Nasib Gajah di Tengah Krisis Lembaga Konservasi, Berpindah-pindah hingga Mati

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Gajah sumatera jinak mati lagi di lembaga konservasi. Kali ini, gajah bernama Ratna mati di Rahmat Zoo and Park di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Ratna bersama tiga gajah lain dipindahkan lima bulan lalu dari Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) yang mengalami krisis keuangan. Pemerintah didorong mengambil langkah darurat menyelamatkan gajah lain.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Ario Putra dari Rahmat Zoo, Rabu (11/2/2026), Ratna yang merupakan gajah betina berusia 50 tahun mati pada Sabtu (7/2/2026). Ratna diduga mati akibat gangguan fungsi ginjal, hati, dan disertai gangguan pada organ vital lain seperti jantung dan saluran pencernaan.

”Saat kedatangan, beberapa gajah kondisi tubuhnya kurus, khususnya Ratna. Ditemukan juga luka menahun pada kaki kiri,” kata Ario.

Ratna dipindahkan dari BNWS pada 29 September 2025 bersama tiga gajah lain, yakni Poppy (45), Uli (6), dan Lia (15). Ario menyebut, mereka kesulitan merawat Ratna karena sulit dikendalikan dan tidak dapat ditunggangi mahout. Setiap tindakan medis harus didahului pembiusan.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut Andar Saragih membenarkan adanya kematian gajah itu. Andar menyebut, BBKSDA Sumut sedang menyiapkan keterangan pers dan belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) Donny Gunaryadi mengatakan, pemerintah harus segera mengambil langkah untuk menyelamatkan gajah-gajah jinak yang tersisa di sejumlah lembaga konservasi. Penyelamatan tidak bisa hanya dengan sekadar memindahkan gajah dari satu lembaga konservasi ke lembaga konservasi lain.

Pemerintah tidak bisa berhenti pada penyebab teknis kematian gajah. Persoalan yang terjadi di balik kematian gajah jinak di lembaga konservasi jauh lebih mendasar, yakni sistem pengelolaan. Donny mengingatkan, persoalan itu hanya bisa diatasi pemerintah karena hanya mereka yang berwenang.

”Ini perlu diperbaiki sistemnya. Kami sudah sampaikan kepada Kementerian Kehutanan agar dibuat sistem dan skema yang baru. Kalau dibiarkan, gajah-gajah itu akan mati lagi,” kata Donny.

Donny menyebut, FKGI sejak awal sudah mengingatkan agar gajah dari BNWS jangan dipindahkan ke lembaga konservasi lain sebelum dilakukan evaluasi kenapa harus dipindah. Pemerintah juga harus mengevaluasi kesiapan lembaga konservasi baru dalam menerima gajah itu. ”Kami sampaikan protes resmi, tetapi gajah tetap dipindah diam-diam dan akhirnya mati,” kata Donny.

Baca JugaKrisis Keuangan di Barumun Sanctuary, Dua Gajah Dievakuasi ke Aek Nauli

Dalam catatan Kompas, krisis pengelolaan sejumlah lembaga konservasi di Sumut terjadi sejak pandemi Covid-19. Kondisi keuangan belum pulih hingga saat ini. Pendapatan yang mengandalkan retribusi dan donasi tak cukup menutupi biaya operasional yang tinggi.

Kematian gajah jinak di BNWS mulai terjadi sejak September 2022. Ketika itu, gajah Dargo (57) mati diduga akibat keracunan makanan dari rumput berpestisida. Sebulan berikutnya, anak gajah berusia 4 tahun, Fitri, juga mati akibat keracunan yang sama. Fitri merupakan anak Dwiki. Kematian juga berlanjut pada Desember 2022, yakni gajah bernama Keri.

Akibat krisis itu, dua gajah dipindahkan dari BNWS ke Kamp Konservasi Gajah Aek Nauli (Aek Nauli Elephant Conservation Camp/ANECC) di Kabupaten Simalungun untuk mengurangi beban operasional. Akan tetapi, satu di antaranya, yakni gajah Dwiki (43), mati pada Februari 2023. Kematian gajah dipicu penyakit luka menahun.

Pemindahan dua gajah jinak dari BNWS ke ANECC kembali dilakukan pada April 2025. Dua gajah itu Bongkar, jantan berusia 43 tahun, dan Chaililia, betina berusia 38 tahun. Pemindahan dipicu krisis keuangan yang semakin parah dan membuat 10 gajah yang tersisa mengalami malanutrisi. Kondisi beberapa gajah terlihat kurus. Tulang-tulang gajah tampak menonjol, mulai dari tulang punggung, pinggul, rusuk, hingga kaki.

Lembaga konservasi itu sempat menghentikan 10 orang mahout yang merawat gajah. Padahal, peran mereka sangat penting untuk memberi makan-minum, memandikan, memindahkan, hingga mengangon gajah. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan mahout. BBKSDA Sumut membantu BNWS mempekerjakan beberapa mahout.

Idealnya gajah-gajah jinak itu harus mendapat pakan minimal 10 persen dari bobot badannya. Seekor gajah dengan bobot sekitar 3 ton harus mendapat pakan minimal 300 kilogram per hari. Pakan itu berupa 70 persen rumput dan 30 persen buah-buahan, seperti pisang, semangka, dan pepaya.

Gajah itu juga sebelumnya diberi suplemen jamu-jamuan, kacang hijau, kacang merah, pulut hitam, pulut putih, dan jagung. Namun, gajah akhirnya hanya mendapat pakan rumput. Itu pun tidak mencukupi karena kekurangan mahout untuk membawa gajah merumput.  

Baca JugaGajah Jinak Dona Mati di TN Way Kambas, Diduga Alami Infeksi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tolak Ajakan Kencan Rayakan Valentine, Mahasiswi Ditembak Teman Prianya Dalam Kelas saat Kuliah
• 11 jam lalurealita.co
thumb
Nonton Live Streaming 16 Besar AFC Champions League 2: Ratchaburi FC Vs Persib
• 18 jam lalubola.com
thumb
Industri Pengolahan Konsisten Jadi Penyumbang Terbesar Ekonomi Nasional
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bahlil Kaji Ulang Pencabutan Izin Usaha Agincourt di Tambang Emas Martabe
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Yaqut Melawan via Praperadilan, KPK Tegaskan Keabsahan Penersangkaan
• 3 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.