MEDAN, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap dampak nyata perubahan iklim setelah Siklon Tropis Senyar memicu curah hujan tertinggi sejak 1991 di Sumatera pada penghujung 2025.
Fenomena ini menjadi salah satu bukti bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa hujan ekstrem yang terjadi pada dasarian III November 2025 melampaui catatan normal historis di sejumlah wilayah Sumatera.
Baca Juga: BMKG Perpanjang Peringatan Cuaca, Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi hingga 16 Februari
Rekor Hujan Sejak 1991Dalam diskusi ilmiah bertajuk Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatera pada November–Desember 2025 di Universitas Sumatra Utara, Selasa (10/2/2026), Ardhasena memaparkan data konkret.
“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991,” ujarnya dikutip dari laman resmi BMKG.
BMKG mencatat, di Kecamatan Koto Tangah, Sumatera Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari normal November.
Sementara itu, di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya.
Lonjakan ini menunjukkan intensitas hujan yang jauh melampaui variabilitas iklim tahunan biasa.
Perbandingan peta curah hujan saat TC Vamei (Dasarian III Desember 2001) dan TC Senyar (Dasarian III November 2025) menunjukkan peningkatan signifikan intensitas hujan di Sumatera. Saat TC Senyar, wilayah pesisir barat hingga bagian tengah Sumatera didominasi warna merah–cokelat yang menandakan curah hujan jauh lebih tinggi dibandingkan peristiwa 2001, bahkan mencetak rekor tertinggi sejak 1991 di sejumlah titik pengamatan BMKG. (Sumber: BMKG.go.id)BMKG menegaskan, peristiwa Siklon Senyar tidak berdiri sendiri.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Sejumlah Perairan, Berlaku 10-13 Februari 2026
Secara klimatologis, Indonesia sedang berada dalam tren kenaikan suhu yang konsisten.
Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan suhu di Indonesia dengan rata-rata mencapai 27,5 derajat Celsius.
Sementara itu, tahun 2025 menempati peringkat keenam terpanas dengan suhu rata-rata 27,04 derajat Celsius, atau anomali +0,38 derajat Celsius dibandingkan periode normal 1991–2020.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- dampak perubahan iklim
- Siklon Senyar
- hujan tertinggi sejak 1991
- rekor curah hujan Sumatra
- banjir Sumatra 2025





