Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan tak biasa muncul saat melintas jalur penyeberangan transportasi umum yang menghubungkan Stasiun LRT Cikoko dan Stasiun KRL Cawang. Dua sosok pemuda berparas timur tengah berdiri tepat di bawah tangga lantai 2 jalur tersebut, dengan membawa kotak donasi bertuliskan Palestina.
Selain paras, kedua pemuda tersebut juga menggunakan atribut Palestina, seperti syal, topi dan bendera kecil yang digenggamnya bersama kotak donasi.
Advertisement
Menurut warga yang kerap melintas jalur itu, keberadaan mereka bukan muncul sesekali. Tapi hampir setiap hari, mereka berdiri di titik yang sama.
Mengonfirmasi hal itu, awak redaksi Liputan6.com mendekat dan berdialog dengan keduanya, pada Rabu sore (12/2/2026). Mereka mengaku bernama Basil dan Khaled
Membuka percakapan, Basil dan Khaled menyatakan tak mampu berbahasa Indonesia. Mereka hanya bisa bercakap dalam dua bahasa, Inggris dan Arab. Dengan izin, keduanya bersedia menceritakan kisahnya.
Awal kedatangannya ke Indonesia dimulai empat bulan yang lalu. Mereka tiba sebagai penyintas atas konflik berkepanjangan tempat tinggalnya di Gaza. Bermodal seadanya dan niat menyelamatkan diri, mereka berusaha lari menuju negara yang diyakini dapat menerimanya dengan ramah, Indonesia.
"Kami datang sendiri dan tiba sejak empat bulan yang lalu. Kami lari dari Gaza menuju Mesir. Dari Mesir ke sini. Karena seperti yang Anda tahu, tidak ada penerbangan langsung dari Gaza. Jadi kami pindah melalui jalur 'bawah tanah' hingga ke Mesir, dari Mesir kami beli tiket dan datang ke Indonesia. Karena Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang mengizinkan kami masuk begitu tiba di bandara," kata Khaled.
Khaled menjelaskan, mereka hanya perlu mengurus visa on arrival sesuai regulasi yang disyaratkan pemerintah Indonesia. Mereka memastikan, kehadirannya di Jakarta bukanlah WNA ilegal atau penyelundup.
"Kami legal, bahkan ketika mengurus visa kedatangan, petugas menyambut ramah karena melihat paspor Palestina. Kami kemudian membayar biaya masuk sebagai syarat administrasi visa on arrival," kata Khaled.
Guna menjamin legalitasnya, Khaled dan Basil juga mengaku sudah lapor diri ke kantor UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) untuk melaporkan keberadaannya selama di Indonesia. Tujuannya, agar aktivitas mereka terpantau dan memiliki izin tinggal tanpa harus memperpanjang rutin ke pihak imigrasi.
"Aktivitas kami di sini atas sepengetahuan mereka, sebagai warga dunia yang mencari perlindungan dari negara asal yang sedang berkonflik," jelas Khaled.
Dengan tabungan terbatas, keduanya mengaku tidak memiliki sanak dan kerabat selama di Indonesia. Mereka mendanai kegiatan hariannya sendiri, seperti untuk makan, minum dan tempat tinggal. Namun petaka terjadi ketika tabungan semakin menipis dan Khaled harus menjalani pengobatan di RSCM akibat menderita kanker di wilayah perut.
"Adik saya sakit. PBB (UNHCR) tidak membantu. Kami mencoba mencari solusi untuk membiayai pengobatan dan paspor adik saya juga ditahan di rumah sakit (sebagai jaminan tidak kabur)," tutur Basil.
"Ya, paspor saya ditahan, sebab masih ada tunggakan biaya berobat lebih dari Rp6 juta," sahut Khaled.
Khaled menuturkan, akibat kanker dideritanya, dia sudah dioperasi dua kali, 2014 dan 2017. Namun seiring dengan waktu, pada sebulan terakhir dirinya harus kembali rutin berobat.
"Setiap dua minggu saya ke rumah sakit, tapi saya tidak dapat menebus obat setiap saat karena harganya mahal. Satu jenis obat berkisar Rp 1 juta’an. Padahal ada 7 jenis yang harus ditebus," beber Khaled.
"Karena itulah, kami berdiri sepanjang hari di sini. Kami tidak akan seperti ini jika tidak dalam kondisi tersebut," timpal Basil.




