Bisnis.com, JAKARTA — Silang pendapat antara Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa terkait anggaran kapal KKP menjadi sorotan publik.
Purbaya mulanya berbicara perihal industri galangan kapal dalam agenda yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia beberapa waktu lalu.
Dia mengeklaim telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kapal, tetapi mengaku belum melihat realisasinya. Purbaya juga bertanya kepada para pengusaha yang hadir apakah mereka telah mendapatkan pesanan dari KKP.
“Kan aneh, enggak masuk akal. Uangnya sudah saya keluarkan, order-nya enggak ada," kata Purbaya dalam forum tersebut.
Pernyataan Purbaya itu lantas dikutip Trenggono dalam unggahan Instagram resminya. Dia mengatakan bahwa anggaran pembangunan kapal berasal dari pinjaman luar negeri. Sakti lantas bertanya balik ke Purbaya mengenai kebenaran alokasi anggaran dari Kemenkeu.
“Yth. Menteri Keuangan, supaya anda paham dan cerdas, bahwa dana untuk pembangunan kapal tersebut bersumber dari pinjaman luar negeri dari pemerintah UK. Coba anda tanya dulu, deh, sama anak buah anda, benar enggak itu uang kapal sudah dikucurkan?" tulis akun @swtrenggono.
Baca Juga
- Daftar Diskon Tiket Transportasi Lebaran 2026: Ada Pesawat, Kereta, Kapal
- Purbaya Respons Balik Trenggono: Pinjaman Juga Nanti Lewat Kami Juga
- Prabowo Panggil Airlangga hingga Purbaya ke Istana, Mau Bahas Apa Saja?
Saat berita ini ditulis, unggahan tersebut tercatat memperoleh lebih dari 300 komentar. Sejumlah warganet menyoroti fakta bahwa perdebatan kedua menteri ini mencuat ke publik.
Anggaran Kapal KKPBerdasarkan catatan Bisnis, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pernah menyampaikan sumber pendanaan untuk program modernisasi kapal di Tanah Air.
Pada Seminar Nasional Industri Perkapalan di Jakarta pada Kamis (11/12/2025) lalu, Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan KKP Mochamad Idnillah mengatakan terdapat dua sumber pendanaan untuk program tersebut. Pertama berasal dari pinjaman luar negeri, dalam hal ini pemerintah Inggris, dan yang kedua dari BPI Danantara. Totalnya adalah total US$7 miliar atau sekitar Rp116,7 triliun.
"Total memang kami mengalokasikan anggaran itu dari pemerintah US$4 miliar dan US$3 miliar, jadi US$7 miliar totalnya untuk dua skema pembangunan," kata Idnillah saat ditemui di Seminar Nasional Industri Perkapalan, Kamis (11/12/2025).
Dia menerangkan, pembiayaan pinjaman luar negeri dari Inggris akan terbagai dalam dua tahap, pertama untuk kapal 30 gross tonnage (GT) sebanyak 1.000 unit.
Berikutnya, untuk tahap kedua digunakan untuk membeli 582 unit kapal yang mencakup kapal penangkap (single) sebanyak 580 unit dan 2 unit kapal angkut dan processing dengan berbagai macam tipe ukuran.
Idnillah menyebut pendanaan dari Danantara masih belum terealisasi karena lembaga tersebut baru terbentuk, sehingga masih dipersiapkan mekanisme dan payung hukumnya. Namun, anggaran tersebut dinilai sudah disiapkan oleh Kementerian Keuangan.





