi, polisi anti huru-hara (SWAT), serta aparat pemerintah ke lokasi, yang langsung memicu bentrokan. Dalam prosesnya, polisi dan aparat pemerintah menyemprotkan cairan merica ke arah warga dan memukuli massa dengan tongkat. Di tengah kekacauan, warga terpaksa mengambil tanah dan batu bata untuk membalas serangan.
「海南临高:贪官落马喜悦未散,村民再遭暴力镇压(2026.02.01)」2026年2月1日,海南省临高县大雅村爆发激烈的警民冲突。就在村民们还在为一名官员的落马而庆幸时,新一轮的暴力已导致多名村民受伤入院。… pic.twitter.com/AU549FIIt7
— 昨天 (@YesterdayBigcat) February 9, 2026Rekaman video menunjukkan bahwa setelah bentrokan, lokasi kejadian menjadi porak-poranda. Banyak warga tergeletak di tanah, dan mereka yang mengalami luka serius segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat.
Menurut laporan tersebut, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah daerah Lingao dengan dalih “pembangunan dan pengembangan” secara besar-besaran mendorong pengadaan lahan dan pembongkaran, berebut kepentingan dengan rakyat, sehingga memicu berbagai konflik. Pada November 2025, sebuah kuil di Desa Meiya juga tidak luput dari pembongkaran paksa, yang memicu kemarahan besar masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pejabat di Kabupaten Lingao telah jatuh tersandung kasus hukum.
Pada 16 Januari tahun ini, mantan Wakil Sekretaris Partai Kota Sansha sekaligus mantan Wali Kota, Wen Bin, diselidiki. Sejak Maret 2020, Wen Bin pernah menjabat sebagai Sekretaris Partai Kabupaten Lingao, Provinsi Hainan.
Sebelumnya, mantan Sekretaris Partai Kabupaten Lingao Wu Guanghua (divonis 13 tahun penjara), Jiang Hua’an (jatuh pada 13 November 2020), serta Wakil Sekretaris Partai Kabupaten Lingao Cao Wen (diselidiki saat masih menjabat pada Juli 2020) juga telah tumbang. (Hui)
Editor bertanggung jawab: Li Siya





