Hindari Kebiasaan Menahan BAB. Ini Dampaknya

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR- Kebiasaan menahan buang air besar (BAB) masih sering dilakukan sebagian masyarakat, baik karena kesibukan maupun rasa tidak nyaman menggunakan toilet umum.


Padahal, kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan saluran pencernaan. Menahan BAB terlalu sering dapat menyebabkan gangguan pada usus besar.


Saat dorongan BAB diabaikan, feses akan tertahan lebih lama di dalam usus sehingga air di dalamnya terserap kembali dan membuat tinja menjadi keras.


Kondisi ini dapat memicu luka pada saluran cerna bagian bawah. Pada beberapa kasus, tinja yang keras dan sulit dikeluarkan bisa menyebabkan perdarahan saat BAB akibat robekan kecil di anus atau rektum.


Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RSUP Wahidin Sudirohusodo, dr. Ronal Erasio Lusikooy, Sp.B-KBD, mengatakan setiap keluhan BAB berdarah, sebaiknya diperiksakan secara medis untuk memastikan sumber perdarahan.


Menurut dr. Ronal, salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah endoskopi. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter melihat langsung kondisi saluran cerna sehingga penyebab keluhan dapat diketahui secara pasti.


“Pemeriksaan bertujuan memberikan kepastian diagnosis agar pasien tidak diliputi kecemasan berlebihan. Banyak kasus BAB berdarah yang bukan disebabkan kanker usus,” ujarnya.


Dengan mengetahui penyebab yang jelas, lanjut dr. Ronal, penanganan dapat dilakukan secara tepat dan terarah sesuai kondisi pasien. Hal ini penting agar pasien tidak menunda pengobatan akibat ketakutan yang berlebihan.


Selain pemeriksaan medis, ia juga menekankan pentingnya menghindari kebiasaan menahan BAB serta menjaga kebersihan area anus. Langkah sederhana ini berperan besar dalam mencegah gangguan ringan seperti wasir dan luka pada saluran cerna bagian bawah.


“Jika menemukan perubahan pada kebiasaan buang air besar, jangan menunda pemeriksaan. Konsultasi lebih awal justru dapat memberikan rasa aman dan kepastian kondisi kesehatan,” ungkapnya.


Dr. Ronal menambahkan, kewaspadaan terhadap kanker tetap perlu ditingkatkan, terutama jika BAB berdarah terjadi secara terus-menerus atau disertai penurunan berat badan dan perubahan pola BAB yang signifikan.


Spesialis Bedah ST Wasir Center RS Sandi Karsa Makassar, dr. Rizal Basri, Sp.B, M.Kes, menjelaskan kebiasaan menahan BAB juga berisiko menyebabkan wasir. Tekanan yang berlebihan saat mengejan akibat tinja keras dapat memperparah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus.


“Nah jika berlangsung dalam jangka panjang dan disertai gejala lain, kebiasaan ini dapat menjadi salah satu faktor risiko gangguan serius pada usus, termasuk kanker usus. Meski demikian, BAB berdarah tidak selalu berarti kanker,” ucapnya.


Secara medis, BAB berdarah dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti wasir, fisura ani, infeksi saluran cerna, hingga peradangan usus. Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan menjadi langkah yang tidak boleh diabaikan.


“Makanya penting bagi masyarakat untuk tidak langsung berasumsi buruk, tetapi tetap bersikap waspada dan bijak. Deteksi dini akan sangat membantu dalam menjaga kesehatan saluran cerna dan kualitas hidup,” tuturnya. (wis)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Souza Santai Meski Tertinggal: Persija Belum Lempar Handuk!
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Oso Sekuritas Berubah Nama Jadi Sukadana Prima Sekuritas
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Kemlu: Presiden Prabowo Akan Hadiri Rapat Perdana Board of Peace
• 13 jam laludetik.com
thumb
Putus Komunikasi dengan Inara Rusli, Virgoun Siap Ajukan Gugatan Pengalihan Hak Asuh Anak
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Pengusaha Teriak Marak Penginapan Murah Tanpa Izin, Ini Respons Menpar
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.