Trump Perintahkan Pengerahan Gugus Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah Jika Perundingan dengan Iran Gagal

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

 “Entah kita akan mencapai kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti terakhir kali,” kata Trump.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengerahkan gugus serangan kapal induk Amerika Serikat kedua ke Timur Tengah apabila perundingan dengan Iran gagal menghasilkan konsesi yang memadai.

Bulan lalu, Trump mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan pengerahan “armada besar” ke kawasan Teluk, dan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta unsur-unsur gugus serangannya sejak itu telah dialihkan ke perairan Timur Tengah.

“Kami memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul,” kata Trump pada 10 Februari dalam wawancara dengan Axios, seraya menegaskan kepada media tersebut bahwa ia sedang “memikirkan” untuk memerintahkan pengerahan gugus kapal induk kedua ke kawasan itu.

Pentagon merujuk pertanyaan lanjutan mengenai kemungkinan pengerahan kapal induk tersebut kepada Gedung Putih.

“Entah kita akan membuat kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras, seperti terakhir kali,” ujar Trump kepada Axios, merujuk pada serangan Amerika Serikat pada Juni 2025 yang menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengisyaratkan kemungkinan aksi militer baru AS terhadap Iran. Peringatan terbarunya muncul tak lama setelah putaran perundingan antara perwakilan AS dan Iran pada 6 Februari di Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang mewakili Teheran dalam perundingan di Oman, mengatakan pembahasan tersebut dimulai dengan “awal yang baik.” Ia juga menyebutkan bahwa Oman akan membantu mengoordinasikan putaran perundingan lanjutan.

Cakupan pasti perundingan AS–Iran ke depan kemungkinan akan menjadi isu yang diperdebatkan. Sejauh ini, Teheran memberi sinyal kesediaan untuk membahas proyek nuklir Iran, namun Washington mungkin akan menuntut konsesi tambahan, termasuk pembatasan kemampuan rudal Iran.

Pada 7 Februari, sehari setelah perundingan di Oman berakhir, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa ia akan berbicara dengan Trump di Washington pada 11 Februari.

“Perdana Menteri meyakini bahwa setiap perundingan harus mencakup pembatasan rudal balistik serta penghentian dukungan terhadap poros Iran,” kata kantor Netanyahu.

Setelah pasukan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Juni, pasukan Iran membalas dengan rentetan serangan rudal yang membebani sistem pertahanan udara Israel.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Qatar pada 7 Februari, Araghchi mengatakan program rudal Iran tidak akan dinegosiasikan. Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan menanggapi setiap serangan baru AS dengan menargetkan pangkalan-pangkalan yang menampung pasukan Amerika Serikat di seluruh Timur Tengah.

Menyusul serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni, pasukan Iran membalas dengan meluncurkan salvo rudal ke sebuah pangkalan yang menampung pasukan AS di Qatar. Trump mengatakan Teheran telah memberi tahu Washington terlebih dahulu mengenai serangan balasan tersebut, sehingga pasukan AS dapat mencegat rudal-rudal itu tanpa menimbulkan korban jiwa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gus Ipul Instruksikan Jajaran Kemensos Kerja Berbasis Data dan Membumi
• 14 jam lalusuara.com
thumb
Momen Pandji Pragiwaksono Ikuti Ritual Massarring di Tana Toraja
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Kisah Pilu Bocah Kendari Tewas Tertabrak saat Berjualan Tisu, Janji Bawa Pulang Beras untuk Dimakan Keluarga
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
Apa Hubungan Usopp dan Raksasa di One Piece? Ternyata tak hanya Teman
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
PLN dan Borneo Indobara Perkuat Akselerasi Energi Bersih
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.