Gemak sumba, burung kecil ini sangat jarang disorot publik. Namanya Turnix everetti dan ia bukan puyuh biasa. Ia adalah identitas biologis Pulau Sumba yang hidup diam, rendah hati, tetapi sangat penting secara ekologis.
Gemak sumba termasuk famili Turnicidae, kelompok burung terrestrial yang hidup di tanah. Dunia internasional mengenalnya sebagai Sumba Buttonquail. Nama ilmiahnya diberikan oleh Ernst Hartert pada 1898. Nama spesies everetti diambil dari Alfred Hart Everett, kolektor zoologi era kolonial.
Secara taksonomi, ia masuk kelas Aves, ordo Charadriiformes, famili Turnicidae, genus Turnix. Spesies ini bersifat monotipe, tanpa subspesies. Penelitian sistematika menunjukkan perbedaan jelas dari Turnix pyrrhothorax dan Turnix sylvaticus. Data ini dirangkum oleh BirdLife International dalam Species Factsheet Turnix everetti, 2016.
Secara geografis, gemak sumba hanya hidup di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ia benar-benar endemik, tidak ditemukan di wilayah Indonesia lain. Habitatnya meliputi sabana kering, padang rumput alami, semak belukar, dan lahan terbuka. Sebarannya tercatat dari dataran rendah hingga sekitar 220 meter di atas permukaan laut.
Gemak sumba hidup di lanskap yang terlihat sederhana. Rumput setinggi 50 hingga 70 sentimeter menjadi ruang hidup utamanya. Ia menyukai area terbuka yang diselingi semak. Pola ini menunjukkan adaptasi terhadap ekosistem savana tropis kering khas Sumba.
Secara fisik, tubuhnya kecil dan gempal, panjang sekitar 14 sentimeter. Bobot jantan sekitar 28 gram, betina sedikit lebih besar. Ekornya nyaris tidak terlihat. Paruhnya pendek, tebal, dan berwarna abu-abu.
Bagian dada berwarna oranye kemerahan. Perutnya pucat keputihan. Punggungnya gelap dengan garis-garis tebal berpola samar. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami di padang rumput kering.
Kaki gemak sumba memiliki tiga jari depan tanpa jari belakang. Ini membedakannya dari puyuh famili Phasianidae. Struktur kaki ini membuatnya lebih adaptif berlari di tanah terbuka. Ia lebih memilih berlari daripada terbang saat terancam.
Lehernya pendek dan menyatu dengan tubuh. Kepala kecil, mata gelap, ekspresi tenang. Paruhnya tebal, menandakan adaptasi terhadap makanan keras. Semua ciri ini menunjukkan evolusi ekologis spesifik.
Perbedaan jantan dan betina cukup unik. Betina justru berwarna lebih cerah. Ini terbalik dari pola burung pada umumnya. Fenomena ini umum pada famili Turnicidae dan dijelaskan oleh del Hoyo dalam Handbook of the Birds of the World, 1996.
Gemak sumba tidak memiliki jenis atau subspesies turunan. Ia berdiri sebagai satu entitas evolusioner tunggal. Ini memperkuat posisinya sebagai spesies endemik murni. Secara ilmiah, ini menjadikannya sangat bernilai konservasi.
Makanannya didominasi biji-bijian dan serangga kecil. Ia mencari makan langsung di tanah. Aktivitas ini biasanya dilakukan berpasangan atau dalam kelompok kecil. Kadang tercatat hingga enam individu dalam satu area.
Tempat mencari makannya adalah tanah terbuka dan rumput pendek. Ia menyisir permukaan tanah secara perlahan. Paruh tebalnya memudahkan mengambil biji keras. Ini membuatnya berbeda dari spesies Turnix lain yang berparuh kecil.
Secara ekologis, gemak sumba berfungsi sebagai pengontrol benih dan serangga tanah. Ia membantu menjaga keseimbangan mikroekosistem savana. Perannya kecil, tetapi penting. Inilah makna burung kecil dalam sistem besar.
Kemampuan terbangnya terbatas. Ia hanya terbang rendah dan jarak pendek. Pola hidupnya lebih mengandalkan kaki. Ia adalah pelari alami, bukan penerbang jarak jauh.
Keistimewaannya terletak pada adaptasi ekologis dan isolasi geografis. Evolusinya terjadi tanpa tekanan spesies luar. Ini membentuk karakter biologis unik. Ia bukan burung biasa, melainkan produk sejarah alam Sumba.
Penelitian ilmiah awal dilakukan oleh Hartert pada akhir abad ke-19. Studi lanjutan dilakukan oleh BirdLife International dan IUCN. Data konservasi diperbarui dalam IUCN Red List, Turnix everetti, 2016. Statusnya dicatat sebagai Vulnerable atau rentan.
Penelitian menunjukkan populasinya tergantung pada stabilitas padang rumput. Pembakaran lahan dan alih fungsi savana menjadi ancaman utama. Ekosistem yang berubah cepat membuat habitatnya menyempit.
Ciri khusus pada judul “bukan puyuh biasa” bukan sekadar gaya bahasa. Secara biologis, ia berbeda struktur kaki, perilaku, dan sistem reproduksi. Ia juga berbeda secara filogenetik. Ini bukan puyuh famili Phasianidae.
Umur hidupnya di alam diperkirakan 5 hingga 7 tahun. Umur siap produksi sekitar satu tahun. Reproduksinya terjadi saat musim kemarau. Pola ini mengikuti siklus ekologi savana.
Tempat bersarangnya sederhana. Sarang dibuat di tanah, tersembunyi rumput. Telurnya berjumlah 2 hingga 5 butir. Masa mengeram berlangsung sekitar dua minggu.
Anak gemak sumba mulai mandiri dalam usia dua hingga tiga bulan. Mereka cepat belajar berlari dan mencari makan. Pola ini khas burung terestrial. Ketahanan hidup anak sangat tergantung habitat.
Status konservasinya saat ini tergolong rentan. Dalam PP Nomor 7 Tahun 1999, ia termasuk satwa dilindungi. Ia juga masuk Apendiks II CITES. Perdagangan harus dikontrol ketat.
Tantangan terbesarnya adalah perubahan lanskap. Pembukaan lahan, kebakaran savana, dan pembangunan infrastruktur mengancam habitat. Minimnya penelitian juga menjadi masalah serius. Banyak aspek biologinya masih belum diketahui.
Gemak sumba adalah simbol sunyi keanekaragaman hayati Indonesia. Ia kecil, tidak populer, tetapi bernilai besar. Ia mengajarkan bahwa konservasi bukan soal spesies besar saja. Burung kecil pun menyimpan makna peradaban ekologis.





