Megawati Terima Gelar Doktor Kehormatan, Hasto: Pengakuan Kepemimpinan Ideologis

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut pemberian gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) bagi Megawati Soekarnoputri oleh Princess Nourah bint Abdulrahman University, Arab Saudi sebagai tanda pengakuan internasional terhadap kepemimpinan Presiden Kelima RI itu.

Diketahui, pemberian dari Princess Nourah bint Abdulrahman University menjadi gelar Doktor Kehormatan kesebelas yang diperoleh Megawati. 

BACA JUGA: Megawati Soekarnoputri Terima Gelar Doktor HC di Riyadh, Terharu Saat Berpidato

"Ini suatu pengakuan terhadap kepemimpinan ideologis, kemanusiaan, dan keadilan yang terus-menerus diperjuangkan oleh Ibu Megawati," kata Hasto di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (11/2).

Alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) itu menilai kepemimpinan Megawati di Indonesia selalu mengacu sisi ideologis.

BACA JUGA: Megawati: Gelar Doktor Kehormatan Bertambah, Tanggung Jawab Kemanusiaan Ikut Membesar

"Kepemimpinan strategis beliau diwarnai oleh ideologi yang dijabarkan secara nyata dalam kultur organisasi," lanjut Hasto.

Peraih gelar doktor dari Universitas Indonesia (UI) itu mengungkit kepemimpinan Megawati ketika mampu membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensi setelah 1998 serta membangun landasan ekonomi yang kokoh.

BACA JUGA: Megawati Dapat Toyota Avanza, Selamat!

"Termasuk ketika beliau menjadi Presiden kelima, beliau mampu menyelesaikan krisis multidimensional dan membangun kepastian, sehingga kabinetnya saat itu dikenal sebagai The Dream Team," kata Hasto.

Pria kelahiran Yogyakarta itu menuturkan gelar yang diperoleh Megawati juga menjadi pelecut PDIP terus mengedepankan pentingnya kepemimpinan intelektual. 

Menurutnya, seorang pemimpin harus memahami problematika rakyat sekaligus memiliki visi masa depan yang kuat.

"Kepemimpinan yang membumi pada problematika rakyat, bangsa, dan negara. Suatu kepemimpinan yang memberi arah masa depan, namun juga siap diuji oleh berbagai guncangan, termasuk kritik," kata Hasto.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mengatakan kepemimpinan intelektual yang akhirnya membuat elite negara tidak boleh antikritik. 

Hasto mengatakan tradisi kepemimpinan intelektual inilah yang diwariskan dari Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno hingga Megawati.

"Sejarah sejak Bung Karno hingga Ibu Megawati saat ini memang harus diwarnai dengan kepemimpinan intelektual agar partai bisa terus menentukan arah perjalanan bangsa ke depan," pungkas dia. (ast/jpnn)


Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Aristo Setiawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meninggal Dunia tapi Masih Punya Utang Puasa Ramadhan, ini Hukumnya menurut Ustadz Abdul Somad
• 21 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Perasaan Hector Souto Masih Campur Aduk Setelah Piala Asia Futsal 2026: Semoga Indonesia Tidak Euforia Sesaat
• 7 jam lalubola.com
thumb
Terpopuler: Harga Mobil Listrik di IIMS 2026, Hybrid Murah untuk Pemula, hingga Ban Khusus Kendaraan Elektrifikasi
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
KSAD Tegaskan TNI AD Siap Jalankan Program Prioritas dan Tingkatkan Kesejahteraan Prajurit
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Komisi X DPR Puji Konsolnas 2026, Strategis Menuju Pendidikan Modern dan Berkelanjutan
• 11 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.