Inisiatif Terminal Hijau Dimulai dari Ujung Barat Pulau Jawa

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Aspek keberlanjutan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana strategis perusahaan, termasuk PT Pertamina (Persero) yang tengah menjalankan transformasi bisnis. Upaya ini diwujudkan melalui penguatan sinergi antar-anak usaha BUMN bidang energi tersebut guna mendorong pertumbuhan usaha ke depan, sejalan dengan semangat dekarbonisasi.

Inisiatif itu ditandai dengan dimulainya (kick-off) inisiasi menuju green terminal di Terminal Liquefied Petroleum Gas (LPG) Tanjung Sekong, Kota Cilegon, Banten, Rabu (11/2/2026). Secara bertahap, terminal yang dikelola PT Pertamina Energy Terminal ini akan mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam operasionalnya dengan target meraih sertifikasi terminal hijau (green terminal label certification/GTLC) pada 2028.

Inisiatif ini merupakan bagian dari transformasi energi perusahaan dengan mengintegrasikan hidrogen hijau (green hydrogen) ke dalam operasional Terminal LPG Tanjung Sekong. Pasokan hidrogen direncanakan berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Sementara aspek logistik dan distribusi ditangani oleh PT Elnusa Petrofin.

Melalui sinergi antar-anak usaha Pertamina tersebut nanti ditargetkan hidrogen hijau memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal. Selain itu, melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sehingga penurunan emisi gas rumah kaca diharapkan lebih optimal.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan, Pertamina saat ini terus bertransformasi, salah satunya melalui penataan bisnis secara terstruktur. Transformasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan penciptaan nilai, serta memperkuat sinergi dan integrasi antarentitas di Pertamina.

”Kalau mau bicara berkelanjutan, (implementasi) ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) harus diwujudkan dengan kerja sama riil seoptimal mungkin dan menghasilkan bisnis baru,” kata Agung dalam acara kick-off inisiasi menuju Green Terminal Tanjung Sekong, Rabu.

Baca JugaPertamina Targetkan Porsi Bisnis Energi Terbarukan Jadi 17 Persen pada 2030

Ia menambahkan, program green terminal juga merupakan bagian dari implementasi Peta Jalan Net Zero Emission (NZE) 2060 Pertamina. Di sisi lain, hal tersebut menjadi upaya dalam memperkuat daya saing perusahaan di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.

Hal tersebut juga guna memastikan bahwa infrastruktur energi nasional tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga relevan dengan standar keberlanjutan global. Melalui integrasi teknologi hijau dan tata kelola yang baik, perseroan memperkuat fondasi ketahanan energi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko jangka panjang.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Tbk Ahmad Yani menambahkan, pihaknya mendukung inisiasi terminal hijau melalui hidrogen hijau yang dihasilkan dari energi panas bumi di Ulubelu, Lampung. Saat ini, hidrogen hijau tersebut masih sebagai proyek percontohan. Sebagai uji pembuktian (proof of concept), hidrogen yang diproduksi 100 kilogram (kg) per hari dengan nilai investasi sekitar 3 juta dolar AS.

”Untuk penggunaannya, kami sedang membentuk ekosistem, termasuk kerja sama dengan Toyota untuk mobility. Begitu juga untuk Green Terminal Tanjung Sekong. Jadi, 80 persen (produksi hidrogen dalam proyek percontohan) akan digunakan untuk keperluan di Tanjung Sekong,” ucap Yani.

Lokasi strategis

Terminal LPG Tanjung Sekong dipilih sebagai lokasi pengembangan green terminal karena letaknya yang strategis dalam menopang transformasi bisnis Pertamina. Terminal itu berkontribusi sekitar 40 persen terhadap distribusi elpiji Pertamina secara nasional, yang selama ini berperan penting dalam menjaga ketahanan energi di berbagai sektor, termasuk rumah tangga.

Berdasarkan pantauan Kompas pada Selasa (11/2/2026), aktivitas pekerja terlihat di Terminal LPG Tanjung Sekong. Para teknisi memeriksa sejumlah fasilitas di area terminal untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sebelum elpiji didistribusikan ke berbagai stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) dengan kendaraan pengangkut.

Baca JugaDekarbonisasi Industri Nasional, Harga Mati

Di kompleks tersebut, terdapat dua tangki raksasa yang bersebelahan langsung dengan dermaga, yang berisi butana dan propana, masing-masing berkapasitas 44.000 ton. Propana dan butana kemudian dicampur (mix) hingga menjadi elpiji. Terdapat empat tangki menyerupai telur raksasa yang berisi elpiji, masing-masing berkapasitas 2.500 ton.

Secara total, terminal elpiji tersebut memiliki kapasitas penyimpanan hingga 98.000 ton, dengan dermaga yang mampu melayani kapal berkapasitas sampai 65.000 deadweight tonnage (DWT). Melalui integrasi teknologi hijau, terminal ini diharapkan menjadi percontohan terminal energi ramah lingkungan yang berperan sentral dalam bisnis energi, sekaligus mendorong implementasi dekarbonisasi.

”Transformasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi agenda tambahan, tetapi bagian dari strategi inti perusahaan dalam menjaga kedaulatan energi nasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan,” ujar Agung.

