Izin Impor Seret, Dua Pabrik Gula Indonesia Disebut Setop Produksi

katadata.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

Dua pabrik gula rafinasi di Indonesia disebut terpaksa menghentikan produksi akibat tersendatnya penerbitan izin impor bahan baku dari pemerintah. 

Sumber Bloomberg yang mengetahui situasi itu, mengatakan bahwa penghentian operasi terjadi setelah stok gula mentah di pabrik habis sejak akhir tahun lalu dan perusahaan belum dapat membeli pasokan baru. 

Kondisi itu disebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan gula bagi industri makanan dan minuman, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri ketika permintaan meningkat tajam. Sebab, Indonesia tercatat merupakan importir gula terbesar kedua di dunia. 

Ketergantungan pada bahan baku impor membuat kelambatan perizinan langsung berdampak pada aktivitas produksi di dalam negeri. Jika kondisi ini berlarut, industri makanan dan minuman dikhawatirkan kesulitan memperoleh bahan baku yang cukup.

Potensi krisis pasokan datang pada momentum sensitif karena tahun ini Idulfitri diperkirakan jatuh pada Maret, periode di mana konsumsi gula biasanya mencapai puncak.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyebut Januari–Februari merupakan masa kritis karena cadangan gula umumnya berada di titik terendah.

 “Jika distribusi impor tidak segera lancar, ini bisa menjadi periode yang sangat krusial bagi industri,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg (10/2). 

Pemerintah mengontrol ketat volume impor gula rafinasi. Pada 30 Desember 2025, kuota impor industri untuk 2026 ditetapkan sebesar 3,12 juta ton. 

Namun proses penerbitan rekomendasi teknis oleh Kementerian Perindustrian untuk pengajuan izin di Kementerian Perdagangan mengalami keterlambatan dan belum diketahui penyebab pastinya.

CEO perusahaan pialang Deepcore yang berbasis di Paris, Arnaud Lorioz, menilai kebijakan impor Indonesia menjadi salah satu faktor penentu permintaan gula regional. “Selama satu dekade terakhir Indonesia merupakan pembeli besar gula mentah dari Brasil, Australia, dan Thailand. Namun sejak tahun lalu arus perdagangan itu terganggu total,” katanya.

Analis Covrig Analytics, Claudiu Covrig, menambahkan rendahnya stok domestik dan ketidakpastian alokasi untuk industri menjadi perhatian utama pasar global. Saat ini harga kontrak berjangka gula mentah berada di kisaran terendah dalam lima tahun akibat ekspektasi kelebihan pasokan dunia di tengah permintaan yang melambat.

Juru bicara Kementerian Perindustrian belum memberikan respons dan keterangan resmi terkait hal ini. 

Data Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menunjukkan tujuh dari 11 anggotanya baru menerima izin impor pada akhir pekan lalu.  Persetujuan itu mencakup sekitar 41% dari total kuota tahun ini. Meski demikian, sebagian izin baru terbit belakangan sehingga belum mampu mencegah terhentinya produksi di beberapa pabrik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
RUU Ekonomi Syariah untuk Atasi Tantangan Industri Keuangan Syariah
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Tempuh Jalan Damai, Pandji Pragiwaksono Tuntaskan Sanksi Adat di Tana Toraja
• 18 jam lalumatamata.com
thumb
Link Live Streaming Copa del Rey Atletico Madrid vs Barcelona: Laga Ulangan
• 2 jam lalugenpi.co
thumb
Bek MU yang Marah Besar pada Direktur Teknik Jason Wilcox Siap Ditampung Leeds United
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Terima Kunjungan KSAU Pakistan di Istana Sore Ini
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.