Bisnis.com, JAKARTA — Holding BUMN Industri Pertahanan Defend ID memacu komersialisasi sejumlah produk inovasi pada 2026 guna memperkuat portofolio bisnis sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transformasi holding untuk memperluas peran di tingkat regional.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Direktur Utama Defend ID Yoga Dharma Setiawan menyampaikan bahwa seluruh entitas di bawah holding telah mengembangkan dan mengomersialkan berbagai produk inovasi yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini.
Salah satu fokus utama ialah optimalisasi pesawat N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Defend ID mendorong komersialisasi pesawat tersebut untuk mendukung konektivitas udara nasional, khususnya pada penerbangan perintis dan misi kemanusiaan.
“Kami mengharapkan dukungan program komersialisasi pesawat N219 melalui pemberian subsidi penerbangan perintis dan insentif pajak bagi operator yang menggunakan pesawat dengan TKDN di atas 40%,” ujar Yoga dikutip dari YouTube TV Parlemen, Rabu (11/2/2026).
Di sektor darat, kendaraan taktis (rantis) Maung dan Garuda produksi PT Pindad juga menjadi andalan. Manajemen menargetkan rantis dapat diproduksi secara massal dengan skala ekonomi yang jelas guna menjaga keberlanjutan industri.
Untuk menopang agenda inovasi tersebut, Defend ID telah merealisasikan 13 program transfer teknologi (transfer of technology/ToT) yang melibatkan lebih dari 50 sumber daya manusia. Selain itu, holding mencatatkan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40% untuk 13 produk unggulan eksisting.
Baca Juga
- Defend ID Siapkan Investasi Rp3,14 Triliun pada 2026, DPR Soroti Beban Utang
Yoga menambahkan inovasi juga diarahkan ke sektor hulu. Pada 2026, Defend ID merencanakan pengembangan fasilitas produksi propelan, brass mill, dan brass cup untuk memperkuat kemandirian bahan baku industri pertahanan.
Meski demikian, DPR memberikan sejumlah catatan kritis. Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Mufti Anam mempertanyakan nilai tambah riil dari produk inovasi seperti Maung dan Garuda yang kini digunakan sejumlah pejabat negara.
“Kami ingin tahu sebenarnya berapa persen konten lokalnya? Jangan sampai hanya logonya saja, sementara biaya produksinya menjadi sangat mahal karena komponen impor yang masih dominan,” tegas Mufti.
Pimpinan rapat juga mengingatkan pentingnya sinergi riset dan pengembangan (research and development/R&D) antarentitas holding. Menurutnya, kolaborasi tersebut harus diwujudkan secara konkret, tidak sekadar bersifat administratif, agar setiap proyek inovasi mampu meningkatkan kompetensi personel sekaligus memperkuat akumulasi pengetahuan industri pertahanan nasional.
Syifa Anindya





