Bencana alam terjadi silih berganti. Yang baru saja terjadi bencana longsor disertai banjir bandang yang menerjang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Pemerintah daerah menetapkan status darurat bencana dan akan menginvestigasi penyebab longsor, termasuk dugaan alih fungsi lahan.
Bencana menyebabkan kerusakan fatal terhadap bangunan publik. Bahkan membuat tanah dan rumah penduduk menjadi musnah ditelan lumpur atau material longsor. Koordinat dan kontur tanah milik penduduk tidak ada lagi alias musnah akibat tanah longsor dan likuifaksi atau bangunan dan tanah ambles ke perut bumi.
Kondisi musnah seperti di atas tidak memungkinkan lagi melakukan tahap rekonstruksi ditempat yang sama. Perlu relokasi di tempat baru dengan bantuan Badan Bank Tanah (BBT).
Eksistensi BBT sangat menentukan terhadap durasi penanganan bencana jika mampu melakukan pengadaan tanah untuk program rekonstruksi. Masalah tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi korban bencana juga memerlukan solusi teknis yang optimal.
Masalah durasi penanganan bencana alam juga mesti disesuaikan dengan standar dan directive dari International Strategy for Disaster Reduction (ISDR ) Perserikatan Bangsa Bangsa. Yang secara sistematis telah merumuskan siklus penanganan bencana. Terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu tahap tanggap darurat (response phase), tahap rekonstruksi dan rehabilitasi, tahap preventif dan mitigasi, dan tahap kesiapsiagaan (preparedness).
Bencana banjir dan tanah longsor terus melanda berbagai kawasan di tanah air. Hujan dengan intensitas yang tinggi dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan kerusakan lingkungan sangat rentan terjadi tanah longsor. Bencana longsor mestinya bisa diantisipasi sehingga tidak menelan korban jiwa dan harta benda. Untuk mengantisipasi itu dibutuhkan sistem peringatan dini dan personel khusus yang mesti terjun langsung di lapangan dan dilengkapi perangkat pendukung berupa data spasial serta perangkat lainnya.
Tipologi permukiman sangat penting untuk identifikasi karakteristik keteraturan permukiman sehingga dapat dirancang mitigasi longsor yang paling sesuai dengan kondisi permukiman tersebut.Analisis tipologi permukiman dilakukan berdasarkan penilaian terhadap lima kategori, yaitu: konsistensi hirarki jalan; kondisi drainase; keteraturan kavling; kemantapan sempadan jalan; dan kemantapan sempadan bangunan.
Penilaian terhadap kelima kategori tersebut dilakukan dengan cara observasi lapangan kemudian dilakukan delineasi batas-batas perubahan ciri keteraturan. Hasil observasi dan analisis digunakan sebagai analisis risiko dan mitigasi bencana gerakan tanah dan longsor.
Sayangnya aparatur daerah hingga tingkat desa/kelurahan belum mampu bekerja secara teliti dan analitis. Untuk menemukan faktor krusial dari informasi data spasial yang berpotensi menyebabkan bencana longsor. Masih banyak aparat yang malas melakukan inspeksi dan pengamatan langsung di lapangan. Hal itu menyebabkan lemahnya langkah mitigasi bencana longsor.
Longsor terjadi karena adanya gangguan terhadap kestabilan lereng tanah atau batuan. Pada prinsipnya, gangguan kestabilan ini dapat terjadi karena adanya faktor yang mengontrol atau mengendalikan dan adanya proses-proses yang memicu. Keduanya dikenal dengan istilah faktor pengontrol dan faktor pemicu.
Faktor pengontrol dapat dikatakan sebagai penyebab tidak langsung terjadinya longsor, yaitu faktor-faktor yang mengkondisikan suatu lereng rentan atau siap bergerak. Faktor pengontrol terdiri dari dua faktor,yaitu faktor pengontrol alam dan non alam atau biasa disebut mekanis.
Faktor pengontrol alam, berupa kondisi geologis, kelerengan, dan kondisi vegetasi yang dapat memicu kerentanan suatu wilayah terhadap longsor. Faktor pengontrol mekanis/teknis, meliputi pendekatan mekanis atau teknis yang digunakan sebagai pengendali longsor.
Ada tidaknya faktor pengontrol jenis ini sangat mempengaruhi kerentanan suatu lereng, selain juga dipengaruhi faktor alam. Contoh faktor pengontrol mekanis adalah saluran drainase, bangunan penahan material longsor, bangunan penguat tebing, dan trap terasering. Karakteristik kekumuhan permukiman kota dan desa yang memicu bencana longsor perlu dihapuskan atau dikurangi dengan metode land sharing dan land consolidation. Metode land sharing atau penataan ulang di atas tanah atau lahan dengan tingkat kepemilikan masyarakat cukup tinggi. Kedua metode land consolidation adalah penataan ulang di atas tanah yang selama ini telah dihuni.
