BABAK panjang perseteruan hukum antara UEFA dan Real Madrid mengenai proyek kontroversial Liga Super Eropa akhirnya mencapai titik temu. Kedua belah pihak, bersama dengan European Football Clubs (EFC), mengumumkan kesepakatan damai pada Rabu (11/2) waktu setempat, sekaligus mengakhiri ketegangan yang sempat mengancam stabilitas sepak bola Benua Biru.
Setelah melalui pembicaraan intensif selama berbulan-bulan, UEFA dan Real Madrid menyatakan telah mencapai kesepakatan secara prinsip. Inti dari kesepakatan ini adalah komitmen bersama untuk menjaga keselamatan sepak bola klub di Eropa dengan tetap menghormati prinsip prestasi olahraga (sporting merit).
“Kesepakatan prinsip ini juga akan menjadi dasar penyelesaian sengketa hukum terkait Liga Super Eropa, setelah prinsip-prinsip tersebut dijalankan dan diimplementasikan,” ungkap pernyataan resmi tersebut sebagaimana diwartakan oleh ESPN.
Baca juga : Pengadilan Spanyol Larang UEFA Jatuhi Sanksi Juventus, Barcelona dan Madrid
Latar Belakang KonflikPerseteruan ini berawal pada April 2021 ketika Real Madrid menjadi salah satu dari 12 klub elite yang memelopori pembentukan kompetisi tandingan Liga Champions.
Namun, proyek tersebut runtuh hanya dalam hitungan hari setelah gelombang protes besar-besaran dari suporter dan tekanan dari pemerintah berbagai negara.
Meski mayoritas klub pendiri, termasuk enam klub raksasa Inggris, memilih mundur, Real Madrid tetap bertahan.
Baca juga : UEFA Hentikan Langkah Hukum Terhadap Pencetus Liga Super
Situasi semakin memanas pada Oktober tahun lalu ketika manajemen Los Blancos menuntut kompensasi dari UEFA.
Langkah hukum itu diambil setelah Pengadilan Regional Madrid menolak banding yang diajukan UEFA, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), dan La Liga.
Runtuhnya Dukungan TerakhirReal Madrid dan Barcelona sempat menjadi dua benteng terakhir yang mempertahankan ide liga independen ini. Namun, arah angin berubah drastis pada pekan lalu ketika Barcelona secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari proyek tersebut.
Hal ini meninggalkan Real Madrid sebagai satu-satunya klub yang masih berdiri di balik gagasan tersebut.
Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali konsep kompetisi tandingan sempat muncul pada Desember 2024 melalui proposal bertajuk Unify League.
Rencana ambisius yang melibatkan 96 klub dalam empat divisi ini kembali menemui jalan buntu. Penolakan keras dari liga-liga besar seperti La Liga dan Liga Primer Inggris membuat gagasan tersebut gagal mendapatkan dukungan luas.
Menuju Stabilitas BaruDengan tercapainya kesepakatan ini, ketidakpastian hukum yang selama ini menyelimuti hubungan antara klub tersukses di Eropa tersebut dengan otoritas sepak bola tertinggi di Eropa resmi berakhir.
Fokus kini beralih pada implementasi prinsip-prinsip yang telah disepakati untuk memastikan bahwa kompetisi sepak bola tetap inklusif dan berbasis pada performa di lapangan. (Ant/Z-1)





