Jakarta: Di tengah riuhnya tabuhan barongsai dan lampion merah yang menghiasi sudut kota, meja makan masyarakat Tionghoa menjadi pusat dari segala doa dan harapan saat Tahun Baru Imlek. Di sana, tersaji hidangan-hidangan ikonik yang bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol keberuntungan yang telah diwariskan turun-temurun.
Pakar Fengshui, Yulius Fang, menyebut bahwa setiap gigitan dari nastar hingga kue keranjang membawa pesan filosofis tentang kemakmuran yang dinanti.
“Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ (nanas) ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” ujar Yulius kepada ANTARA di kediamannya, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Baca Juga :
Dilema Trotoar Istiqlal: Antara Ketertiban Kota dan Napas Ekonomi KecilNastar dengan isian selai nanas emasnya dipercaya sebagai penarik "ong" atau kemakmuran. Harapan serupa juga disematkan pada kue lapis yang hadir dengan susunan rapi, melambangkan doa agar rezeki pemilik rumah datang bertumpuk dan berlapis-lapis di sepanjang tahun.
Tak hanya yang manis, dumpling atau pangsit juga menyimpan cerita sejarah yang kuat. Lahir dari kreativitas masyarakat di Tiongkok saat musim dingin menyulitkan pasokan sayur, adonan tepung berisi daging ini kini menjadi menu wajib yang menghangatkan suasana Sincia.
Namun, dari sekian banyak hidangan, kue keranjang menyimpan fakta unik yang jarang diketahui orang awam. Meski disajikan dengan cantik di atas meja tamu, kue yang teksturnya menyerupai dodol ini memiliki aturan tradisi tersendiri saat hari perayaan.
“Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelas Yulius.
Dumpling (dim sum). Foto: Pexels.
Tekstur yang terlalu lengket saat masih baru menjadi alasan praktis di balik aturan tersebut. Kue keranjang lebih lazim dijadikan hantaran kepada sanak saudara sebagai simbol kebersamaan. Selain itu, buah jeruk, apel, hingga angpao menjadi pilihan hadiah yang umum diberikan sebagai tanda kasih kepada keluarga.
Tradisi menghantarkan makanan ini, terutama dari anak kepada orang tua atau mertua, menjadi pengikat silaturahmi yang erat. Dengan stok makanan yang melimpah di rumah orang tua, setiap tamu yang berkunjung dipastikan akan disambut dengan hangat dan penuh keberkatan tanpa perlu merasa kekurangan.




