Liputan6.com, Jakarta - Dua tahun lalu, sekitar 2023, menyusuri Blok M Hub yang letaknya di bawah terminal Blok M, hanya ada kesunyian. Tapi hari ini, keramaian yang dulu hilang, kini kembali datang.
Bicara tentang Blok M, seperti memutar roda waktu dan membuka album foto kenangan. Di era tahun 90-an, kawasan ini adalah magnet. Daya tariknya sangat besar. Menjadi tempat nongkrong anak muda ibu kota. Seiring waktu berjalan, nama besar Blok M sempat memudar. Tapi tak pernah ditinggalkan.
Advertisement
Lorong Blok M Hub pernah kehilangan pengunjungnya. Pasca pandemi Covid-19, deretan kios kecil yang biasanya ramai pembeli mendadak berhenti bersuara. Pemilik kios memilih menutup rolling door. Lampu-lampu di lorong, dimatikan sebagian. Hanya menyisakan sedikit cahaya di ujung pandangan.
Setahun kemudian. Tahun 2024, Blok M mencoba bangkit kembali dari kesunyian. Kios-kios dengan pemilik baru mulai tumbuh perlahan. Membangkitkan kembali kejayaan nama besar Blok M. Sempat ramai, tapi tak bertahan lama.
Lagi-lagi, keramaian Blok M Hub hilang perlahan. Pemilik kios memilih angkat kaki. Mereka menyerah. Tak sanggup meladeni harga sewa kios yang mencekik. Seorang pedagang yang masih bertahan merasakan perbedaan yang cukup drastis.
“Dulu ramai, apalagi malam. Setelah harga naik, banyak yang tutup. Pengunjung juga jadi berkurang,” ujar pedagang yang enggan menyebutkan namanya, Rabu (11/2/2026).
Kesunyian adalah ujian bagi Blok M Hub. Tapi predikat sebagai kawasan legendaris adalah kekuatan yang membuat Blok M bertahan dan kembali berdiri. Beberapa bulan setelah sempat sepi, lorong Blok M Hub kini kembali dipadati pengunjung.
Dari siang hingga malam, langkah kaki tak pernah benar-benar berhenti. Antrean terlihat di depan kios-kios kecil. Orang-orang bersabar mengambil giliran. Ada yang mencicipi kudapan, ada pula yang berburu bisana kekinian.
Blok M hub mencoba kembali ke masa kejayaan. Lampu-lampu kini lebih terang. Aroma makanan bercampur tawa dan keceriaan pengunjung.
Keramaian langkah kaki pengunjung Blok M hub diikuti kembalinya harapan pedagang. Beberapa kios yang sempat kosong kini terisi kembali, baik oleh pedagang lama maupun wajah baru yang mencoba mencari rezeki.
“Sekarang mulai ramai lagi, apalagi sore ke malam dan hari libur. Kadang sampai antre berjam jam,” kata salah satu pedagang.