Sebenarnya sudah ada sistem peringatan dini untuk bencana longsor buatan dalam negeri. Namun banyak pemerintah daerah yang kurang serius memasang peralatan sistem peringatan dini untuk mengatasi longsor. Padahal sistem bisa memantau pergerakan tanah sehingga bisa memberi peringatan saat longsor akan terjadi.
Ada dua peralatan yang bisa digunakan untuk mencegah bencana longsor dan sudah teruji di lapangan, yakni LIPI Wiseland dan The Greatest. LIPI Wiseland adalah sistem pemantau pergerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel yang berfungsi untuk memberikan peringatan dini saat terjadi longsor melalui pemantauan gerakan tanah.
Sedangkan The Greatest adalah alat yang berfungsi menurunkan muka air tanah dalam lereng untuk mencegah longsor. LIPI Wiseland itu bisa mendeteksi berbagai jenis longsoran. Baik reruntuhan, luncuran dan aliran.
Perangkat buatan BRIN di atas dirancang menggunakan wire ekstensi meter. Pada saat longsor mulai terjadi alat itu bisa membunyikan sirine. Alat ini bisa mendeteksi longsor enam jam sebelum terjadi. Sehingga jeda waktu itu bisa digunakan masyarakat untuk melakukan evakuasi.
Mitigasi bencana tanah longsor membutuhkan personel khusus yang berasal dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), petugas konservasi alam dan LSM yang bergiat untuk lingkungan. Mestinya ada program untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan bagi personel di atas agar lebih tangguh menghadapi bencana sekaligus mampu melakukan mitigasi bencana di lapangan seperti pengamatan perbukitan yang berpotensi terjadi longsor.
Pengetahuan dalam bidang pemantau kestabilan lereng banyak manfaatnya seperti misalnya untuk konservasi alam dan bidang kehutanan. Juga Pemahaman tentang kestabilan lereng, pemahaman proses-proses yang mengakibatkan runtuhnya dinding, penganalisaan sudut lereng yang aman, penirisan air pada lereng pit, pemantauan kondisi lereng secara visual maupun dengan peralatan mekanis.
Ketidakmampuan pihak birokrasi daerah untuk menemukan faktor-faktor penting dari data spasial yang ada semakin melemahkan mitigasi bencana. Padahal dengan berbagai varian data spasial dasar seperti land cover atau peta tutupan lahan, Daerah Aliran Sungai (DAS), kejadian banjir, kondisi curah hujan, peta rupa bumi, sistem lahan, hal itu sangat berguna bagi upaya mitigasi bencana yang bisa meminimalkan resiko bencana geologi. Begitu juga dengan data yang terkait dengan peta rawan banjir dan tanah longsor keberadaannya belum terkonsolidasi dengan baik.
Untuk mengatasi kerawanan bangunan publik yang dekat dengan aliran sungai dibutuhkan metode dan teknologi pengamanan sungai yang cepat jika terjadi kondisi darurat yang mengarah kepada jebolnya tanggul dalam skala besar.
Kasus jebolnya tanggul yang sering terjadi menuntut waktu yang cepat untuk mengatasi dengan peralatan khusus dan material siap pakai dan mudah dirakit. Semua itu sebaiknya dirumuskan dalam manajemen mitigasi yang mampu mempersingkat durasi penanganan sehingga bisa cepat mengurangi resiko bencana.
Mekanisme cepat di atas ditandai dengan kemampuan untuk membuat konstruksi gabion atau bronjong yang bersifat tepat guna dan siap guna. Dalam kondisi darurat dibutuhkan metode atau teknologi yang bisa membuat bantalan gabion yang mudah diikatkan ke dalam dasar sungai untuk mencegah penggerowongan konstruksi gedung dalam tempo cepat.
Selain itu dalam kasus sergapan banjir bandang akibat tanggul jebol adalah teknologi turap atau bulkhead yang bisa dirakit dan dipasang secara fleksibel. Perlu inovasi teknologi tepat guna dan tepat material dalam pembuatan turap yang mengedepankan penggunaan material lokal yang mampu membentuk dinding kokoh untuk sungai di sekitar bangunan publik.
Totok Siswantara. Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur. Lulusan Program Profesi Insinyur ITI
(rdp/imk)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5432087/original/084691600_1764755912-IMG_4053.jpg)



