Matamata.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, mendesak pemerintah untuk segera menangkap peluang strategis di tengah pelemahan ekonomi yang tengah melanda Singapura.
Menurutnya, kondisi ini merupakan momentum emas bagi Indonesia, khususnya Kota Batam, untuk memposisikan diri sebagai alternatif utama bagi para pengusaha dan masyarakat dari negara tetangga tersebut.
"Kondisi Singapura saat ini harus kita lihat sebagai peluang. Pemerintah perlu mempersiapkan segala instrumen agar Indonesia menjadi alternatif terbaik bagi pengusaha dan masyarakat yang selama ini berbasis di Singapura," ujar Hendry dalam keterangan tertulisnya saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII ke Batam, Rabu (11/2).
Hendry mencatat, ekonomi Batam menunjukkan geliat signifikan seiring melandainya kondisi ekonomi Singapura. Sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang berbatasan langsung secara geografis, Batam kini menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara (wisman).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisman ke Batam periode Januari–Agustus 2025 telah menembus angka 1 juta orang. Menariknya, sekitar 50 hingga 65 persen dari total kunjungan tersebut berasal dari Singapura.
Fenomena Belanja Mingguan Warga Singapura Melemahnya ekonomi Singapura memicu tren baru: warga Singapura kini rutin menyeberang ke Batam pada akhir pekan hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga barang kebutuhan di Singapura yang kian tak terjangkau.
"Saat ini terjadi shopping tourism. Rata-rata lama tinggal wisman hanya sekitar 1,86 hari. Mereka datang untuk belanja singkat karena harga barang di Singapura sudah sangat tinggi," jelas Hendry.
Meski berdampak positif pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel yang mencapai 53,82 persen pada Agustus 2025, Hendry memberikan catatan kritis. Ia menyoroti fenomena "orang kapal" atau perantara lintas batas yang membeli barang dalam jumlah besar untuk dibawa ke Singapura.
Waspadai Risiko Inflasi dan Kelangkaan Hendry memperingatkan bahwa jika tidak dikelola dengan regulasi yang ketat, fenomena ini dapat merugikan warga lokal. Pembelian barang dalam skala besar oleh wisman berisiko mengganggu jalur distribusi dan memicu kelangkaan barang di Batam.
"Ada indikasi tekanan harga barang di Batam saat ini. Meskipun masalah kelangkaan ini masih bersifat spesifik dan temporer, potensinya bisa membesar jika tidak dikelola. Kita minta pemerintah pusat tidak membiarkan persoalan ini berlarut-larut," tegasnya.
- KPK Tegaskan Penetapan Tersangka Yaqut Cholil Qoumas Sesuai Prosedur Hukum
Ia berharap pemerintah segera menata regulasi agar lonjakan kunjungan ini tidak hanya menguntungkan sektor jasa dan perhotelan, tetapi juga tetap menjamin stabilitas harga dan ketersediaan barang bagi masyarakat lokal di Batam. (Antara)