Hidrogen hijau

Sebelumnya, pengembangan hidrogen hijau, dengan listrik yang bersumber dari panas bumi, yang notabene jenis energi terbarukan, memasuki babak baru seiring dilakukannya peletakan batu pertama (groundbreaking) Pilot Plant Green Hydrogen, September 2025. Proyek tersebut menjadi fasilitas pertama di dunia yang mengintegrasikan teknologi anion exchange membrane (AEM) electrolyzer dengan energi panas bumi sebagai sumber listrik (Kompas.id, 10/9/2025).

Sebagian energi listrik yang dihasilkan dari PLTP Ulubelu akan digunakan untuk memproduksi hidrogen hijau. Proses itu dimulai dari pemanfaatan air kondensat yang berasal dari bak menara pendingin. Setelah itu, air kondensat dimurnikan melalui sistem pengolahan air berbasis osmosis terbalik, untuk selanjutnya dialirkan ke unit hydrogen plant yang menggunakan teknologi AEM electrolyzer.

Ke depan, bisnis hidrogen hijau berpotensi berkembang pesat, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan, permintaan hidrogen di kawasan ini masih didominasi sektor industri kimia dan sebagian besar diproduksi berbasis gas alam (belum hijau). Pada 2024, Indonesia menjadi negara dengan permintaan terbesar, mencapai 4 juta ton per tahun (Mtpa) atau sekitar 35 persen dari total kebutuhan Asia Tenggara. Setelah Indonesia, permintaan terbesar berasal dari Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

Baca JugaDari Ulubelu, Panas Bumi Jadi Pilar Penting Transisi ke Energi Bersih

Di tingkat sektoral, hampir separuh konsumsi hidrogen di kawasan digunakan untuk produksi amonia. Sisanya dimanfaatkan untuk penyulingan minyak bumi serta produksi metanol. Namun, sekitar 80 persen dari total permintaan tersebut masih dipenuhi oleh hidrogen berbasis gas alam tanpa teknologi penangkapan emisi karbon, sehingga berkontribusi terhadap emisi.

Meski peluang pengembangan hidrogen hijau terbuka lebar, realisasinya masih memerlukan pematangan. IEA mencatat, dari berbagai proyek yang telah diumumkan, kapasitas produksi hidrogen rendah emisi di Asia Tenggara berpotensi mencapai 480.000 ton pada 2030, dengan konsentrasi utama di Indonesia dan Malaysia. Namun, sekitar 60 persen proyek itu masih berada pada tahap awal sehingga membutuhkan dukungan kebijakan dan pendanaan secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menuturkan, pengembangan hidrogen bukan hanya instrumen dekarbonisasi. Namun juga pilar transformasi ekonomi dan industrialisasi jangka panjang. Ekosistem hidrogen akan memperkuat ketahanan energi dan mendorong industrialisasi rendah karbon.

Pada 2026, Eniya menargetkan terdapat ketersediaan hidrogen hijau mendekati 200 ton per tahun. ”Kita harus mencapainya. Kita ingin menciptakan (hidrogen hijau) lebih banyak,” kata Eniya dalam 4th Indonesia-Japan Hydrogen Ammonia Development Acceleration Forum di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Dihubungi terpisah, Rabu, Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna, mengatakan, inisiasi pengembangan hidrogen oleh Pertamina, terutama yang bersumber dari energi hijau, perlu disikapi secara positif. Namun, besaran kapasitas dan skala keekonomian akan menjadi tantangan di masa depan. Pasalnya, biaya hidrogen hijau masih lebih tinggi dibanding hidrogen konvensional berbasis gas alam.

”Saat ini, hidrogen sebenarnya sudah banyak digunakan di industri kilang minyak, petrokimia, dan pupuk. Namun, mayoritas masih berbasis gas alam. Oleh karena itu, pasar yang paling menjanjikan bagi hidrogen hijau sebenarnya ialah menggantikan pasar yang sudah ada tersebut (hidrogen berbasis gas alam),” ucapnya.

Pada akhirnya, inisiasi transformasi Terminal LPG Tanjung Sekong menjadi green terminal menandai babak baru dalam arah bisnis Pertamina. Bukan sekadar modernisasi fasilitas, melainkan pergeseran strategi menuju operasional yang lebih efisien, rendah emisi, dan selaras dengan agenda transisi energi. Ke depan, ketahanan energi nasional diharapkan tercapai dengan cara yang lebih bersih.

Baca JugaMimpi Hidrogen Hijau, Bisakah Dunia Menggapainya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jakarta Teken MoU dengan BPKP, Pramono: Kami Persilakan Audit Tanpa Batasan
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Aktivitas Korporasi Menguat, Pasar Properti Jakarta Diproyeksi Bangkit
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Sinopsis Drama China Romance of a Twin Flower, Amnesia Peng Xiao Ran Bongkar Rahasia Istana & Uji Cinta Ding Yu Xi
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Ini rasanya masuk ke dunia sihir yang bak nyata di Harry Potter and The Philosopher’s Stone In Concert
• 13 jam lalubrilio.net
thumb
Pasar Jaya Siapkan 500 Bazar Murah Jelang Ramadan, Sembako Mulai Rp 100 Ribu
• 12 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.